“Ini yang namanya Uday? Temennya Fadil?” tanya mamanya Asyla.
“Iya Tante,” jawabku.
“Bener loh, ganteng,” kata mamanya Asyla, yang kemudian tangannya ditepuk Asyla.
Aku tertawa. “Jadi Asyla bilang saya ganteng ya?”
“Asyla ini susah terpesona sama cowok. Jadi Nak Uday udah masuk kriterianya anak Tante nih.”
Asyla kembali menepuk lengan mamanya. “Please, Ma. Mam malu-maluin aku aja.”
“Tante katanya sakit. Apakah sekarang sudah sehat?”
“Ah Asyla ini berlebihan. Orang cuma darah tinggi aja sih. Mungkin dia ke Bandung buat ketemu kamu aja.”
Mata Asyla terbelalak karena kaget sekaligus kesal mendengar perkataan mamanya. “Ah, udah ga bener ini, nanti jadi kemana-mana,” ujar Asyla.
“Jangan dengerin mama aku. Dia cuma ga tahan pengen aku cepet-cepet nikah. Jadi dia jodohin aku sama semua orang yang dia kenal,” katanya ketika mobilku melaju menuju Merindu.
“Ga apa-apa,” aku tersenyum. “Yah bikin geer dikit sih,” candaku.
Asyla tersenyum. “Yang lama aja geernya,” ujarnya agak menggoda. “Aku suka kok.”
Aku tertawa kecil. Memandang wajahnya yang cantik sekilas, mencari getaran dalam diriku untuknya. Mungkin saja ada...
Asyla masuk ke dalam kafe. Matanya memandang berkeliling.
"Day, cozy banget kafe kamu,” serunya dengan antusias.
“Silakan pilih tempat duduk, sementara aku ke dapur sebentar,” kataku pada Asyla.
“Oke.”
Asyla pun memilih tempat duduk di sofa dekat jendela.
Ketika aku kembali dari dapur untuk menemani Asyla, mataku menangkap sosok yang akrab melewati pintu kafe. Aku menghampirinya.
“Nik,” sapaku agak terkejut melihatnya.
“Eh, hai.”
“Kamu ga bilang mau ke sini.”
“Ya, tiba-tiba aku pengen ngopi, sambil baca buku. Dan aku ga mau ganggu kerjaan kamu.”
Aku mengajak Arunika masuk, dan menuntunnya menemui Asyla. “Aku kenalkan kamu ke teman aku yuk,” ajakku pada Arunika. “Syl, perkenalkan ini Arunika, dan Nika... ini Asyla.”
“Hai,” ujar mereka berbarengan.
“Arunika.. temannya Uday ketika kuliah dulu,” ujar Arunika, menyalami Asyla.
“Oh begitu,” balas Asyla. “Aku Asyla, temannya Uday waktu di Bali. Yuk mari sini duduk sama-sama.”
“Oh engga usah. Aku dari kemarin udah niat mau baca buku koleksi Uday yang dipajang di sana.”
“Sebentar ya Syl,” aku meminta izin Asyla untuk menemani Arunika sebentar.
“Oh ya, kamu harus baca satu buku,” kataku pada Arunika, dan segera membimbingnya menuju ruang baca. Aku membawakan satu buku dan menyerahkannya pada Arunika. “Sudah baca ini?” Aku menyerahkan novel karya Leila S. Chudori yang berjudul ‘Namaku Alam’. “Ini bagus banget.”
“Kebetulan aku belum baca. Oke, aku akan baca ini,” ujarnya.
“Mau aku bawakan latte, tanpa gula, extra shot?” tanyaku, mengenal kebiasaan lamanya.
“Kalo boleh ice americano aja?”
“Oke, wait.”
Aku membawakannya ice americano, beserta dua keping cocho chips dan dia tersenyum berterima kasih.
“Jangan terganggu olehku, kasian temanmu menunggu,” katanya.
“Kalau begitu aku tinggal ya. Kalau mau apa-apa bilang aja,” kataku dengan enggan meninggalkannya.
Aku menghampiri Asyla dan disambut dengan pertanyaan. “Calon pacar.. atau mantan pacar?” Asyla bertanya.
“Sahabat,” jawabku. “Udah bertahun-tahun ga ketemu, baru ketemu lagi kemarin pas reuni.”
“Ada yang bilang, cowok cuma mau berteman dekat sama cewek yang disukainya aja.”
“Ah, kata siapa itu?” sanggahku.
“Ya, katanya...”
Aku memandang ke arah Arunika yang sudah mulai larut dalam buku yang dia baca. “Dia selalu punya pacar.. atau seseorang yang disukainya. Aku juga.”
“Hmm.. terjebak dalam friend zone?” goda Asyla.
Aku tertawa. “Itu masa lalu. Arunika sudah menikah.”
“Ooh... masih menikah?”
“Engga sih,” jawabku pelan. Entah mengapa ada perasaan terhenyak menyadari itu. Betul, Arunika sudah tidak menikah!
“Nah kan, ada kesempatan dong,” kata Asyla yang tidak dijawab olehku.
Aku mengalihkan pembicaraan. “Kamu gimana, udah punya pacar di Bali?”
“Baru putus.”
“Kenapa?”
“Ngajak nikah.”
“Emang kamu ga mau nikah?”
Asyla terdiam sejenak, lalu menjawab, “Ga gitu juga. Cuma belum nemu klik-nya buat jadi suami. Dia... apa ya? Masih agak kekanakan. Aku lebih suka yang dewasa. Aku butuh seseorang yang bisa diajak diskusi sekaligus juga bisa mengayomi, tapi bukan patriarki.”
“Hmm.. kriterianya berat.”
“Aku cari suami seumur hidup, jadi harus cocok sama aku,” katanya sambil menatapku.
“Good point,” ujarku.
Asyla memandang ke arah Arunika. “Tante aku juga cerai, dan itu proses yang berat. Dia mengalami depresi ketika menghadapi proses perceraian.”
Aku pun melihat ke arah Arunika, “Ya, pasti berat,” ucapku pelan.
Asyla menatapku, dan tersenyum.
“Kenapa?” tanyaku melihat senyumnya.
“Cinta itu terkadang butuh perjuangan,” kata Asyla.
“Hmm... Kayanya pengalaman kamu banyak nih, sampai bisa ngajarin om-om kaya aku,” kataku bercanda.
Dia tertawa.
“Aku baru sadar, kenapa kamu ga pernah punya hubungan serius di Bali, padahal banyak cewek cantik di sekeliling kamu dan suka kamu.”
“Oh ya? Jadi kenapa?” aku melontarkan pertanyaan itu dengan nada bercanda.
“Karena dia, kan?” ujar Asyla. Matanya melirik ke arah Arunika.
Aku merasa pikiranku sedikit ditelanjangi. “Kamu terlalu berspekulasi,” ujarku.
Aku tertawa lagi.
“Tapi Day, cinta itu ga harus tumbuh sekali. Kadang yang ke dua atau ke tiga tumbuh lebih subur,” ujarnya sambil tersenyum menatapku.
Aku pun tertawa. “Bener ya kamu, ngajarin om-om.”
Asyla melihat jam tangan yang dikenakannya. “Udah malam ternyata,” katanya. “Aku pulang ya, kebetulan aku ada kerjaan yang dibawa dari Bali,” ujar Asyila.
“Oke. Aku anterin kamu pulang.” Aku beranjak dari kursi, tapi Asyla menahan.
“Ga usah. Kasian temen kamu sendirian.”
“Dia emang seneng sendirian, apalagi kalau lagi baca.”
“Tapi bukan berarti harus ditinggal kan?”
“Ga apa-apa aku antar aja.”
“Ga usah, Day.”
“Tapi aku yang ajak dan jemput kamu.”
“It’s okay.”
Aku mengantar Asyla ke luar, lalu menunggunya masuk ke dalam taksi online yang dipesannya.. Setelah Asyla pulang, aku menghampiri Arunika. Aku berdiri di depannya, tapi dia bahkan tidak menyadarinya, karena terlalu asyik dengan bukunya.
Aku membawakannya segelas air putih, dan menaruh di mejanya. Barulah Arunika mendongak. “Eh, Day.” Lalu dia melihat ke arah sofa yang tadi diduduki Asyla yang kosong. “Mana temannya?”
“Sudah pulang.” Aku duduk di sebelah Arunika.
“Oh.”
“Dia bilang maaf ga pamit sama kamu, karena ga mau ganggu kamu.”
“Oh ya, gapa-apa.” Lalu Arunika melirik arlojinya. “Sudah malam ternyata. Aku juga mau pulang.”
“Ga makan dulu?”
“Kayanya engga, aku udah kenyang.” Arunika berjalan ke arah kasir, namun segera kuhentikan.
“Ga usah.”
“Yah jangan gitu, kan malu.”
“Kamu sudah bantu aku.”
“Bantu apa?”
“Menciptakan tempat ini,” jawabku. “Ga akan seperti ini kalau bukan kita buat idenya dulu.”
“Ya ampun, aku cuma mengkhayal waktu itu.”
“Dan khayalan itu sekarang aku wujudkan. Jadi terima kasih.”
“Kalau gitu aku juga berterima kasih untuk traktirannya.”
“Aku antar pulang ya?”
“Ga usah, aku bawa mobil. Harusnya kamu antar Asyla tadi. By the way, dia cantik ya, cocok loh sama kamu.”
“Hmm, apa?”
“Jangan pura-pura ga denger,” ujar Arunika sambil tertawa kecil. “Dia cantik dan keliatannya masih muda juga.”
“Kata Asyla, kamu yang cantik.” Aku berbohong. Berani sekali aku berbohong seperti itu.
“Dia salah lihat kali,” ujar Arunika tertawa. “Sudah jangan diantar, ini jam setengah sepuluh. Bukan tengah malam, Day.”
“Jangan berdebat, ayo.”
“Terus kamu pulang pake apa?”
“Gojek, bereskan?”
Arunika menggelengkan kepala. “Repotin kamu banget.”
Arunika pun mengikutiku sambil mengeluh, “Aku kan jadi ga enak sama kamu. Apa besok-besok aku ga usah ke sini lagi ya?”
“Jangan gitu,” ujarku.
Kami melaju menuju rumah Arunika.
Setengah perjalanan kami hanya saling diam.
“Nik,” ucapku pelan memecah keheningan di antara kami, lalu melirik sedikit ke arahnya. “Maaf, aku ga ada saat kamu mengalami masa sulit. Padahal kamu selalu ada waktu ayahku meninggal,” ujarku lirih.
Arunika melayangkan pandangannya ke arah jalan di sampingnya. “Masa sulit yang mana?”
“Perceraian kamu,” ujarku, meski tak yakin bahwa hal itu pantas dibicarakan saat ini, pada saat kami belum tertalu lama bertemu kembali.
Arunika memandangku. “Ga apa-apa, Day. Kadang aku merasa bodoh. Kamu sudah pernah peringatkan aku, kalau Ferry ga cocok buatku. Aku.. Dalam hati kecilku, aku pun merasa demikian. Tapi aku bahkan tidak peduli suara hatiku sendiri, apalagi mendengarkan kamu.”
Aku merasa suaranya penuh kekecewaan dan penyesalan.
“Apapun yang kamu butuhkan, jangan ragu untuk menghubungiku.”
Arunika memandang jauh ke depan Entah apa yang dipikirkannya. Mata itu selalu membuatku bertanya, apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya. Karena terkadang ia sangat diam, dan larut dalam pikirannya. “Makasih banyak, Day,” ucapnya seraya tersenyum. Senyum itu..
Jalanan kota Bandung yang mulai lengang sedikit mengecewakanku, karena aku menginginkan waktu yang lebih lama untuk bersamanya, dan mendengarkan semua yang terjadi padanya semasa kami tak lagi bertukar kabar.
Mobil Arunika yang aku kendarai membelah jalanan Bandung. Musik diputar dengan volume kecil. Suara vokalis For Revenge mengalun menyanyikan lagu ‘Permainan Menunggu’. Apakah sebagian dari hidupku hanya sebuah permainan menunggu seperti yang dikatakan lagu itu:
Kucoba menghindar
Namun tak ada tempat
Yang tak mengingatkan pada dirimu
“Day...”
“Ya? Kenapa?”
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Selalu menjadi teman yang baik, dulu ataupun sekarang.”
Aku tersenyum padanya. Teman?
Aku teringat kalimat seorang penulis dalam bukunya: “Jika seorang lelaki mengenal seorang perempuan baik, nyaris sempurna di matanya, dan mereka terpisah bukan karena saling menyakiti, namun keadaan dan situasi yang tidak memungkinkan... Maka bersiaplah.. Perempuan itu akan terus ada di hatinya…”
***