ANDREAS EMOSI

1079 Words
“Tolong bebaskan keponakan saya, Pak. Keponakan saya tidak bersalah, Pak. Ini pasti hanya salah paham.” Setelah Yura menghubungi Hadi, pria itu langsung ke kantor polisi untuk membantu keponakannya. “Bukti-bukti sudah ada, Pak. Yura terbukti mencuri," balas polisi yang duduk di hadapan Hadi. “Lalu, bagaimana caranya agar Yura bebas dari penjara?” “Anda harus membayar jaminan sebesar 111 juta, baru Yura Malayeka bisa dibebaskan,” jawab Pak Polisi dengan entengnya seolah itu adalah nominal yang sedikit. “Apa!!” pekik Hadi dengan mata terbelalak saat mendengar nomimal yang sangat besar baginya. Ini namanya pemerasan. “Saya tidak punya uang sebanyak itu, Pak.” “Maaf, itu syarat untuk membebaskan keponakan anda. Kalau mau bebas, ya, harus bayar uang jaminan.” “Apa tidak bisa dikurangi harganya.” “Hmmm, 99 juta.” “Apa tidak bisa dikurangi lagi, itu masih terlalu besar? Saya harus cari di mana?” “Sudah pas, tidak dapat ditawar lagi. Terserah anda mau cari uang di mana, jual tanah atau perhiasan juga bisa. Yang penting uang jaminan itu harus sudah dibayar sebelum sidang berlangsung.” Hadi menghela napas berat, bingung bagaimana caranya bisa mendapatkan uang sebanyak itu. “Apa saya bisa bertemu dengan Yura?” “Tentu bisa.” *** “Kenapa kamu bisa masuk penjara, Nak?” Pria paruh baya itu memegangi pipi Yura dengan perasaan hancur. “Aku nggak nyuri, Paman. Aku dijebak. Aku nggak tahu kenapa jam tangan itu tiba-tiba ada di dalam tasku.” Yura mengadu pada pamannya dari balik jeruji besi, Yura berusaha agar tidak menangis, tapi tetap saja air mata itu mengalir tanpa bisa dicegah. “Apa suamimu tahu kamu di penjara?” Yura menggeleng, malu jika harus memberitahu Adrian, belum tentu pria itu akan percaya pada dan membantunya. “Kenapa, Nak?” “Aku malu, Paman.” “Kenapa harus malu, dia suamimu. Dia punya tanggungjawab untuk melindungimu. Siapa tahu dia bisa membebaskanmu dari penjara. Aku akan ke rumahnya sekarang.” Yura hanya bisa pasrah melihat Hadi pergi karena Yura tidak mau lama-lama mendekam dalam penjara. *** “Nyonya, ada seorang pria ingin bertemu dengan Tuan Adrian. Dia mengaku sebagai pamannya Yura.” Seorang art memberikan laporan pada Jeni yang sedang tiduran bersantai di sofa ruang tengah sambil bermain hp. Di sisi Jeni duduk seorang Nail Artist yang sedang mewarnai kukunya dengan kutex. “Suruh dia masuk,” Setelah beberapa saat menunggu, Hadi sudah berhadapan dengan Jeni. Hadi merasa tidak pantas berada di rumah mewah ini, ia juga merasa minder dengan penampilannya yang kampungan. “Siang, Besan.” Hadi duduk di sofa dengan perasaan campur aduk. “Siapa yang menyuruhmu duduk di sofa, aku tidak mau kemiskinanmu mengotori sofaku.” Hadi terhenyak dan spontan berdiri, sakit hati mendengar hinaan Jeni. Dadanya sesak melihat Jeni yang tetap rebahan, sama sekali tidak menghargai dirinya sebagai besan. “Maaf.” Hadi menunduk malu. “Mau apa kau kemari?” tanya Jeni malas sambil bermain hp dengan satu tangannya yang kukunya belum diwarnai. “Mohon maaf sebelumnya, saya datang ke sini karena saya butuh uang 99 juta.” Jeni terkekeh, “Sudah kuduga, orang miskin seperti kalian hanya datang untuk merepotkan.” Hadi mengepalkan tangannya, geram mendengar setiap hinaan besannya. Meski emosinya sudah memuncak, Hadi tetap menahan gengsi, rela menggelontorkan harga dirinya demi Yura. Hadi tidak dapat membayangkan betapa terpuruknya Yura berada di rumah ini. “Tolong bantu Yura, dia di penjara karena seseorang menjebaknya.” Hadi mengesampingkan harga dirinya demi bisa membebaskan Yura dari penjara. “Wanita itu memang pembawa masalah.” “Tolong pinjami Yura uang, cuma 99 juta.” “99 juta kau bilang cuma, 99 juta itu bukan uang yang sedikit.” “Anda orang kaya, pasti punya.” “Uangku, bukan untuk keponakanmu.” “Anda keterlaluan, Besan.Yura adalah menantu di rumah ini, dia tanggungjawab kalian.” Jeni mencebikkan bibir malas berurusan dengan hadi, tangannya melambai-lambai tanda mengusir Hadi untuk keluar dari rumahnya. Hadi menghembuskan napas frustasi, mengemis pada Jeni adalah hal yang sia-sia, hanya hinaan yang ia dapatkan. Wanita itu tidak akan mau membantu Yura. Hadi berjalan keluar dengan langkah lunglai seraya mengedarkan pandangan di halaman rumah Adrian yang luas. Ia mendapati Adrian duduk di kursi taman, membaca sebuah buku di bawah pohon rindang. Ia pun menghampiri Adrian dengan langkah tergesa-gesa. “Nak!” Adrian mendongak membalas tatapan Hadi dengan ekspresi datar. “Nak, aku hanya ingin menyampaikan kalau Yura saat ini di penjara atas tuduhan pencurian.” “Lalu?” Satu sudut alis Adrian menukik ke atas. “Nak, kamu suaminya, kamu punya tanggungjawab besar untuk melindungi istrimu.” Adrian tersenyum sarkas, perkataan Hadi terasa menggelitik di hatinya. Adrian bahkan tidak pernah menganggap Yura sebagai istrinya, sebaliknya, ia sangat membenci Yura dan ingin melihat Yura hidup menderita. “Tolong bantu bebaskan Yura, dia adalah anak yang baik dan penurut, aku percaya Yura tidak mencuri.” “Ya, aku juga percaya dia tidak mencuri.” Adrian kembali menyeringai, karena pelaku yang menjebak Yura adalah dirinya. Ia sengaja mengutus seseorang untuk menjebloskan Yura ke dalam penjara. “Pulanglah, aku akan mengirim pengacaraku untuk membebaskan Yura.” Adrian berbohong, tidak ada niat sedikit pun di pikirannya untuk membantu Yura. Ia hanya ingin menyingkirkan pria di depannya dengan cara halus. “Terimakasih banyak, Nak. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu.” *** “Aku akan menjual rumah ini,” ujar Hadi pada istrinya. “Untuk apa?” tanya Sofia dengan mata terbelalak. “Untuk membebaskan Yura dari penjara.” “Terus kita mau tinggal di mana kalau rumah ini dijual? Lagi pula, Yura sudah bukan lagi tanggungjawabmu, dia sudah menikah. Dia sudah jadi tanggungjawab suaminya.” “Kamu jangan lupa, Sofia. Rumah yang kita tempati selama ini adalah rumah peninggalan orang tua Yura, bahkan uang damai atas kematian orang tua Yura sudah aku habiskan untuk pengobatan Amira waktu kecil dan kebutuhan kita untuk sehari-hari.” “Hussss... Jangan kenceng-kenceng ngomongnya, kalau nanti kedengeran Malik dan Amira bagaimana. Aku nggak mau, ya rumah ini dijual, lagian kita udah merawat Yura sejak kecil, jadi impas.” Hadi sangat frustasi dan bingung, sudah dua minggu Yura di penjara, tapi polisi mengatakan Adrian tidak sekali pun menjenguk Yura, bahkan tidak ada pengacara yang Adrian janjikan datang membebaskan Yura. *** “Pak Andreas, lihat ini.” Asisten pribadi Andreas menunjukkan hp-nya, menayangkan video Yura yang viral karena mencuri sebuah arloji di minimarket. Keningnya Andreas mengerut, jemari yang sedari tadi menari di atas keyboard laptop kini mengepal dengan kuat, rahangnya mengeras karena luapan emosi di hatinya saat mengenali Arloji milik Adrian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD