Bagian 11

1072 Words
“Pertandingan dimulai!” Seruan wasit membahana, membuat para penonton bersorak girang dan bertepuk tangan. Sementara itu, di arena, kedua pangeran menghunus pedang. Bunyi besi beradu membuat ngilu. Pangeran Fayruza terdorong ke belakang beberapa langkah. Sebenarnya, dia sudah cukup kesulitan mengangkat pedang, bahkan harus menggunakan dua tangan. Entah kenapa keadaannya memang terlihat kurang baik. Wajah tampan dengan sorot mata lembut itu tampak kuyu dan lelah. Pangeran Ardavan menyeringai melihat adiknya terdesak. Dia langsung melancarkan serangan bertubi-tubi. Punggung Pangeran Fayruza hampir saja tertebas. Untunglah, dia berhasil menghindar.  Namun, baru saja Pangeran Fayruza bernapas sejenak, Pangeran Ardavan kembali merangsek maju. Satu sabetan pedang berhasil menyayat lengan baju zirah. Sorakan penonton membahana. "Pangeran Ardavan!" "Pangeran Fayruza jangan mau kalah!" Gulzar Heer menggemeletukkan gigi. ”Ck! Pangeran Fayruza bisa dalam bahaya.” “Tenanglah, Gulzar. Fayruza pasti bisa bertahan.” Putri Arezha berusaha mengibur Gulzar Heer meskipun hatinya sendiri kalut. Dilihat dari segi mana pun, Pangeran Ardavan bukan bertarung layaknya kompetisi, tetapi seolah akan membunuh sang adik. Putri Arezha mengalihkan lagi pandangan ke arena sambil meremas jemari. Pangeran Fayruza tampak semakin terdesak dan kewalahan. Tak ada satu pun serangan berhasil dilancarkan karena gerakan cepat Pangeran Ardavan. Dia kembali terpojok, hanya bisa menangkis sabetan pedang, bahkan semakin lama semakin memperlihatkan celah. Gulzar Heer mencengkeram sandaran kursi yang diduduki Putri Arezha hingga gompal. "Ugh!" Pangeran Fayruza mendadak terduduk lemas. Sepertinya, staminanya sudah terkuras habis. Pangeran Ardavan tentu tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia melompat dengan pedang terhunus ke arah sang adik. Traang! Pedang Pangeran Ardavan terlepas dari genggaman, terlempar dan berputar di udara tiga kali, lalu tertancap di tanah. Tentu saja, Pangeran Fayruza tidak mungkin mendadak hebat dalam sekejap. Saat genting, Gulzar Heer refleks melompat turun, berlari menuju arena pertandingan, dan menangkis serangan Pangeran Ardavan tepat waktu. Sorakan bernada kesal menggema. Kemunculan Gulzar Heer dianggap menganggu jalannya kompetisi. Wasit segera mengangkat tangan untuk mengambil alih kendali dan menenangkan massa. Ketika suasana sudah kembali tenang, wasit berseru, “Pangeran Fayruza didiskualifikasi karena mendapat bantuan dari luar. Pertandingan pertama dimenangkan oleh Pangeran Ardavan!” Wasit mengangkat tangan Pangeran Ardavan. Sorak-sorai kembali terdengar. Para penonton begitu gegap-gempita, tak menyadari sorot mata kesal sang pemenang. Ya, rencananya membunuh adik sendiri melalui kompetisi telah gagal. Sementara itu, Pangeran Fayruza menekan kening yang berdenyut. Tubuhnya terasa lemas. Perlahan, dia merosot.  “Pangeran!” seru Gulzar Heer panik. *** Pangeran Fayruza membuka mata perlahan, lalu menatap sekeliling. Ada tiga gadis bersamanya dalam tenda pengobatan. Putri Arezha dan Putri Manvash yang menatap cemas serta Shirin yang tengah melakukan teknik penyembuhan.  “Di mana, Gulzar?” gumam Pangeran Fayruza lirih setelah proses penyembuhan selesai. Dia berusaha duduk, hampir oleng. Putri Arezha segera membantu sang adik. Putri Manvash meremas jemari. Sepertinya, gadis itu hendak turut membantu, tetapi terhalang tata krama sebagai seorang putri. “Katanya, ada suara mencurigakan di sekitar tenda. Jadi, dia pergi memeriksa. “Hening sejenak sebelum Putri Arezha menatap tajam penuh selidik. “Apa yang terjadi padamu, Fayruza? Biasanya, kemampuanmu tidak seburuk tadi?” cecarnya. Pangeran Fayruza mengalihkan pandangan, seolah menghindari tatapan mata kakaknya. “Aku hanya kurang tidur, Kak.” “Kurang tidur? Aneh, bukankah pelayanan dari Kerajaan Khaz benar-benar baik?” “Ah, sudahlah, Kak, aku juga tidak berniat memenangkan kompetisi. Kakak tahu, kan, aku hanya ingin menikah dengan Gulzar.” Putri Manvash terperanjat. Hatinya serasa terbakar. Tadinya, dia sempat bahagia karena Pangeran Fayruza gagal di pertandingan pertama dan tidak akan mempersunting Putri Kheva. Namun, sang pangeran ternyata sudah memiliki tambatan hati lain. Tanpa sadar, jemari halus terkepal kuat. “Maaf, Tuan Putri, bolehkah hamba permisi sebentar?” celetuk Shirin memecahkan keheningan. “Ah tentu saja, Shirin.” Si pelayan membungkukkan badan sebelum bergegas keluar. Kini, Putri Arezha menatap adiknya dengan sorot mata penuh selidik. Pangeran Fayruza yang tampak menghindar semakin mencuatkan kecurigaan dalam hatinya. Dia menyeringai, lalu dengan gesit mengenggam tangan sang adik. Pangeran Fayruza tergagap, hendak melepaskan diri, tetapi sudah terlambat. Putri Arezha memiliki kemampuan spesial. Dia bisa membaca ingatan masa lalu seseorang atau membangkitkan kenangan dari suatu benda. Tak lama hingga kejadian semalam tergambar jelas dalam penglihatan sang Putri. Gulzar Heer berdiri tegap di samping tempat tidur Pangeran Fayruza. Matanya menyorot tajam ke seluruh penjuru. Tiga ekor tikus yang tak sengaja melintas di luar jendela juga menjadi korban hanya karena dianggap mengganggu tidur Pangeran Fayruza. Gadis itu  tak menyadari, dialah faktor yang paling menganggu tidur sang pangeran. Tawa Putri Arezha pun lepas. “Ya ampun, Fayruza, harusnya kau terkam saja dia sekalian.” “Jangan bicara yang tidak-tidak, Kak, aku dan Gulzar–” Kata-kata Pangeran Fayruza terhenti. Pintu tenda tersingkap. Gulzar Heer masuk dengan kening berkerut. Putri Manvash refleks melirik sinis.  Gulzar Heer melangkah mantap ke hadapan Pangeran Fayruza. “Anda memanggil hamba, Pangeran?” cetusnya. “Bukan, bukan, itu ....” “Dia hanya malu, Gulzar. Gara-gara kamu berjaga semalam di kamarnya, dia jadi tidak bisa tidur. Untung saja, kamu tidak diterkam.” Pangeran Fayruza mendelik. Namun, Putri Arezha malah semakin semangat menggoda. Putri Manvash terbakar amarah. Dalam bayangannya, Gulzar Heer tengah menggoda Pangeran Fayruza di dalam kamar saat berduaan. Sementara itu, Gulzar Heer hanya menatap datar, seolah tak ada yang salah dengan tindakannya. “Hamba hanya melaksanakan tugas untuk menjaga Pangeran Fayruza.” Putri Manvash tidak bisa menahan gejolak emosi, refleks berseru, “Tapi, kan, kalian adalah laki-laki dan wanita, bisa saja terjadi sesuatu jika berduaan semalaman!” Gulzar Heer menaikkan alis dan menatap Pangeran Fayruza. “Memangnya Pangeran mengganggap hamba wanita?” tanyanya ringan. Dia memang menyimpan perasaan pada sang pangeran, tetapi tak pernah berpikir rasa itu akan mendapatkan balasan. Wajah Pangeran Fayruza langsung memerah, mungkin tengah kesal bercampur malu. Putri Arezha susah payah menahan tawa. Gulzar Heer masih menatap datar. Pangeran Fayruza berseru kesal, “Tentu saja, Gulzar! Tentu saja kamu adalah wanita di mataku! Bahkan sebenarnya, aku aku aku–” “Nona Kesatria!” Putri Manvash cepat memotong ucapan Pangeran Fayruza.  Sepertinya, dia menyadari pemuda itu hendak menyatakan perasaan. Putri Arezha seketika mendelik tajam. Suasana menjadi hening beberapa saat. “Ada apa, Tuan Putri?” celetuk Gulzar Heer memecahkan keheningan. “Ah, itu, ada sesuatu di pipimu!” Gulzar menyentuh pipinya, ada bercak darah.  “Ah, tadi ada pembunuh bayaran yang mengincar Pangeran Fayruza lagi, jadi hamba membereskannya,” cetusnya sembari menyeka pipi dengan kasar. Gulzar Heer lalu mengalihkan pandangan kepada Pangeran Fayruza. Dia seperti hendak berbicara. Namun,  Shirin mendadak masuk ke tenda dengan raut wajah panik. “Gawat!” “Apanya yang gawat, Shirin?” tanya Putri Arezha. “Pangeran Heydar ....” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD