Sore itu, hujan menggantung di langit Jakarta, seolah menunggu waktu yang tepat untuk turun. Di dalam sebuah kafe kecil bergaya industrial di bilangan Kemang, Kirana duduk sendiri di sudut dekat jendela, ditemani secangkir espresso yang sudah mendingin dan layar laptop yang penuh sketsa digital.
Design untuk rumah keluarga Hadinata hampir rampung. Ia baru saja menyelesaikan ruang tamu dan dapur—hanya master bedroom yang masih butuh detail tambahan. American Classic. Gaya yang lembut dan bersih, biru-putih yang membuat hati tenang. Tapi Kirana tak merasa tenang. Sudah dua malam ia bermimpi aneh—mimpi yang terasa terlalu nyata, seolah masa lalu sedang menyusup masuk lewat celah pikirannya.
Tiba-tiba langkah kaki berhenti di dekat mejanya. Suara yang familiar menyusup di antara denting sendok dan obrolan pengunjung.
“Sore, Na...”
Kirana mengangkat wajah. Pria itu berdiri dengan santai, mengenakan kemeja abu dan jas tipis. Senyumnya masih sama. Tapi mata itu… ada sesuatu yang berbeda. Lebih gelap. Lebih tajam.
“Hai juga… kamu… Reno? Kamu kok tahu aku di sini?”
“Yup, benar. Pertanyaan mudah. Tinggal tanya Deandra kamu di mana, selesai deh.”
Deandra—sahabat Kirana sejak kuliah. Tentu saja. Tapi Reno?
Nama itu membuat d**a Kirana menjadi sesak. Sudah sepuluh tahun sejak terakhir kali mereka bertemu. SMA. Sebuah masa yang ia simpan rapat-rapat, seperti laci yang tak ingin dibuka. Reno adalah bagian dari masa itu.
“Boleh aku duduk? Atau kamu tega biarkan aku berdiri terus begini?” ucap Reno sembari tertawa kecil, lalu menarik kursi di depannya sebelum Kirana sempat menjawab.
Kirana hanya mengangguk. Wajahnya tetap tenang, tapi pikirannya tidak.
“Kamu itu sadar nggak sih, kalau lagi kaget kamu jadi tambah cantik?”
Ucapan Reno membuat Kirana mengernyit. Bukan karena rayuan itu, tapi karena nada bicaranya. Terlalu santai. Terlalu akrab. Seolah mereka tak pernah memiliki jarak. Padahal, jarak itu nyata—dan beralasan.
Wajah Kirana mengeras. Tanpa sadar, tangannya mengepal di bawah meja.
Dan saat itu, seperti bisikan yang datang dari lorong waktu, ingatan itu kembali. Suara pintu yang dibanting. Tangisan ibu di malam hari. Dan… darah di baju putih milik ayah.
Masa kecil yang tak ingin ia kenang.
Masa kecil yang seharusnya tidak ada hubungannya dengan Reno.
Tapi mengapa perasaannya berkata sebaliknya?
Dari luar jendela, angin berhembus pelan. Tapi di dalam Kirana, badai kecil mulai terbentuk.