Jangan tanya sekaget apa mereka saat mendengar penuturan Siska, terutama Arya Harsa tentunya. Dia sampai terhenyak bangun saking emosi, disodori fakta tentang kematian kedua orangnya. Namun, seketika dia mengerang kesakitan karena bekas lukanya yang masih basah berdenyut nyeri. Tubuhnya kembali ambruk ke bantal di belakangnya. Genta menggeram kesal. Minta Ruth menurunkan bagian atas ranjang pasien, lalu memeriksa bekas luka papanya. Dokter Sifa buru-buru mendekat. Menekan tombol panggilan, minta disiapkan peralatan untuk mengganti perban Arya yang basah oleh darah. “Arghhhhh …” Arya Harsa mengerang kesakitan. Nafasnya tersengal, hingga Genta memasang selang oksigen di hidungnya. “Susah banget dibilangin!” gerutu Genta membuka perban, setelah perawat datang membawa baki berisi peralatan m

