Kupikir perjalanan ke Bandung kali ini bisa sekalian jadi momen rehat sejenak— walau awalnya berangkat untuk urusan pekerjaan, aku berharap bisa mencuri waktu untuk liburan. Tapi kenyataannya? Sejak sore tadi, ponselku nyaris tak berhenti bergetar. Mahendra mengirim pesan hampir setiap menit, dan sekarang dia mulai menelpon lewat video call. Lagi, dan lagi. Aku menghela napas panjang sambil memandangi layar ponsel yang berkedip tak kenal lelah. Di depanku, Bu Renata tengah menikmati kopi sambil duduk santai di rooftop hotel, seolah dunia tidak sedang gaduh oleh rasa penasaran anak semata wayangnya. “Biarin aja dulu, Nak. Sesekali kamu perlu istirahat dari calon suami yang posesif itu,” ujarnya sambil melirikku singkat. Dirga yang duduk di seberang langsung terkekeh. “Setuju. Mahendra tu

