“Apa?” Teriakan Pangeran Ardavan menggelegar setelah mendapat laporan dari pemuda berpakaian serba hitam.
Pemuda itu adalah mata-mata yang diutus untuk mengamati kondisi rakyat. Dia melaporkan pamor Pangeran Fayruza yang semakin melejit. Bahkan, ada rumor dukungan beberapa kelompok agar pangeran ketiga tersebut bisa dinobatkan menjadi putra mahkota meskipun harus melawan tradisi turun-temurun.
“Maaf, Pangeran. Begitulah informasi yang hamba dapatkan,” sahut si mata-mata.
“Argggh!”
Pangeran Ardavan meraih patung emas penghargaan kompetisi berpedang dan melemparkannya. Pemuda mata-mata memiringkan kepala ke kiri. Patung emas melewati sisi kanan tubuhnya dengan kecepatan tinggi, lalu menubruk tembok, menimbulkan retakan cukup panjang sebelum jatuh ke lantai.
“Bagaimana bisa mereka lebih mendukung Fayruza yang hanya membagikan makanan? Aku sudah membagikan banyak harta untuk rakya jelata s****n itu!” umpat Pangeran Ardavan.
“Mereka menganggap Pangeran Fayruza lebih tulus karena menyembunyikan identitas setiap melakukan kegiatan amal,” jelas si mata-mata.
“Cih! Rupanya, cerdik juga dia! Aku harus menyusun rencana baru untuk membuatnya tumbang!"
Pangeran Ardavan mengempaskan p****t ke kursi. Dia mengacak-ngacak rambut, lalu mengumpat kasar. Namun, kekesalannya mendadak raib saat melihat dokumen di meja, daftar persiapan pernikahan. Seringaian terukir di sudut bibir. Dia memberi isyarat kepada si mata-mata agar mendekat.
Saat pemuda itu sudah berdiri di hadapannya, Pangeran Ardavan membisikkan rencana.
“Kali ini lakukan dengan sempurna. Jangan ada kesalahan!” tegasnya, sebelum menyuruh si mata-mata pergi.
***
Rona bahagia menghiasi wajah sosok-sosok berpakaian mewah di aula utama istana Kerajaan Arion. Decak kagum tak henti dari bibir-bibir mereka. Siapa yang tak akan terpesona dengan kemegahan pesta pernikahan pangeran dan putri dari dua kerajaan terkaya di dunia.
Aroma mawar putih dekorasi menyegarkan penciuman. Batu-batu permata bernilai tinggi memancarkan kemilau yang membuat mata tak ingin beralih. Pemusik-pemusik terbaik dihadirkan. Tentu saja, pemeran utama pesta, Pangeran Ardavan dan Putri Kheva jauh lebih memesona. Busana pengantin berlapis emas dan bertabur permata langka sungguh memanjakan mata.
Penampilan putra dan putri Raja Faryzan yang lain pun tak kalah mewah. Bahkan Pangeran Fayruza dipaksa mengenakan pakaian dari sutra dan bertabur serbuk emas. Dia terlihat lebih gagah. Putri Manvash beberapa kali mencoba menarik perhatiannya, membuat wajah Raja Faryzan yang mengamati dari singgasana berubah semringah.
“Sepertinya, Putri Manvash menyukai Fayruza, ini kesempatan bagus,” celetuknya.
“Jangan bertindak gegabah, Yang Mulia. Biarkan Fayruza menikah dengan wanita yang dicintainya,” sahut Putri Arezha.
“Fayruza pasti juga mencintai Putri Manvash. Siapa yang tidak jatuh cinta dengan gadis secantik Putri Manvash?” Ratu Azanie ikut menimpali.
Putri Arezha terkekeh. “Putri-putri dari Kerajaan Khaz memang sangat cantik. Rambut kemilau seperti emas, mata biru bagaikan laut. Sayangnya, masih kalah cantik dari gadis pujaan hati Fayruza. Kukira seharusnya gadis ini dinobatkan menjadi yang paling cantik di dunia.”
Raja Faryzan dan Ratu Azanie kompak mengerutkan kening. “Siapa yang kamu maksud, Arezha?” cecar keduanya bersamaan.
Putri Arezha menyengir lebar, sebelum bergumam pelan, “Cobalah Ayah dan Ibu amati ke mana Fayruza memandang.”
Raja Faryzan dan Ratu Azanie mengalihkan pandangan kepada Pangeran Fayruza. Keduanya seketika terperanjat. Meskipun Putri Manvash terus mengajak bicara, sang pangeran tak terlalu memperhatikan, malah melirik Gulzar Heer yang berdiri tegap di sebelahnya dengan mata berbinar. Sang kesatria pun kadang mencuri pandang dengan pipi sedikit bersemu.
Raja Faryzan tergelak. “Ah, aku tidak sadar! Kamu benar juga, Arezha, Gulzar memang lebih cantik. Ayah tidak sadar karena dia lebih terkenal dengan kemampuan berpedang daripada kecantikannya. Baguslah, kita bisa segera merencanakan pernikahan mereka.”
“Tidak, Yang Mulia!” seru Ratu Azanie. “Bagaimana bisa putraku menikah bukan dengan wanita bangsawan?”
“Gulzar, kan, sudah mendapat gelar bangsawan karena jasanya, Ibu,” sahut Putri Arezha.
“Iya, Ratu. Gulzar adalah pilihan terbaik. Pangeran Fayruza yang sering terancam bahaya akan aman jika memiliki istri sekuat dia,” timpal Raja Faryzan.
Ratu Azanie masih tak terima. Namun, Raja Faryzan tak peduli. Dia tak mengacuhkan sang ratu dan meneruskan obrolan dengan putrinya.
“Apa kamu punya rencana untuk membuat hubungan mereka menjadi lebih berkembang, Arezha?”
“Saat ini, kita biarkan Fayruza berusaha sendiri dulu. Ada kemungkinan Gulzar akan menolak karena menganggap dirinya tak pantas. Jika itu terjadi, bantuan Ayah akan sangat diperlukan."
Raja Faryzan mengerutkan kening, "Bantuan Ayah?" tanyanya.
Putri Arezha tersenyum manin. "Iya. Ayah bisa mengeluarkan perintah kepada Gulzar untuk menikah dengan Fayruza.”
Raja Faryzan mengangguk-angguk dengan mata berbinar. Mereka pun menyusun rencana untuk menikahkan Pangeran Fayruza. Omelan Ratu Azanie tak dipedulikan.
Sementara itu, di pelaminan Pangeran Ardavan menatap dalam Putri Kheva, lalu meraih jemari nan halus. “Aku beruntung sekali bisa mempersunting putri sesempurna dirimu, Kheva.”
Pangeran Ardavan mengecup punggung tangan Putri Kheva. Matanya mengerling nakal. Sementara senyuman menawan tersungging di sudut bibir.
Biasanya, para gadis akan bertekuk lutut dalam 5 detik. Namun, Putri Kheva justru tersenyum dipaksakan. Hatinya sudah terlanjur tertambat pada Pangeran Heydar. Sayangnya, sang putri harus menjaga martabat Kerajaan Khaz. Dia menarik tangannya sembari berpura-pura tersenyum malu-malu.
“Justru, sayalah yang beruntung, Yang Mulia.”
Pangeran Ardavan tergelak. Ada sorot angkuh dalam tatapannya. Putri Kheva mengepalkan tangan. Rasa ingin menampar pipi seseorang meluap-luap dalam d**a.
“Malam ini indah sekali, apalagi akan ada ‘pertunjukan’ menarik,” celetuk Pangeran Ardavan tiba-tiba.
Putri Kheva mengerutkan kening. Dia merasakan ada makna tersembunyi di balik ucapan Pangeran Ardavan. Kecurigaan mencuat.
“Pertunjukan, Yang Mulia?”
“Iya, kau tunggulah dalam hitungan ketiga. Satu, dua, tiga!”
Penerangan aula tiba-tiba meredup hingga terasa remang-remang. Keriuhan pun terjadi, tetapi tak lama. Cahaya-cahaya kecil berpendar, perlahan membentuk formasi di udara. Para tamu undangan seketika terperangah. Terlebih, ketika formasi yang terbentuk adalah puisi cinta untuk Putri Kheva dari Pangeran Ardavan dan diakhiri dengan sketsa wajah cantik sang putri.
Tatapan iri bercampur kekaguman tergambar dari mata para gadis. Namun, hati Putri Kheva sama sekali tidak tergerak. Suami idamannya adalah lelaki kuat dan gagah, bukan romantis.
PRAANG!
Pecahan lampu-lampu kristal berserakan di lantai. Puluhan pria berpakaian hitam merangsek masuk dari jendela. Dalam sekejap, kekaguman para tamu berubah menjadi ketakutan. Kesatria-kesatria terbaik Kerajaan Arion segera menghalau para penjahat. Sebagian lagi, mengarahkan para tamu ke tempat aman.
Gulzar Heer bersiaga di dekat Pangeran Fayruza. Namun, aneh, pembunuh bayaran kali ini malah mengincar Pangeran Ardavan.
“Lindungi, Pangeran Ardavan!” perintah Farzam, pemimpin kesatria.
Srat! Trang!
Bunyi besi beradu meningkahi pertempuran sengit. Tak membutuhkan waktu lama bagi Gulzar Heer menumbangkan lawan-lawannya, hingga tersisa satu orang yang terduduk tak berdaya. Gulzar Heer hampir saja menebas kepalanya.
“Ampuni saya! Kami hanya disuruh untuk membunuh Pangeran Ardavan!” seru si penjahat tiba-tiba.
Pangeran Ardavan mengangkat tangan, memberi isyarat kepada sang kesatria untuk menghentikan aksinya. Pedang yang tadi terhunus kembali ke dalam sarung. Sebagai gantinya, Gulzar Heer mematahkan tangan dan kaki si pembunuh bayaran.
Pangeran Ardavan mendekati si penjahat.
“Siapa yang menyuruh kalian?” cecarnya.
“Pangeran Heydar dan Pangeran Fayruza,” gumam si pembunuh bayaran.
Aula utama istana Kerajaan Arion seketika menjadi riuh.
***