Teka-teki Perjodohan

1283 Words
Aku mempercepat langkah kakiku saat pulang dari mushola, karena orang-orang yang sedang berolahraga pagi di sekitar komplek terus mencibir dan menghinaku. Dulu aku menjadi gadis lemah lembut yang disukai banyak orang hingga aku menjadi guru di SMA Atlas setelah boyong dari pondok pesantren kemudian kuliah sampai mendapat gelar S1 di Universitas Nahdatul Ulama. Tapi, kini aku menjadi perempuan hina yang tidak pantas lagi disebut sebagai guru. Semua itu sudah berubah.  Siapa kita dihadapan Tuhan, seterhormatnya kita di depan masyarakat, dengan pangkat dan kesombongan yang kita miliki, akan menjadi sampah jika Tuhan menghukum kita, kita hanyalah debu di mata Tuhan. Ini adalah sebuah pelajaran berharga yang aku dapatkan agar tidak menjadi orang yang besar kepala dengan segala kelebihan yang dianugeraghkan oleh Tuhan. Kulihat Reyhan masih berjalan dengan santai di belakangku. Bukannya malu, dia malah menatap orang-orang yang mencibirku dengan tenang. "Wah, hebat ya orang Indonesia. Bisa menjudge sesuatu tanpa melihat kejadiannya." Reyhan menyahuti ucapan ibu-ibu berdaster yang sedang bersih-bersih di depan rumah. Ibu itu terlihat malu dengan jawaban dari Reyhan. "Eh, kok, si Bapak terhormat bisa jijik gitu, ya, ngelihat ibu guru cantik. Hmm Bapak ganteng, sih," sindir Reyhan. Bapak-bapak yang sedang joging dan baru saja menghinaku melotot ke arah Reyhan. "Istri kamu itu sok suci, padahal kelakuannya bejat." Rasanya hatiku semakin hancur mendapat perkataan seperti itu. "Hina di mata Bapak, belum tentu hina di mata Allah." Reyhan menjawab tenang. "Eh, bocah! Nggak usah sok kenal dengan Tuhan. Kelakuanmu aja kayak gitu sama gurumu yang centil itu." "Mau aku jelasin sedetail apapun kebenarannya Bapak juga nggak bakalan percaya. Tradisi ya, kalau orang benci itu hanya bisa menilai dari segi yang jelek-jelek." Karena jengah, aku berhenti melangkah dan melerai pertikaian mereka. "Reyhan!" Reyhan menoleh ke arahku sambil tersenyum. Kemudian melangkah meninggalkan bapak itu menuju ke arahku. Kami berdua kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah. Tampak matahari bersiap-siap lepas landas menyinari dunia yang kejam ini. "Nggak usah diladenin," ucapku kepada Reyhan. "Pengen aja," jawabnya tenang. "Reyhan!" "Yaudah maaf-maaf." Reyhan meminta maaf. Tak lama kemudian kami berdua sudah sampai di depan rumah. Tampak ada suara perdebatan sengit di dalam rumah. Sepertinya abi dan Umi sedang bertengkar. Tidak biasanya mereka seperti ini. Aku dan Reyhan hanya terdiam di teras rumah mendengar perdebatan abi dan umi. "Sekarang lihat, Abi, Salis tersiksa dengan pernikahan ini." Kudengar suara Umi begitu menggelegar seperti mc di microfone pelunas hutang. "Abi kira Salis benar-benar melakukan hal itu Umi. Abi shock setelah video itu viral. Abi nggak pengen Salisah terjerumus ke dalam maksyiat." Aku membekap mulutku, sementara Reyhan hanya terdiam dengan tatapan datar di sebelahku. "Kenapa Abi nggak percaya sama anak kita sendiri. Salis anak santri, Salis nggak mungkin berbohong." "Sebenarnya Abi kasihan dengan Reyhan yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya." "Tapi apa fungsinya mereka berdua menikah?! Abi nggak kasihan dengan Salis?" Suara mereka berdua begitu melengking sampai terdengar di luar rumah. Aku terisak sambil membekap mulutku. "Karena ayah Reyhan sudah berjasa dalam hidup Abi, Umi." Suara umi tidak terdengar lagi setelah Abi mengatakan itu. "Kalau tidak ada ayah Reyhan mungkin waktu itu Salisah tidak lahir ke dunia." "Umi, masih ingat kan kalau dulu Salisah harus dilahirkan secara sesar, karena Umi mengalami pendarahan terus-menerus. Abi tidak punya uang untuk membayar biaya operasi. Abi bingung mau hutang ke siapa. Sampai pada akhirnya Abi bertemu pak Burhan di masjid tak jauh dari rumah sakit. Setelah Abi cerita tentang keadaan Umi, pak Burhan dengan suka rela meminjamkan Abi uang. Waktu itu pak Burhan belum menikah, beliau bilang uang itu hasil dari menjual sawah. Dan akan pak Burhan gunakan untuk menebus biaya operasi ayahnya yang terserang penyakit dalam. Tapi ayah pak Burhan meninggal sebelum di operasi. Sehingga pak Burhan meminjamkan uang itu ke Abi. "Tapi, Abi lupa meminta nomor teleponnya dan tidak tau keberadaan pak Burhan di mana setelah proses operasi Umi selesai. Sehingga sampai sekarang Abi belum melunasi hutang-hutang Abi ke pak Burhan. Sampai 23 tahun kemudian, Abi akhirnya kembali bertemu pak Burhan karena Salisah terjerat khasus itu. Dan, ternyata Reyhan adalah anak dari pak Burhan." Aku menatap Reyhan yang menghembuskan napas lelah, kemudian kembali menguping percakapan emosional antara abi dan umi di dalam rumah. "Pak Burhan bercerita bahwa dia sudah cerai dengan ibunya Reyhan serta kisah-kisah pak Burhan lain yang menyedihkan di kampung. Sampai-sampai pak Burhan kembali ke Jakarta untuk bekerja menjadi kuli bangunan. Abi ingin membayar hutang-hutang Abi, tapi Pak Burhan menolak dan berkata bahwa lebih baik hutang itu dibayar dengan menikahkan Reyhan dengan Salis. Itu akan menjadi balas budi Abi ke pak Burhan yang paling indah. Abi setuju dan akhirnya menjodohkan Salis dengan Reyhan agar mereka berdua terhindar dari maksyiat. Waktu itu Abi pikir Salis dan Reyhan sama-sama suka sehingga Abi menyetujui itu."  Aku mengepalkan tanganku geram. Rupanya ini jawaban dari teka-teki perjodohan berlabel paksaan itu terjadi? Bukan-bukan! Ini adalah balas budi berkedok perjodohan. Aku hendak memutar kenop pintu untuk masuk ke dalam rumah dan melerai pertikaian mereka. Namun, Reyhan dengan cepat menepis tanganku lalu memberi isyarat untuk menguping pembicaraan mereka lagi. Aku menurut. "Tapi, Reyhan tidak pantas menjadi jodoh Salis, Abi. Reyhan bukan laki-laki yang disebut Salis di sepertiga malamnya. Reyhan bukan laki-laki yang didesain untuk menjadi imam yang baik. Dia juga tidak peduli dengan agamanya. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari Reyhan." Aku meringis seperti baru saja memakan jeruk nipis. Sepertinya perih sekali jika berada di posisi Reyhan. Jujur aku merasa kasihan dengan Reyhan setelah mendengar cerita abi. "Semua sudah terlanjur, Umi. Pernikahannya sudah terjadi. Abi berada dalam pilihan yang sulit, harusnya Umi mengerti posisi Abi." "Salisah akan menjadi wanita malang yang rugi dunia-akhirat. Reyhan tidak punya apa-apa untuk membahagiakan Salis. Dia tidak punya harta, agama, dan cita-cita. Kehidupan dia berbeda dengan kehidupan keluarga kita." Kulihat Reyhan memundurkan langkahnya kemudian pergi entah kemana dengan sarung dan kopiah yang masih melekat di tubuhnya. Aku menghela napas kemudian masuk ke dalam rumah hingga membuat abi dan umi kaget dengan kehadiranku. "Reyhan pergi setelah mendengar percakapan Abi dan Umi." Aku mengusap bulir bening yang entah sejak kapan menetes di pipiku. "Kemana dia?" tanya Abi dengan wajah serius. "Nggak tau." Aku menggindikan bahu. Kemudian masuk ke dalam kamar meninggalkan abi dan umi yang terlihat merasa bersalah. Aku menangis sesenggukan di dalam kamar. Mukenah yang aku kenakan terlihat basah karena dijatuhi air mata. Kenapa kehidupanku bisa berubah 180 derajat setelah video cctv itu tersebar? Rasanya aku ingin memutar waktu dan kembali ke masalalu. Aku tidak ingin berada di posisi seperti ini. Aku tidak ingin menatap masa depanku yang terlihat suram. Aku sudah bukan lagi menjadi diriku sendiri. Aku mulai membenci semua ini. Cklekk... Aku buru-buru mengusap air mata di wajahku setelah ada yang membuka pintu.  "Salisah, apa yang harus Abi lakukan?" Abi duduk di tepi ranjang tepat di sebelahku. "Aku nggak tau Abi." Aku menggeleng sambil menangis terisak-isak. Abi mengusap-usap puncak kepalaku. "Maafin Abi ya, yang sudah egois sama kamu." Aku masih terisak-isak. "Pak Burhan pernah menjadi orang yang paling berjasa dalam hidup kita. Kamu sudah dengar cerita Abi, kan?" Aku mengangguk samar. "Abi boleh minta tolong? Tolong kejar Reyhan untuk Abi. Abi harus balas budi kepada pak Burhan dengan mendidik Reyhan agar menjadi lebih baik. Kalau pak Burhan menyelamatkan nyawa kamu, setidaknya Abi bisa meluruskan hidup Reyhan lewat kamu." "Kenapa tidak Abi saja yang menikah sama Reyhan?" ucapku jengkel. "Karena kamu sudah pernah diselamatkan sama pak Burhan, Salis." Abi menghiraukan ucapanku. Sebenarnya hatiku sedikit tersentuh mendengar fakta yang terjadi. Aku merasa kasihan dengan Reyhan dan ayahnya. Tapi, apa tidak ada cara lain selain menikah untuk balas budi? Aku pengen menikah dengan kang santri bukan dengan Reyhan. "Abi antarkan kamu ke rumah Reyhan, ya?" Abi mencoba membujukku. "Tolong Abi, Salisah. Abi tidak enak dengan pak Burhan."  Aku bingung, benar-benar bingung. Tapi abi terus membujuk dan menyudutkanku. "Terserah Abi, ah! Aku mau nangis dulu!!" "Ayo Abi antarkan ke rumah Reyhan." Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD