Aku menutup pintu mobil dengan pelan. Di depan teras, kulihat Bang Sarip sudah menunggu. Rumah Riya gelap, semua lampu sudah dimatikan, kecuali lampu teras dan lampu dapur. Maklum saja, ini sudah hampir jam 10 malam, hanya kurang beberapa menit lagi. Sepertinya kami pulang tak sesuai jadwal. Tak ada sedikit pun senyum yang ditunjukkan Bang Sarip. Mungkin ia sebenarnya tak suka, kami membawa Riya dan anak-anaknya pulang semalam ini. “Langsung baringkan aja di kasur depan TV.” Kata Bang Sarip pada Bang Roni yang sedang menggendong Hilda yang sudah tertidur sejak di mobil tadi. Sementara Ola berada dalam gendongan Riya, lunglai karena mengantuk berat. Aku mengekor Bang Roni masuk ke dalam rumah Riya yang remang. Bagaimanapun, aku yang tadi minta izin membawa mereka. Jadi, aku juga yang har

