BAB 5- Ternyata Benar

1350 Words
“Nasi kotaknya udah diantarkan?” tanyaku pada Bang Roni yang baru saja datang dengan motornya. Dia bilang habis dari warung membeli rokok. Sementara aku baru saja selesai mengaji sehabis shalat Maghrib tadi. Dengan tasbih di tangan, aku sedang menunggu adzan Isya. “Udah. Sayank yakin nih nggak mau ikut acara di TPQ? Ini kan acara Maulid di tempat anak-anak kita ngaji.” “Nggak. Aku di rumah aja. Capek, kepalaku pening.” Kataku sambil menaikkan bawahan mukena yang tadi sempat melorot. “Sayank pergi emangnya?” tanyaku, karena kulihat ia seperti hendak mengganti baju. “Pergi dong. Nggak enak kan kalau orang tua nggak ada yang datang sama sekali? Nanti anak-anak sedih.” “Tumben...” “Kok tumben?” “Iya, selama ini Sayank nggak pernah mau kalau disuruh datang ke acara seperti itu. Biarpun kubilang untuk kepentingan anak-anak. Selalu saja ada alasannya. Tapi sekarang, kok kayak semangat sekali? Bahkan tanpa disuruh. Udah ada janjian kah sama seseorang?” sindirku sinis. Aku tahu, kalau Riya pasti pergi ke acara itu. Karena kedua anaknya, Hilda dan Ola juga mengaji di TPQ yang sama dengan anak-anakku. Dan Riya sudah dipastikan datang dengan baju dan dandanannya yang heboh, serasa artis. “Salah lagi kan... Aku pergi Cuma mau gantiin Sayank. Kan harus ada salah satu wali murid yang hadir, karena sekalian ada rapat soal pengadaan Al Qur’an baru.” Aku diam, meski aku tahu bukan itu alasan sebenarnya. Aku hanya malas berdebat. “Nanti mau kubawakan nasi kotak nggak?” tanyanya seolah mengalihkan omongan. “Nggak usah. Lauk ayam yang kumasak tadi masih ada.” Ujarku sambil duduk di kursi ruang tamu yang menghadap langsung ke jalan depan rumah. Aku sudah tak lagi memikirkan makan, seleraku hilang entah ke mana. Suara adzan Isya berkumandang. Bang Roni sedang berdandan dan mematut diri di depan cermin. Dapat kucium wangi aroma parfum menyengat yang baru saja ia semprotkan ke badannya. Di depan sana, kulihat sekilas Bang Sarip, suami Riya baru saja lewat dengan sepeda motornya hendak shalat Isya ke masjid. Ini saatnya, pikirku. Aku akan membuktikan omongan Riya tentang pertemuan mereka setiap suaminya pergi shalat. Kalau memang Bang Roni juga izin turun, berarti benar apa yang dikatakannya. “Aku pergi dulu ya.” Bang Roni pamit sambil mencium punggung tanganku. Aku kaget karena itu berarti wudhu ku batal. “Wudhu aja lagi.” Katanya sebelum sempat aku protes. “Mau ke mana? Awal banget turun? Bukannya acara mulai sekitar jam 8?” “Aku mau ke tempat Mas Indra dulu, nanyain kerjaan besok.” Katanya , dan aku tahu itu hanya alasan. Dia pasti mau ke sebelah, karena suami Riya sedang keluar. Aku balik mencium tangannya dan aku antar dia sampai ke teras. Kulihat ia berbelok ke kiri, sementara rumah Riya di sebelah kanan rumah kami. Aku masuk dan menutup pintu depan. Namun aku tak langsung beranjak. Aku mengintip di balik gorden jendela kaca. Tak lama, kulihat Bang Roni lewat lagi, menuju ke arah yang berlawanan. Aku berlari ke kamar anak, mengintip dari jendela. Rumah Riya terlihat dari sini. Dari keremangan lampu teras rumah Riya dapat kulihat, Bang Roni menghentikan motornya di sana. Ia sempat menoleh kanan kiri, seperti maling yang mau beraksi. Tak lama, Bang Roni masuk ke dalam. Hatiku bergemuruh. Napasku tersengal-sengal. Kali ini, mataku mulai berair. Entah, kenapa sakit sekali. Berarti benar apa yang dikatakan Riya? “Ya Allah, apa suamiku ciuman lagi dengan perempuan itu? Apa kalau aku tetap diam di sini, artinya aku membiarkan ia bermesraan dengan wanita lain? Apakah aku bodoh? Apakah aku datangi saja ke sana? Tapi sanggupkah aku menemukan kenyataannya? Apakah aku bisa menghilangkan trauma seandainya semua yang terjadi kulihat secara langsung dan terekam jelas dalam memori otakku? Ya Allah, gimana ini? Suamiku mencium perempuan lain...” Tanpa sadar aku sampai berjalan bolak-balik dari kamar, ke dapur, ke ruang tamu, sampai kembali ke kamar lagi sambil menutup mulut dan menangis. Sakit sekali. Suamiku sekarang sedang bersama wanita lain, melakukan tindakan tak bermoral. Sementara aku di sini tak bisa berbuat apa-apa. Aku gemetaran. Sebentar berdiri, sebentar duduk. Aku kembali mengintip melalui celah kecil jendela kamar anakku, memastikan kembali keberadaan Bang Roni di rumah Riya. Dia masih di sana, karena kulihat motornya masih terparkir. Aku berlari menuju ruang tengah, mengambil ponselku di atas TV. Ku telfon nomor Bang Roni, aku harus menyuruhnya pulang. Aku tak mau ia berlama-lama sana. Sumpah aku sakit dan cemburu. Tak ada jawaban. Berkali-kali panggilan teleponku tak diangkatnya. Aku semakin panik. Seasyik itukah mereka berciuman sampai-sampai Bang Roni tak mendengar panggilan telepon dariku? Apa mereka benar-benar sangat menikmati apa yang sedang mereka lakukan sekarang? Aku berlari keluar teras. Ingin rasanya aku turun dan berlari ke rumah Riya. Namun urung karena kulihat ada beberapa orang yang keluar dari masjid tak jauh dari rumah kami. Artinya, orang shalat Isya sudah pada pulang. Dan sebentar lagi suami Riya juga pulang. Akhirnya kuputuskan untuk duduk menunggu di kursi teras. Benar saja, tak lama Bang Roni keluar dari rumah Riya dengan terburu-buru. Ia menghidupkan motor dan kembali menuju rumah kami. Begitu sampai di depanku, kupandangi bibirnya sambil bertanya-tanya dalam hati. Apakah Riya baru saja menikmati bibir suamiku? Apakah Riya begitu menyukai Bang Roni dan tergila-gila padanya saat melihat bagaimana tampannya ia malam ini? Meski hanya dibalut kemeja hitam panjang dan sarung, ia terlihat rupawan. Aku baru sadar, ternyata suamiku ini sangat manis kalau sudah berdandan. Bang Roni memang sangat memperhatikan penampilan. Gayanya yang seperti anak muda meski sudah memasuki pertengahan usia kepala tiga, membuat ia tampak segar dan menawan. Aku bahkan kesengsem melihatnya malam ini. “Sayank kok ada di luar? Udah shalat Isya?” tanyanya heran. “Aku nungguin Sayank.” Jawabku sambil berusaha keras agar tak menangis lagi. “Dari mana? Katanya tempat Mas Indra. Kok malah keluar dari rumah Riya? Cepat sekali, sejak kapan ada di situ?” cecarku. “Jangan curiga gitu dong. Tadi aku ke tempat Mas Indra orangnya nggak ada. Nggak lama Riya nelfon nyuruh aku ke rumahnya. Katanya ada yang mau diberikan ke Sayank.” “Apa?” “Nih...” Bang Roni mengulurkan sebuah kantong plastik hitam kecil. Kuambil dan kulihat isinya. Ternyata satu kilogram gula pasir. Tanpa sadar aku tertawa kecil. Suamiku habis dari sana dan pulang membawa gula sebagai sebuah alasan. Sementara tadi siang Riya mengakui hubungannya dengan Bang Roni dan memintaku untuk membiarkan setiap kali mereka bertemu. Jadi, ini adalah bayaran untukku? Satu kilogram gula? Segitu saja harga yang ku terima setelah aku meminjamkan suamiku padanya? Lucu sekali. Baik aku maupun Bang Roni, harga diri kami telah ia anggap murah. Padahal sebenarnya ia yang gampangan. “Kok ketawa?” “Nggak. Bilang sama dia makasih ya.” Kataku. “Sayank sendiri aja yang bilang, kan punya nomornya.” “Ya udah, nanti aku chat dia.” Kataku. “Eh, tadi Sayank ada nelfon aku kah?” tanya Bang Roni, ia baru saja mengeluarkan ponsel dari kocek kemejanya. “Iya. Tapi nggak Sayank angkat. Keasyikan kali.” Lagi-lagi aku menyindirnya. “Keasyikan apa?” tanyanya heran. “Nggak tahu. Emang Sayank tadi lagi ada di mana?” “Oh, aku tadi di jalan. Hp ku silent. Jadi nggak kedengaran kalau ada orang nelfon.” “Oh gitu. Ya udah.” Kataku malas. Bang Roni sekarang sudah pandai berbohong. Dan aku sengaja berpura-pura tak tahu. Hanya sekedar ingin melihat, sejauh mana ia mau menipuku. “Habis acara di TPQ langsung pulang?” tanyaku. “Nggak. Mau ke tempat Mas Indra dulu. Kan tadi nggak sempat ketemu.” “Jadi pulang malam lagi?” tanyaku. “Iya. Ngobrol sebentar aja. Nggak apa kan?” “Ya terserah sih. Kalau beneran ngobrol dengan Mas Indra sih nggak apa. Takutnya Sayank izin keluar, Cuma biar bisa bebas chat an dengan selingkuhan. Kalau di rumah kan nggak bisa.” Kataku sambil tersenyum. “Sayank ngomong apa lagi sih. Curiga terus.” “Nggak. Udah lupain aja. Aku Cuma bergurau.” Kataku sambil menyalim tangannya. Kode agar ia segera pergi. Sungguh aku muak dekat-dekat dengan pengkhianat seperti dia. Bang Roni berpamitan dengan mencium punggung tanganku seperti biasa, langsung pergi menuju arah TPQ. Tak lama, kulihat Riya keluar dari rumahnya dan menuju ke arah yang sama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD