12.Pertemuan dengan yang Baru

1096 Words
Seorang wanita dengan rambut panjang berwarna hitam terurai indah, mengenakan jaket kulit krem dan syal merah maroon yang semakin memancarkan warna kulitnya yang pucat kemerahan. Matanya teduh, dengan wajah oriental itu menatapku dengan senyum tipis, tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuatku merasa diperhatikan. “Orang Indonesia juga?” tanyaku datar, agak kaget. Dia mengangguk sambil tersenyum kecil. “Iya. Kamu bukan satu-satunya yang melarikan diri ke bar ini.” lalu memberi kode kepada bartender dan memesan segelas wine putih. “Namaku Rania. Aku kerja di sini. Maksudnya, di Praha. Bukan di bar ini. Kebetulan lagi ada acara reuni kecil sama teman-teman kuliah,” jelasnya ringan sambil menyender di kursi, terlihat santai. Aku mengangguk mengerti “Nayaka.” memperkenalkan diri. Ia memiringkan kepala, matanya menyipit memperhatikan wajahku sebentar. “Kamu kelihatan… capek….lagi banyak pikiran?” Aku tak menjawab. Hanya memainkan gelas whisky di tangan, rasaku jika kembali mengingat kejadian tadi sore, rasanya aku kembali terasa hancur. “Putus cinta?” tebaknya lagi, sambil menyunggingkan senyum simpati. Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “apa aku harus bercerita dengan orang asing?” jujur, aku sedang tidak ingin berinteraksi dengan siapapun sekarang. Rania meneguk winenya pelan. “aku Rania dan kamu Nayaka, kita sudah berkenalan dan bukan orang asing lagikan…”dia tersenyum lebar. “Aku sedang enggak ingin berinteraksi dengan siapapun sekarang…” akhirnya aku jujur padanya. “ehm….kalau begitu, masalah kamu pasti berat banget deh…” lagi-lagi dia coba untuk mengetahui apa yang terjadi padaku, jujur aku benar-benar tidak nyaman. “ putus cinta? kelihatannya kamu bukan sedang stres karena kerjaan deh”dia menelisikku, dan kali ini tebakannya hampir benar. Aku yang benar-benar sudah hampir larut dengan minumanku, akhirnya mencoba untuk terbuka padanya. “benerrr kannn….” dia tertawa lega, saat melihat ekspresiku terhadap tebakannya. “ Praha itu memang kota yang romantis, tapi juga bisa jadi saksi patah hati paling dalam. Seminggu yang lalu aku baru saja melihat kekasihku berselingkuh dengan temanku, kufikir Praha akan menjadi saksi menyatunya cintaku dengan orang yang aku cintai, namun kenyataannya….” jelasnya, kulihat dia mulai menunduk, sepertinya kami merasakan hal yang hampir sama. “ya, benar-benar bukan kota yang romantis…” tambahku. Rania menoleh padaku. “Atau… Praha memang terlalu jujur. Ia membuka yang kita sembunyikan, termasuk luka dan kebenaran yang tidak kita siap lihat.” katanya, dengan wajahnya yang memerah entah karena wine-nya atau karena terlalu berat menahan sakit. Aku terdiam. Mungkin itu benar. Akhirnya, aku merasa tidak sendiri. Ada seseorang yang kisah cintanya hampir sama denganku dan Praha menjadi saksinya. Aku hanya menatapnya. Tidak menjawab. Tapi untuk pertama kalinya malam ini, aku merasa… dipahami. Ada seseorang yang tak sekadar berbasa-basi, yang tidak bertanya untuk menghakimi, tapi hanya ingin duduk bersama luka yang sama. Aku merasa punya teman certita lain, selain Zaky. Praha, kota yang dingin dan anggun, ternyata menyimpan banyak kisah yang tak pernah sempat diceritakan kepada dunia. Dan malam ini,aku dan seseorang yang memiliki kisah yang hampir sama duduk bersebelahan di sebuah bar kecil dengan musik jazz mengalun lirih, berbagi kesunyian yang tak bisa diucapkan siapa pun. Akhirnya aku merasa tidak sepenuhnya sendiri. Ada seseorang yang kisah cintanya juga patah, yang dikhianati di tempat yang sama, di kota yang sama. Mungkin ini bukan tentang pertemuan yang tidak disengaja, namun semesta ingin aku tidak merasa sendirian dengan perasaan sakit ini… bahwa bahkan dalam patah, kita bisa menemukan cermin untuk melihat diri sendiri dari sisi yang paling jujur. “Terima kasih, Rania,” ucapku pelan, akhirnya membuka suara. Ia menoleh, sedikit terkejut. “Untuk apa?” “Karena kamu bikin aku ngerasa engga sendiri….” Rania tertawa kecil, tapi matanya berkaca. “ Aku kesini juga sedang dalam pelarian” Kami diam sejenak. Di luar, salju mulai turun lagi. Lembut. Hening. Seolah menyelimuti luka-luka kami tanpa banyak bicara. Akhirnya, kami berpisah di bar itu, seakan tidak pernah kenal dan tidak pernah membicarakan apapun, seperti kami benar-benar dua orang yang sedang patah dan hanya sedang mencari pelarian. Keesokan siangnya, aku memutuskan untuk keluar. Setelah minum satu gelas whisky dan hampir membuatku tidus seharian. Udara Praha masih dingin, tapi sinar matahari perlahan menyusup di antara celah awan. Aku berjalan tanpa tujuan pasti, hanya ingin menjauh dari suasana hotel yang terlalu sesak oleh pikiranku sendiri. Lokasi hotelku bahkan berdekatan dnegan apartemen Hanum, benra-benar membuatku pusing, kala memikirkannya kembali, jujur langkah kakiku ingin menemuinya, namun pikiranku memohon untuk jangan dulu, masih butuh waktu untuk memperbaiki hatiku. Akhirnya, langkahku membawa ke sebuah kafe kecil yang tampak familiar. Aku pernah lewat sini kemarin sore, saat mencoba mencari udara segar setelah tiba. Kafe itu tidak besar, tapi ada aroma kayu manis dan kopi yang menggoda dari balik pintunya. Aku masuk. Begitu membuka pintu, lonceng kecil di atasnya berdenting. Di dalam, suasananya hangat. Musik klasik mengalun pelan dari speaker tua di pojok ruangan. Sebuah rak buku di sisi kanan dan beberapa lukisan lokal tergantung di dinding batu. Aku memilih kursi di dekat jendela. Dari sini aku bisa melihat jalanan kecil yang dilapisi salju sisa semalam. Mataku baru saja menatap ke arah luar saat suara pelan memanggil dari sisi lain ruangan. “Nayaka?” Aku menoleh. Rania. Ia berdiri di dekat meja pojok, mengenakan mantel krem yang sama seperti semalam, hanya tanpa syal merah maroonnya. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai, dan ada senyum tipis di bibirnya—tak terlalu lebar, tapi tulus. “ketemu lagi?” tanyanya sambil berjalan mendekat. Aku tersenyum samar. “ takdir mungkin sedang ingin mempertemukan kita.” “Boleh duduk?” tanyanya. Aku mengangguk. “Silakan.” Rania duduk di depanku, memesan secangkir teh chamomile pada pelayan yang lewat. Kami diam sejenak. Tapi bukan diam yang canggung, melainkan diam yang nyaman. Seolah kami sama-sama tahu bahwa pagi ini tidak perlu banyak kata. “Aku hampir enggak mengenali kamu tadi,” katanya sambil membuka mantel dan melipatnya di pangkuan. “Kamu kelihatan… lebih tenang.” Aku menarik napas pelan. “Mungkin karena sudah terlalu lelah merasa hancur.” Rania mengangguk. “Kadang, setelah hancur, kita memang hanya bisa diam. Tapi itu bukan hal buruk.” “Aku masih belum tahu harus bagaimana,” aku jujur. “Terlalu banyak hal terjadi terlalu cepat.” “Kamu ingin bicara?” tanyanya lembut. Aku menatapnya. Dan untuk sesaat, aku merasa seperti berada di tempat yang aman—tempat di mana aku bisa meletakkan beban itu sebentar saja. “Mungkin nanti,” jawabku pelan. “Tapi… terima kasih karena tidak membuatku merasa sendiri.” Rania tersenyum. “Aku juga merasa begitu.” Kami sama-sama menatap jendela. Di luar, langit Praha perlahan membiru. Kota ini memang keras, tapi mungkin… ia juga punya cara sendiri untuk mempertemukan dua jiwa yang sedang mencari arah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD