PROLOG

328 Words
Aku bukan monyet, Ibu! Bahkan jika pun iya, aku masih layak untuk dicintai... Kalimat itu tertahan di tenggorokanku. Seringkali rasanya seperti tercekik dalam sesak, menahan rasa sakit agar tak keluar menjadi kata-kata yang akan kusesali sendiri. Meski Ibu mengatakannya ketika marah, aku masih belum mengerti bagaimana mungkin aku layak disamakan dengan seekor binatang. Maafkan jika hidupku ternyata membebanimu. Seharusnya aku meminta Tuhan untuk tidak meniupkan ruhku ke rahimmu. Maafkan jika hidupmu yang sebelumnya begitu menyenangkan, berubah tak lagi sama semenjak aku ada. Suara isak tangis Ibu tidak berkurang semenjak Ayah pergi meninggalkan kami. Rumah ini seperti kehilangan cahayanya. Rumah yang dulu ada tawa, suara lantang Ayah yang berkomentar ketika mendengar berita di televisi, dan musik yang sesekali mengalun lembut dari dapur, sekarang suram... dingin... dan begitu sepi. Aku bisa mendengar dengan jelas detik jarum jam yang selaras dengan detak jantungku sendiri. Kadang-kadang aku berhitung dalam hati, mana yang berdetak lebih cepat? Jiwa kecilku ingin menangis, tak sepenuhnya paham apa yang terjadi. Tapi air mata itu tak pernah jatuh. Aku bertemu Ibu hanya ketika ia sedang menyiapkan makan. Matanya selalu sembab. Dan mata itu tak pernah menatapku. Apakah aku hantu yang tak kasat mata baginya? Dan suaraku adalah gangguan baginya. Jadi aku belajar untuk diam. Akhirnya suatu pagi Ibu keluar dari kamar dengan pakaian kerjanya yang rapi. Matanya tak lagi sembab, tapi wajah cantiknya yang terpoles make up tak bisa berbohong bahwa peristiwa itu menghancurkannya. Dan Ibu bertahan dengan caranya sendiri. Semakin hari, Ibu semakin sibuk, tenggelam dalam pekerjaan yang seringkali dibawa pulang. Tak sekali kulihat ia sedang mengetik sampai malam. Tumpukan kertas berceceran di meja makan. Semakin sibuk kulihat ia semakin bersemangat. Mata Ibu kadang menjadi lebih ramah, meski ia tak pernah berbicara padaku melebihi dua kalimat panjang. Kata Ibu, ia sedang mengejar jabatan di kantor agar hidup kami lebih baik nanti tanpa bantuan dari Ayah, dan aku tidak boleh mengeluh karena kekurangan perhatian. Untuk mengurusku dan rumah, Ibu memperkerjakan tetangga. Entah mengapa, hal itu justru melegakanku. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD