“Eh Say, jangan ngelamun!”
Suara Riya mengagetkanku. Entah sejak kapan ia datang. Aku yang sedang termenung di kursi teras sampai tak menyadari kedatangannya.
“Eh, tumben ke sini?” tanyaku dengan sedikit senyum, berusaha untuk tetap terlihat ramah. Padahal rasanya aku ingin mencakar wajah memuakkan perempuan itu.
“Kan aku bilang, nanti mau ke sini buat cerita. Roni nggak ada kan?” tanya Riya sambil celingukan.
“Nggak ada, aman.”
Riya duduk di sampingku. Ia terlihat tak sabar untuk memuntahkan segala cerita busuknya.
“Jadi gini Say, kamu tahu nggak kalau suami kamu tuh tergila-gila sama aku. Dia bucin banget. Roni bilang, sejak dekat sama aku dia nggak mau lagi ngelirik cewek lain. Dia Cuma mau fokus ke aku. Makanya, biarin aja dia berhubungan sama aku. Daripada dia selingkuh dengan cewek lain di luar sana, kan mending sama aku. Aku nggak mungkinlah merebut dia, karena aku udah punya suami. Kalau cewek lain, pasti nanti kamu dibikin cerai. Aku tuh bukan sekali ini aja dikejar-kejar sama suami orang, Say. Tapi banyak suami orang yang bilang jatuh cinta sama aku. Yah aku jujur sih emang meladeni mereka semua, kayak aku meladeni Roni. Tapi lama-lama aku nasehatin juga kok, biar kembali sama istrinya. Dan mereka pasti dengerin omongan aku.”
“Jadi sebelum sama Roni kamu juga pernah berhubungan sama suami orang yang lain?” tanyaku agak kaget.
“Iya. Mau gimana lagi? Orang mereka menggoda aku terus.”
Halah alasan, pikirku. Dia pikir aku nggak pernah digoda laki-laki? Aku juga sering digoda, mulai dari bujangan, duda, sampai suami orang. Tapi aku selalu membentengi diriku dengan sifat setia pada suami dan takut pada Allah.
Kalau alasannya hanya karena digoda, berarti seribu kali orang menggoda, seribu kali dia mau selingkuh? Murahan sekali dia.
Aku jadi teringat, beberapa bulan yang lalu, pernah ada dua orang wanita yang datang melabrak ke rumahnya saat Bang Sarip sedang pergi shalat Jumat. Dari cerita yang beredar, wajah Riya sampai luka akibat dicakar istri orang yang melabraknya waktu itu. Namun kasusnya menguap begitu saja karena keluarga besarnya membela Riya mati-matian dan mengancam suami wanita yang melabrak itu.
Ditambah lagi, Riya koar-koar ke sana-sini, berusaha mencari pembelaan dengan cerita yang tak masuk akal. Ternyata sekarang aku tahu, kalau itu semua bukan isapan jempol belaka. Riya memang pelakor murahan perusak rumah tangga orang. Dan seharusnya sejak dulu aku waspada.
“Trus, gimana dengan hubungan kamu sama suami orang yang lain?” Tanyaku penasaran.
“Ya udah nggak lagi. Kalau aku bosan ya aku putusin. Lagi pula mereka jadi orang baik setelah sama aku. Sebelum putus, aku cerita semua sama istri mereka, kayak aku cerita ke kamu sekarang. Bahkan, istri mereka berterima kasih sama aku. Katanya, suami mereka jadi tobat setelah berhubungan sama aku.”
“Iya pasti mereka berterima kasih. Karena berkat kamu mereka jadi tahu kelakuan suaminya. Mereka tahu kalau suami mereka main serong dan berkhianat.” Ujarku dengan maksud menyindirnya.
“Tapi syukurnya kulihat mereka tetap baik-baik aja kok sampai sekarang.”
“Oh ya, apa kamu yakin? Kamu merusak hubungan rumah tangga dengan berselingkuh sama suami orang. Saat bosan kamu putusin mereka dan kamu adukan kelakuannya sama istri mereka. Trus kamu melanjutkan hidup dengan mencari selingkuhan baru, suami orang juga. Kamu nggak peduli dengan apa yang terjadi pada rumah tangga orang yang udah kamu rusak sebelumnya. Kamu nggak tahu kan, mereka itu diam-diam di belakang selalu bertengkar? Atau istri mereka jadi pemarah karena merasa dikhianati. Atau para suami yang jadi hilang kepercayaan dari istrinya. Kamu nggak mikir sampai ke situ?” tanyaku mulai geram.
“Nggak mungkinlah Say. Orang hubungan aku sama mereka aja masih tetap baik kok sampai sekarang. Sama suaminya yang pernah jadi selingkuhan aku, aku masih akrab. Sama istrinya juga aku masih bertegur sapa kalau ketemu.”
BEBAL! Itulah yang ada dalam pikiranku saat ini. Riya sama bebalnya dengan Bang Roni. Pantas aja mereka cocok. Sama-sama nggak sadar diri kalau disindir atau diberi tahu.
Akhirnya aku hanya bisa mengiya-iyakan. Sungguh aku heran, kok ada ya perempuan yang punya pikiran bodoh dan konyol seperti itu? Kok ada perempuan yang secara bangga terang-terangan mengakui perselingkuhannya dengan suami orang, dan bilang kalau suami orang itu tergila-gila padanya?
Riya... Riya... Muka kamu itu loh pas-pasan. Cuma ditunjang baju mahal dan make up tebal 5 cm. Tapi ngerasa jadi wanita paling cantik sedunia yang dicintai semua laki-laki. Padahal kamu nggak sadar, para lelaki itu semua Cuma memanfaatkan kamu, hanya ingin merasakan punya kamu aja, padahal pasti sama rasanya dengan punya istri mereka.
Kalau memang para lelaki yang notabene suami orang itu memang benar-benar mencintai kamu, pasti mereka akan mempertahankan kamu kan? Nyatanya, setelah puas dapat apa yang mereka inginkan, mereka kembali pada keluarga mereka. Hanya saja, mereka mungkin sudah dapat akibat dari perbuatan mereka, yaitu hilangnya kepercayaan dari istri. Sementara kamu di sini, masih melenggang santai mencari korban yang lain. Dan entah kapan karma itu akan datang padamu.
Yang aku kesalkan, kenapa kini rumah tanggaku yang jadi korbanmu? Kenapa bisa kamu melakukan ini pada kami? Secara bangga kau mengakui hubunganmu dengan Bang Roni. Secara terang-terangan pula minta dibiarkan berselingkuh dengannya, supaya Bang Roni nggak ngelirik cewek lain. Lah, memangnya aku ini dianggap apa?
“Aku boleh nanya nggak?” tanyaku.
Aku putuskan untuk menggali informasi lebih dalam sambil mengumpulkan bukti. Diam-diam, kubuka ponselku dan kutekan perekam suara. Aku punya rencana. Akan ku balas perbuat perempuan berhati iblis ini dengan caraku sendiri.
Orang seperti Riya, tak cukup kalau Cuma ditampar atau dicakar. Itu tak akan membuatnya jera. Rasa sakit ditampar dan bekas cakaran masih bisa hilang. Tapi akan kubuat ia malu seumur hidup, sampai ia tak akan bisa lagi menegakkan wajahnya bahkan di depan keluarga besarnya sendiri.
“Apa?”
“Jadi kalau Bang Roni datang ke rumahmu, apa aja yang kalian lakukan?” tanyaku sambil tertawa, seolah sangat antusias mendengar ceritanya. Riya orangnya suka disanjung, jadi ia pasti akan mengatakan yang sebenarnya.
“Ya itulah. Nggak ada yang lain.”
“Ciuman?”
“Iya. Kan waktu kami sempit. Ayah Hilda nggak lama kalau ke masjid. Jadi begitu dia datang, kami langsung berciuman.”
“Nggak pakai pemanasan lagi? Misalnya pegang-pegang dan meraba-raba seluruh tubuh?” pancingku.
“Ya pastilah. Kamu kayak nggak tahu kebiasaan orang dewasa aja, Say. Aku nggak mungkin bohong kan? Nggak mungkin kalau nggak sambil kayak gitu.”
Darahku terasa membeku. Sedih dan hancur sekali rasanya mendengar Bang Roni melakukan hal itu. Namun aku tetap menguatkan diriku. Aku harus tahu kebenarannya. Dan semua itu akan aku tanyakan pada Bang Roni nanti.
“Trus, siapa yang nyosor duluan? Kamu apa Roni?”
“Ya dia lah. Dia laki-laki yang bernafsu. Begitu datang, dia langsung nyosor karena kan waktu kami emang nggak banyak. Malah, saking keenakannya dia ciuman sama aku, sampai aku dorong-dorong dia waktu tahu orang udah mau selesai shalat Isya. Aku usir dia. Kubilang, udah cepat pulang. Sebentar lagi Ayah Hilda datang.”
Riya tertawa. Seolah ceritanya itu lucu. Dan aku, mau tak mau ikut tertawa juga, padahal hatiku sudah berdarah-darah.
“Eh tapi aku mau tanya. Kamu memang beneran punya perasaan nggak sih sama Roni?”
“Aku nggak ada perasaan sama sekali dengan Roni. Aku dekat sama dia karena kami sama-sama nafsuan orangnya. Dan di antara selingkuhan aku yang lain, Cuma dia yang paling dekat. Jadi, saat aku lagi nafsu pengen ciuman, tinggal chat ,dan dia datang ke rumah. Cuma berapa langkah kan?”
Aku terkejut mendengar pengakuannya. Jadi, dia mendekati Bang Roni hanya untuk sebagai pemuas nafsu? Jahat sekali dia. Mempertaruhkan masa depan rumah tangga orang lain hanya demi kesenangan sendiri.
“Emang kenapa Say? Apa perasaanku itu penting?”
“Ya nggak juga sih. Cuma kalau kamu emang nggak ada rasa dengan Roni, aku jadi lega karena pasti aman. Artinya kalian hanya main-main, nggak serius.” Aku memberikan alasan.
“Itu makanya Say, biarkan aku berhubungan sama dia. Kan aku nggak mungkin merebut dia dari kamu. Dia tetap jadi suami kamu kok.”
“Emang nggak jijik kamu ciuman sama dia, sementara kamu nggak punya perasaan cinta?”
“Ya enggaklah. Namanya juga orang lagi nafsu. Oh iya, semalam yang acara di TPQ aku kan chat an sama dia. Dia bilang kamu mulai curiga. Jadi aku bilang mau mundur aja. Tahu nggak apa katanya?”
“Apa?” tanyaku.
“Dia bilang nggak boleh. Dia melarang aku mundur dan minta kami untuk terus melanjutkan hubungan. Lihat kan, betapa bucinnya suami kamu itu sama aku?” Riya tertawa bangga.
Aku hanya tersenyum tawar. Dalam hati aku berkata. “Kita lihat aja Riya. Apakah Bang Roni akan tetap melanjutkan hubungan denganmu saat aku bilang kalau aku sudah mengetahui semuanya? Apakah dia akan tetap mau mempertahankanmu saat ia mendengar rekaman suaramu ini? Aku akan buktikan padamu, suami orang yang kau bilang mencintaimu, mereka hanya sekedar mempermainkanmu. Mereka, akan tetap kembali pada istri yang mereka cintai jauh dari lubuk hati yang paling dalam. Riya, mereka hanya bernafsu denganmu, bukan mencintaimu.”