Deg! Tubuh Intan membeku kala Zein mengukungnya dari belakang. Apalagi saat ini tangannya sedang digenggam oleh Zein. Bukan hanya Intan. Seluruh orang yang ada di ruangan tersebut pun sangat terkejut. Ini kali pertama mereka melihat Zein seperti itu. Bahkan selama ini Zein seolah tak pernah ingin disentuh oleh orang lain. "Lemaskan tangannya! Jangan kaku," ucap Zein di telinga Intan. Intan bahkan dapat merasakan embusan napas hangat profesor itu. Napas Intan pun tercekat dibuatnya. Aroma tubuh Zein menguar hingga ke hidungnya. Membuat Intan semakin tidak fokus. Ia pun hanya menjawab ucapan Zein dengan anggukkan. Akhirnya Intan berusaha melemaskan tangannya. Meskipun sebenarnya saat ini yang lemas adalah lututnya. "Ini ke sini, lalu tarik ke sini," ucap Zein. Kemudian ia menarik benan

