Aku menggoyangkan tubuh Bang Roni. Awalnya pelan. Namun karena ia masih belum juga membuka mata, ku goyang tubuhnya lebih keras lagi sambil ku pukul-pukul dengan tanganku. Mungkin bawaan emosi dan benci padanya, membuatku berlaku agak kasar. Sekalian, pikirku. Sambil membangunkan, sambil menyakiti badannya. Bang Roni tersadar dan langsung memandangku saat ia membuka mata. Ia sempat menggeliat. “Kenapa Sayank? Jam berapa ini?” tanyanya. “Aku bukan Sayank kamu,” sahutku cetus. “Bangun! Semalam Riya pesan, kamu disuruh ke sana.” “Ngapain?” “Dia minta diantarkan sarapan. Terus kamu nanti juga ngantar dia ke sana-sini buat belanja baju sama beli HP baru.” Bang Roni duduk. Dengan mata yang masih tampak sepat, ia memandangiku. “Emangnya kamu bolehin?” tanyanya. “Pergi aja. Dia semalam pro

