Chapter Dua Puluh Dua

1624 Words

        Terlambat, semua sudah terlambat.         Aster ingin sekali menghajar tubuhnya sendiri yang dengan seenaknya berhenti untuk bergerak. Di saat sudah banyak korban berjatuhan, barulah kakinya bisa kembali diajak bekerja sama. “Hentikan, yah!” Dia mendekati Thomas. “Aku akan ikut bersamamu. Jadi tolong jangan sakiti teman-temanku lagi!”         “Apa sulitnya berkata seperti itu sejak tadi? Kamu membuatku hanya membuang-buang peluru.” Thomas memeriksa peluru di dalam pistolnya sebelum akhirnya memasukkan benda itu ke dalam saku celananya lagi.         “Ja-jangan, Aster,” ucap Erik terengah-engah sembari menahan rasa sakit pada lengan kanannya yang ditembus oleh peluru tajam.         Aster tidak berani memandang ke arah teman-temannya. Dia tidak ingin menyaksikan ekspresi kemarahan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD