Kelu

1786 Words
Pagi ini Qiran masih meringkuk di bawah selimut tebalnya. Seolah enggan beranjak, dia malah mengeratkan selimutnya untuk melawan hawa dingin dari air conditioner kamarnya. Namun tiba-tiba waktu tidurnya terganggu akibat suara nyaring handphone di atas nakas. Qiran pun berdesis karena merasa terganggu. Dengan mata yang masih terpejam, jemari lentiknya meraba permukaan nakas untuk mencari handphone yang berteriak minta diangkat panggilannya. Mata gadis itu masih terasa sangat sepat. Tapi mau tidak mau Qiran harus berusaha membuka kelopak matanya untuk melihat siapa orang yang sudah mengganggu tidurnya. Calon suami idaman is calling Nama pemanggil itu sukses membuat matanya membulat sempurna. Qiran tak pernah merasa menyimpan nomor seseorang dengan nama yang alay seperti itu. Dan Calon suami? Sungguh Qiran belum punya calon suami kecuali pria yang hampir dijodohkan dengannya. Qiran pun menarik tanda hijau ke arah atas untuk menerima panggilan itu. "Hallo..." Ucap Qiran kesal. "Assalamualaikum De... Sudah bangun?" Ucap seseorang di sebrang sana. Qiran kenal betul pemilik suara ini. Benar dugaannya. Dokter aneh itu yang menyimpan namanya sendiri dengan sebutan calon suami idaman. "Waalaikum salam... Apa-apaan nih? Nama kamu di save dengan nama Calon suami idaman?" Ucap Qiran tanpa basa-basi. "Ya emang ga boleh? Bukannya aku memang calon suami idaman wanita ya? Tampan? iya! Sukses? sudah pasti! Mapan? Jelas! Pengertian? Juga iya!..." Ucap Rayza. "STOP!!! STOP!!! STOP!!! Dasar narsis. Tapi ya ga di handphone aku juga kalee... Emang kamu calon suami aku? Sana kamu tulis di handphone calon istri kamu! Ngeselin banget sih?" Ucap Qiran mengomel. Dan bagi Rayza Omelan Qiran justru malah sukses menjadi penyemangat di pagi hari. Terdengar aneh memang. Tapi itu kenyataan. Dan Omelan Qiran malah membuat Rayza terkekeh. "Sudah jangan marah-marah... Nanti cepat tua lho... Ayo bangun... Jangan lupa sholat subuh ya... Hari ini aku ingin kamu buatkan sarapan roti panggang. Dan bekalnya tolong masakkan aku ayam suwir saus tiram dan cah tahu tauge." Ucap Rayza seenaknya memesan makanan. "Aku ga bisa masak itu. Yang lain aja kenapa sih? Telur ceplok kek." Ucap Qiran menawar. "Aku udah kirim resepnya lewat WA ya. Yang enak ya masaknya... Assalamualaikum..." Ucap Rayza seenak hati langsung memutuskan panggilan teleponnya. "Waalaikum salam... Enak banget dia pagi-pagi udah pesen makanan... Gue ngumpulin nyawa aja belom sempet." Ucap Qiran kesal. Gadis itu pun segera membuka notifikasi handphonenya. Benar saja. Rayza sudah mengirim resep makanan yang dia pesan. "Hah... Udah Qiran... terima aja nasib Lo jadi pembantu." Ucap Qiran. Qiran pun segera bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Usai mandi dia segera berwudhu untuk melaksanakan sholat subuh. Tanpa sadar bibirnya membentuk lengkungan yang manis. "Sejak di sini... Gue sholat lima waktu. Ga nyangka..." Ucap Qiran bermonolog sambil memakai mukena. Usai melaksanakan sholat subuh dia pun bergegas ke dapur. Membuka lemari pendingin untuk mencari bahan-bahan untuk memasak. Dan saat dia menyentuh bawang merah emosinya kembali naik. Digenggamnya bawang itu dan ditatap dengan tajam. "Awas ya... Kalo Lo bikin gue nangis lagi... Gue bakal cincang sampai habis... Terus gue tumis di wajan panas... Biar Lo tau rasa." Ucap Qiran emosi. Entah mengapa setiap kali dia melihat bawang berkulit merah keunguan itu rasanya sangat marah. Yang jelas semua itu karena matanya terasa pedih setiap kali mengupas dan memotong bawang itu. Tapi setelahnya gadis itu tertawa sendiri. Dia merasa lucu dengan apa yang baru saja dia ucapkan. Walaupun bawang itu tak membuatnya menangis, tetap saja akan dia cincang dan tumis kan? Lama-lama bisa gila memang. Setelah satu jam berkutat dengan peralatan dapur, akhirnya ayam suwir saus tiram dan cah tahu tauge sudah bisa di sajikan. Tak lupa Qiran menyajikan bekal itu dalam lunch box untuk Rayza. Setelahnya Qiran membuatkan roti panggang isi sayuran dan daging untuk Rayza sarapan. Juga segelas jus alpukat. Rayza memang tak pernah mau sarapan menggunakan s**u. Dia beralasan jika minum s**u tak boleh dilakukan setelah atau sebelum makan karena bisa menetralisir nutrisi yang seharusnya diberikan makanan untuk tubuh. Rayza minum s**u hanya saat akan tidur itu pun harus s**u rendah lemak. Beberapa hari ini Qiran menikmati aktifitasnya. Walau terkadang dia merasa seperti seorang istri yang menyiapkan segala keperluan suaminya. Tapi biarlah. Asalkan dia tidak pulang dan berhasil membuat perjodohan gagal, Qiran sudah puas. "Wah... Sarapanku sudah siap rupanya?" Ucap Rayza sambil menarik kursi untuk dia duduki. Sedangkan Qiran hanya berdehem mengiyakan. "Terima kasih. Habis ini siap-siap antar aku berangkat kerja ya?" Ucap Rayza memerintah Qiran seenaknya. "Iya." Jawab Qiran singkat. "Ini buat bekal makan siang." Ucap Qiran memberikan sebuah lunch box kepada Rayza. Rayza pun membuka penutup lunch box tersebut untuk mengintip isinya. "Ini tak akan cukup untuk makan berdua." Ucap Rayza membatin. "Kamu masak banyak kan?" Tanya Rayza. "Iya... Tuh masih ada di kuali." Ucap Qiran menunjuk sebuah kuali yang masih bertengger di atas kompor menggunakan dagunya. Rayza pun mengikuti arah dagu Qiran. "Bungkus lagi dong." Ucap Rayza membuat Qiran mengernyitkan dahi. "Emang kamu habis makan sebanyak itu? Ini udah aku bungkus banyak lho." Ucap Qiran menepuk lunch box Rayza. "Aku kalo siang emang banyak makannya. Kan aku cape habis kerja." Ucap Rayza. "Ya tapi kalo ga habis kan mubasir..." Ucap Qiran menyanggah ucapan Rayza. "Yaudah sih... Nanti pasti habis. Kamu tinggal bungkus aja berisik banget." Ucap Rayza kesal. "Ya udah iya aku bungkus. Gitu aja marah." Ucap Qiran pergi meninggalkan Rayza menuju kitchen set untuk mengambil lunch box. Qiran pun membungkus satu bekal nasi lagi untuk Rayza. "Nih..." Ucap Qiran memberikan satu bekal lagi. "Terima kasih calon istri idaman..." Ucap Rayza membuat Qiran melotot. "Jangan bilang kontak aku kamu simpan calon istri idaman..." Ucap Qiran menahan amarahnya. "Iya dong... Romantis kan?" Jawab Rayza santai kemudian menutup sarapannya dengan meminum jus. "Ganti!!! Aku ga mau tahu pokoknya ganti!!!" Ucap Qiran membentak Rayza. "Suka-suka aku dong... Handphone handphone aku... Siap-siap gih... Aku mau berangkat nih. Ini kunci mobilnya. Aku tunggu diparkiran ya." Ucap Rayza meninggalkan Qiran yang sedang kesal. Pria itu pun mengulum senyum saat Qiran meneriakkan namanya. "Rayza!!!" Teriak Qiran kesal. Akhirnya Qiran pun ke kamar, memakai sweater Hoodie lalu berlari ke parkiran. Qiran segera menemui Rayza yang sedang bersandar di mobilnya. Pria itu tampak semakin tampan dengan jas putih yang menandakan profesinya. Apalagi saat ini Rayza sengaja memamerkan senyum menawan untuk Qiran. Senyum dengan lesung pipi di pipi kirinya. Dan hal itu sukses membuat Qiran salah tingkah. Qiran pun membuang pandangannya, karena tak mau Rayza menyadari wajahnya yang mulai merona. TIT... Qiran menekan kunci pembuka pintu otomatis. Dan dia pun segera menduduki kursi kemudi. Sukses benar menjadi seorang supir sekarang. Sedangkan Rayza duduk di kursi penumpang depan. Mereka pun pergi ke rumah sakit dalam diam. Qiran enggan memulai pembicaraan. Sedangkan Rayza sibuk dengan pikirannya. Berkali-kali dia melirik ke arah gadis pujaannya yang sedang konsentrasi menyetir. Jantungnya bergemuruh. Rayza teringat kata-kata Qiran. "Di mana-mana orang kalo ngelamar tuh bilang I love you dulu kek... Atau basa-basi dulu kek..." Ucapan itu benar-benar melekat dalam memory Rayza. Namun Rayza bingung bagaimana cara mengungkapkannya. Harus memulai dengan bicara apa. Tidak mungkinkan langsung bilang. "Qiran i love you." Bisa-bisa Qiran makin ilfil padanya. "Kamu kerja di Surya Hospital kan?" Tanya Qiran namun tak ada jawaban. "Za... Kamu kerja di Surya Hospital kan?" Tanya Qiran sekali lagi tapi masih sama. Rayza belum juga menjawab. Akhirnya Qiran pun menoleh ke arah Rayza. Dan dia melihat Rayza sedang menatapnya lekat. Hal itu membuat bulu kuduk Qiran merinding. Sungguh dia tidak rela pria itu membayangkan hal m***m padanya. Qiran pun langsung menginjak pedal rem kuat-kuat. CIIITTT... DUUGHHH... "Aaawww..." Pekik Rayza mengusap pelipisnya yang terbentur dashboard mobil. "Qiran kamu bisa nyetir ga sih?" Tanya Rayza kesal. "Dari tadi aku tuh nanya... Kamu kerja di Surya Hospital kan? Kamu ga jawab malah bengong. Mana bengong nya liatin aku lagi... Hayoo ngaku kamu pasti lagi mikir hal m***m kan sama aku? Ayo ngaku!!! Jangan kurang ajar ya... Jangan mentang-mentang aku pembantu kamu. Terus kamu membayangkan hal yang tidak-tidak tentang aku..." Ucap Qiran kembali mengomeli Rayza. Rayza pun menutup telinganya. "Ih... Berisik banget sih. Yang ada belum nikah sama kamu aku harus cek telinga ke THT." Ucap Rayza kesal. "Iiihh... Siapa juga yang mau nikah sama kamu." Ucap Qiran mencibir dengan tatapan kesal ditujukan pada Rayza. "Qi..." Ucap Rayza mengabaikan cibiran Qiran. Pria itu kembali menatap Qiran lekat. Seperti tatapan yang mengandung kasih sayang dan keinginan. Rayza benar-benar tulus mencintai Qiran. Katakanlah ini cinta pada pandangan pertama. Karena nyatanya dia sudah terpikat saat mereka bertemu pertama kali di restoran. Bahkan dalam kondisi yang sangat memalukan bagi Qiran. Merasa ditatap sedemikian rupa, Qiran kembali salah tingkah. "Liatnya biasa aja kalee..." Ucap Qiran. "Ekhm..." Rayza pun berdehem untuk menetralkan jantungnya. Mereka sama-sama salah tingkah sekarang. "Em... Tadi aku tanya... Kamu kerja di Surya Hospital kan? Kamu ga jawab." Ucap Qiran, Kali ini seperti informasi bagi Rayza. "Iya.. Qi... Aku mau bilang sesuatu sama kamu..." Ucap Rayza gugup. "Bilang apa?" Tanya Qiran dengan jantung berdebar. "I love you." Ucap Rayza masih tersimpan dalam lubuk hatinya. "Ekhm... Aku cuma mau tanya. Kamu hari ini ga kuliah ya?" Ucap Rayza membuah Qiran mendesah malas. Sungguh memalukan. Jantungnya sudah bermaraton menunggu pertanyaan Rayza. Rupanya hanya bertanya kuliah atau tidak. "Ya enggak lah. Kan aku diskors." Ucap Qiran. "Owh..." Ucap Rayza mengangguk. Entah kemana rasa percaya diri dan kecerdasannya. Yang jelas ternyata mengungkapkan perasaan itu sulit. "Udah cuma mau tanya itu?" Tanya Qiran. "Em... Ada lagi." Ucap Rayza. "Apa?" Tanya Qiran kembali melajukan mobil menuju rumah sakit tempat Rayza dinas. "Aku..." Rasanya ludah Rayza kali ini Kelu. Bahkan untuk mengatakan i love you saja tak mampu. "Aku cinta sama kamu Qi..." Ingin sekali Rayza mengatakan hal itu. Tapi debaran jantung yang menggila membuat lidahnya kaku. Bahkan jemarinya sudah seperti direndam air es. "Aku kenapa?" Tanya Qiran tak sabar. "Owh... Aku mau bilang. Hati-hati ya di rumah." Ucap Rayza ingin sekali memukul bibirnya yang tak mau bicara sesuai hatinya. "Iya... Wah udah sampai tuh. Kamu mau turun di sini atau masuk ke dalam?" Tanya Qiran. "Owh... Di sini aja." Ucap Rayza. Qiran pun segera menepikan mobilnya. Kemudian Rayza beranjak turun dari mobil. "Kamu pulang jam berapa?" Tanya Qiran. "Sore. Jam 4. Jemput lagi ya." Ucap Rayza. Qiran pun mengangguk. "Hati-hati ya..." Ucap Rayza membuat Qiran kembali mengangguk. "Tunggu Qiran..." Ucap Rayza. "Apa lagi?" Tanya Qiran malas. "Nanti sore ga usah masak ya. Kita makan malam di luar saja." Ucap Rayza membuat Qiran terkejut. Jantungnya kembali bermaraton. "Ya ampun... Kamu mau ngajak aku dinner? Ga mimpi kan aku?" Qiran membatin. "Oke! Assalamualaikum." Ucap Qiran. "Waalaikum salam." Rayza menjawab salam Qiran. Hatinya sangat bahagia. Ini adalah hati pertama dia bekerja diantar oleh sang gadis idaman. "I love you... Qiran." Ucap Rayza setelah mobilnya menjauh. Bibirnya baru terasa ringan mengatakan hal itu saat Qiran tak di dekatnya. Rayza berpikir... Mengapa rasanya untuk mengungkapkan cinta itu sulit sekali? Mungkinkah karena merasa ini terlalu cepat dengan momen yang tidak pas? Rasanya Rayza ingin mengungkapkan perasaannya dalam momen yang romantis. Semoga saja bibirnya tidak lagi kelu lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD