Bagian 15

1063 Words
"Ck! Apa semuanya akan baik-baik saja? Bagaimana kalau gagal ...." Putri Kheva menggigiti ujung kuku. Dia juga mondar-mandir dalam kamar dan beberapa kali hampir menubruk dinding. Putri Manvash terkekeh, lalu membimbing sang kakak untuk duduk di tepian tempat tidur. “Tenang saja, Kak, pasti akan berjalan lancar. Kita tunggu saja dengan sabar di sini. Besok, pasti akan ada kehebohan di istana,” cetusnya. Bibir kemerahan menyeringai, membuat kesan manis di wajah Putri Manvash raib entah ke mana. Ya, malam ini, rencana busuk akan dijalankan, memfitnah Gulzar Heer dan Shirin. Dua gadis itu akan dibuat tertidur, lalu dinodai lelaki jahat yang disewa Putri Manvash. Namun, kejadiannya akan dibuat seolah terjadi atas dasar suka sama suka sehingga mereka berharap akan menghancurkan kepercayaan Pangeran Heydar dan Pangeran Fayruza. “Apa akan berhasil? Si kesatria memang bisa dibuat tertidur dengan sihir, tapi, pelayan itu bisa saja punya perlindungan sihir seperti Pangeran Fayruza. Dia juga pengendali elemen air, bukan?” Putri Kheva meremas jemari. Seringaian jahat Putri Manvash semakin lebar. “Iya, Kak. Dia bisa melakukan perlindungan, makanya aku menyogok teman sekamarnya untuk memberi obat tidur. Kakak tenang saja, rencanaku ini sudah rapi sekali.” Putri Kheva terbelalak. Dia refleks menutup mulutnya. Jemari halus sedikit gemetar melihat seringaian di sudut bibir Putri Manvash. “Apakah tindakan ini tidak terlalu berlebihan?” gumamnya dalam hati. *** Malam semakin larut. Putri Arezha melangkah gontai menuju kamarnya. Dia baru saja selesai rapat pribadi dengan Raja Faryzan. Mereka membahas hal-hal genting, salah satunya p*********n di pernikahan Pangeran Ardavan. Dalang sebenarnya belum ditemukan. Pangeran Ardavan malah mengeluarkan pernyataan bahwa putra dari selir kelima menunjukkan gelagat mencurigakan. Entah dari mana, si putra mahkota mendapatkan bukti-bukti yang seolah menguatkan tuduhannya kepada putra selir. “Ck! Susah sekali membuktikan kejahatanmu, Ardavan,” keluh Putri Arezha. Dia menghela napas berat. “Kyaaa!” Jeritan histeris membuyarkan lamunan sang putri. Bruuk! Putri Arezha melongo. Sementara sosok yang menabraknya langsung bersujud dan memohon ampun berkali-kali. Ya, Shirin dengan pakaian tidur acak-acakan memang tengah berurai air mata di hadapannya. Putri Arezha memaksa pelayannya untuk berhenti bersujud. Dia tersenyum dan bergumam lembut, “Ada apa denganmu, Shirin? Kenapa kamu sampai seperti ini?” “Hamba takut, Putri, ada hantu di kamar hamba! Hantu yang sangat mengerikan! Hamba ... hamba ....” Putri Arezha tergelak. “Mana mungkin ada hal seperti itu. Mungkin kamu bermimpi buruk, Shirin.” Tawa sang putri terhenti. Wajah pucat Shirin menumbuhkan rasa iba. Sorot mata yang lesu terasa aneh. Tubuh kurus si pelayan juga sampai gemetar hebat dan dibanjiri keringat. Putri Arezha memutar otak. Dia tersenyum saat mendapat ide bagus. “Ah, begini saja! Jika kamu takut tidur di kamarmu, bagaimana kalau kamu tidur di kamarku saja?” tawarnya. Shirin refleks menggeleng. “Hamba tidak mungkin berbuat tidak sopan.” Putri Arezha memasang wajah nakal. Seringaian jail terukir di sudut bibir. Dia mendadak menarik Shirin menuju kamarnya. Pelayan berwajah polos itu menjadi panik. “Tuan Putri, tunggu! Ini tidak benar! Saya tidak boleh berbuat tidak sopan!” “Ini perintah!” tegas Putri Arezha. Shirin tak berani lagi buka mulut. Dia hanya bisa pasrah bahkan ketika dipaksa duduk di tepian tempat tidur. Putri Arezha meraih tangan Shirin, lalu mengenggamnya dengan lembut. “Ceritakan padaku apa yang terjadi, Shirin?” Shirin malah terisak. Tubuhnya berguncang-guncang pelan. Putri Arezha sabar menunggu sembari mengusap lembut punggung pelayan kesayangan. Setelah perasaannya jauh lebih baik, Shirin menggumam dengan suara yang terdengar lemas, “Entahlah, Putri. Awalnya, teman sekamar hamba menawarkan teh yang dia bawa dari kampung halaman. Rasanya, memang enak sekali.” Shirin mengatur napas. Dia terlihat sangat kelelahan. Sorot matanya juga kuyu, seolah mengantuk berat. “Tapi, setelah itu, makhluk besar bersisik hitam tiba-tiba muncul. Matanya merah seperti darah, sangat mengerikan. Energi saya seolah terkuras dan tubuh menjadi lemas. Saya berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaga dan kabur dari sana.” “Jadi, kamu merasa aneh setelah minum teh dan–” Shirin terkulai lemas. Tubuhnya merosot dalam dekapan Putri Arezha. “Shirin! Shirin!” Putri Arezha menguncang-guncang tubuh pelayannya. Dengkuran halus terdengar samar. Sang putri seketika menghela napas lega karena Shirin hanya tertidur. “Hmm ... teh dan halusinasi? Sepertinya, ada yang sengaja ingin mencelakakanmu. Teman sekamarmu harus dihukum seberat-beratnya, Shirin,” desis Putri Arezha dengan gigi bergemeletuk. *** Sementara itu, penjahat kiriman Putri Manvash telah menyusup ke kamar Shirin. Dia menyeringai melihat gadis yang terbaring di kasur. Namun, lelaki berkumis tebal itu seketika terjungkal ke belakang. Bagaimana tidak? Gadis yang terbaring itu dalam kondisi tidak biasa. Tubuhnya kurus bagaikan hanya tulang berbalut kulit. Mata bundar melotot seolah akan keluar dari tempatnya. Mulutnya terbuka lebar dengan lidah menjulur. Aroma bangkai tercium kuat hingga membuat muntah. Si penjahat baru saja hendak bangkit dan kabur dari kamar itu. Namun, kakinya kembali lemas dan terduduk. Dia bahkan sampai terkencing-kencing. Matanya terpaku ke satu arah, makhluk bersisik hitam dengan mata semerah darah yang tengah menyeringai lebar, seolah siap memangsa. “O-or–“ Darah menyembur ke udara. Cakar beracun telah menembus jantung lelaki berkumis tebal. Orcharna, makhluk mitologi yang mengerikan itu menggigit bagian leher. Perlahan, tubuh si penjahat mengempis, tinggal tulang. *** Gulzar Heer mendengkur dengan keras saat sosok bejubah hitam menyelinap dari jendela. Penyihir tampan yang sebelumnya membaca mantra penidur itu melangkah dengan hati-hati. Dia sempat meminum botol berisi ramuan sebelum duduk di tepian tempat tidur. “Hadiah untuk pekerjaan berat memang istimewa. Tidak sia-sia energiku terkuras untuk menghancurkan perlindungan peri pada gadis ini. Dia sangat cantik,” celetuk penyihir tampan itu sembari menyentuh pipi Gulzar Heer. “s**l!” u*****n kasar membuatnya terperanjat. Dia menghela napas lega saat melihat target masih terpejam. “Ck! Nona cantik kau membuatku kaget, tapi tenang saja setelah ini aku akan membawamu ke surga.” Seringaian terukir di sudut bibir. Tangan dengan kuku-kuku panjang kehitaman perlahan membuka kancing baju. Penyihir itu kembali menyentuh pipi Gulzar Heer. “Ayo, bersenang-senang, Say–” Kata-kata penyihir terhenti. Gulzar Heer mendadak memeluk lehernya, membuat wajah tampan semringah. Namun, tak lama. Tanpa aba-aba, Gulzar Heer memutar leher si penyihir hingga menimbulkan bunyi mengerikan. Tak hanya sampai di situ, dia juga membanting korban ke lantai dengan posisi kepala menghadap ke bawah. Craak! Perlahan, darah merembes dari batok kepala yang retak. Gulzar Heer melepaskan lawannya, lalu berdiri masih dengan mata terpejam. Setelah itu, dia kembali bergelung dalam selimut. “Ah, aku sudah mendapat banyak bozkou hari ini, kami akan punya banyak cadangan makanan,” gumamnya sembari menggaruk-garuk p****t. Tak lama dengkuran keras kembali terdengar. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD