Alexa meminta Dimitri untuk menghentikan laju mobilnya. Karena sunyi nya malam, Alexa samar samar dapat mendengar rintihan seorang wanita meminta tolong.
Suara itu terdengar sangat lemah. Tapi sebagai seorang Vampire, tentu saja Alexa dapat mendengarnya.
"Dimitri, kau mendengar nya?" tanya Alexa
Dimitri terdiam sejenak. Berusaha mencari secara pasti sumber suara lirih itu.
Alexa dengan cepat langsung membuka pintu mobil. Dia menghiraukan Dimitri yang berusaha menghentikan nya.
"Nona, tunggu! Tetap di belakang ku. Biar aku yang mencari asal suara itu." pinta Dimitri yang diangguki Alexa
Dimitri berjalan secara perlahan. Untungnya seorang Vampire seperti Dimitri mempunyai langkah yang seringan bulu. Langkah nya tidak akan terdengar oleh siapapun.
Matanya dan telinga waspada mendengar atau melihat sekiranya ada siluet atau suara yang mencurigakan.
Tapi setajam tajam nya pendengaran Dimitri, dia hanya dapat mendengar suara rintihan seorang wanita yang sepertinya sangat tersiksa.
"Astaga!" seru Dimitri
Dia menemukan seorang wanita dengan keadaan yang mengkhawatirkan. Kancing dari kemeja yang di pakainya sudah dilepas dengan paksa. Celana jeans yang dipakainya sudah melorot sampai ke lutut.
Sekali lihat saja Dimitri tahu jika wanita yang berada di depannya ini adalah korban pemerkosaan. Tapi bukan itu yang membuat Dimitri terkejut.
Melainkan dua lubang bekas gigitan yang terdapat di leher wanita itu dengan darah yang masih mengalir.
Luka gigitan itu menonjolkan urat urat berwarna kehitaman yang merambat naik menuju rahang wanita itu.
"Pemberontakan" desis Dimitri
"Dimitri, bantu dia! Kita tidak bisa membiarkan wanita ini berubah menjadi Vampire di depan banyak Manusia. Instingnya akan langsung membuat nya memburu Manusia dan menghisap darah mereka!" seru Alexa. Dia langsung bergerak menyelimuti wanita itu dengan mantel hitam yang di pakainya.
"Bawa dia ke rumah ku" ujar Alexa pada Dimitri yang langsung dipatuhinya
☸✡☸✡
Alexa menggigit bagian dalam bibirnya. Dia menatap cemas manusia yang terbaring kaku dengan kulit yang mulai memucat.
"Jangan jangan jaringan kulit manusia nya mulai mati dan tergantikan oleh jaringan kulit Vampire" gumam Alexa cemas. Terlebih ketika mengingat kulit wanita itu yang berwarna kuning langsat dan kini mulai berubah putih pucat.
"Kemana Dimitri?" lanjutnya mulai cemas
Tak lama kemudian, pintu kamar nya terbuka. Dimitri memasuki kamar dengan beberapa Warrior Kerajaan.
"Kenapa kalian semua ada disini?" tanya Alexa
"Mereka harus memegang lengan wanita itu, Nona. Dia jelas akan memberontak dan menyulitkan ku untuk memberi penawar ini." jawab Dimitri
Alexa mengangguk kecil. Dia memundurkan langkahnya, memberi ruang pada Dimitri dan Warrior nya.
Dapat Alexa lihat jika Dimitri mengeluarkan beberapa botol kecil dan jarum suntik. Dia memasukan carian dalam botol tersebut pada jarum suntik dan menyuntikkan nya pada nadi wanita itu.
"Apa penawar ini akan bereaksi cepat?" tanya Alexa
"Tentu saja tidak. Penawar nya membutuhkan beberapa waktu hingga bisa membunuh sel Vampire di dalam tubuh manusia ini. Melihat dari warna kulit dan juga urat urat yang menonjol di leher dan rahang nya, sepertinya racun itu sudah mulau menyebar di tubuhnya." jawab Dimitri
"Tapi jangan khawatir. Penawar ini akan menetralkan racun Vampire yang sudah terlanjur menyebar." lanjut Dimitri
Alexa menghela nafasnya. Rasa cemas nya mulai menghilang. Tapi kembali timbul ketika mengingat penyebab wanita itu ada di rumah nya.
"Dimitri, apa Vampire bisa bebas keluar masuk lewat portal?"
"Tentu saja tidak, Nona. Kaum Immortal hanya bisa keluar masuk melalui portal ketika dia memiliki kepentingan yang mendesak antara dua dunia. Semua portal yang ada di Underworld juga dijaga dengan ketat." jawab Dimitri
"Pemberontakan. Ada Vampire yang memberontak dan dia berada di Dunia Manusia." bisik Alexa
"Apa jangan jangan ini yang kau dan Ayahku sembunyikan dari ku?!" seru Alexa
Dimitri menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada yang kami sembunyikan. Vampire pemberontak yang mulai berulah akan aku atasi. Kami akan mengadakan pencarian besar besaran agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi." sahut Dimitri
"Baik. Aku percaya padamu. Aku harap kau tidak berbohong, Dimitri. Atau aku akan sangat kecewa." ujar Alexa
Dimitri terdiam sejenak dan tersenyum tipis "Saya tidak akan mengecewakan Nona tanpa alasan."
Alexa terdiam memandang Dimitri. Dari kata kata nya sudah jelas ada yang Dimitri sembunyikan dan dia tidak boleh mengetahui nya.
Jadi Alexa memutuskan untuk pergi kamarnya. Meninggalkan Dimitri beserta manusia yang kini mulai kembali rona kehidupannya.
"Aku harus mengajak Ryan untuk membicarakan hal ini. Bagaimana pun, dia adalah perwakilan dari Dunia Manusia." gumam Dimitri
☸✡☸✡
Alexa terdiam di tepi ranjang nya. Seragam sekolah telah terpasang rapi di tubuhnya.
"Selamat pagi, Nona. Sarapan sudah menunggu." ujar Dimitri
Alexa mengangguk kecil. Dia mengambil tas sekolahnya dan berjalan keluar kamar tanpa membalas sapaan Dimitri.
Sekali lihat saja Dimitri tahu jika Alexa sedang marah padanya. Tapi tak apa. Dimitri melakukan ini agar Nona nya itu tidak cemas. Mengingat jika Alexa adalah sosok yang mudah cemas dan khawatir.
Alexa adalah sosok Nona yang naif.
Dimitri melangkah kan kaki nya, menyusul sang Nona yang sudah mendudukkan dirinya di meja makan.
Alexa menatap gelas berisi cairan merah dengan hampa. Aroma darah yang masuk ke penciuman nya tidak menambah selera makan sama sekali.
Padahal darah hewan itu terlihat masih sangat segar dan hangat.
"Aku tidak mau darah." gumam Alexa
"Nona beraktifitas di bawah matahari selama lebih dari enam jam. Di tambah lagi Nona akan beraktifitas bersama dengan para Manusia. Jadi Nona membutuhkan ini." sahut Dimitri
"Nona ingatkan, jika Nona tidak boleh menghisap darah Manusia? Itu menyalahi aturan Kerajaan dan juga hukum kesepakatan antara dunia Manusia dan dunia Underworld." lanjut Dimitri
Alexa mengangguk kecil. Dia mengetahui hal itu.
"Jika aku menghisap darah manusia, maka aku akan di hukum seberat beratnya." gumam Alexa
Jadi dia meraih gelas berisi cairan merah pekat itu dan menyesapnya sedikit.
Iris mata nya berubah menjadi merah darah dalam satu kedipan mata dan kembali menjadi biru terang ketika Alexa mengerjapkan mata nya.
"Ramuan kemarin bertahan untuk satu minggu?" tanya Alexa dan Dimitri mengangguk
"Baiklah. Aku akan pergi ke sekolah." gumam Alexa. Dia memakai tasnya dan beranjak dari duduknya. Dia berjalan dengan lesu keluar rumah.
"Alexa, hai? Kenapa wajahmu terlihat lesu?"
Alexa menoleh ketika melihat Ryan yang sedang berjalan menghampirinya dengan langkah sedikit terburu buru.
"Apa terlihat sangat jelas?" sahut Alexa sekenanya
Ryan mengangguk dan menatap Brian yang berjalan menyusulnya dengan malas malasan.
"Brian, kau pergi dengan Alexa. Aku dan Dimitri mempunyai urusan lain. Dimitri akan menjemput Alexa nanti saat pulang sekolah." titah Ryan pada anaknya
Brian mengangguk malas. Dia menatap Alexa dengan datar dan di balas dengan hal yang sama oleh Alexa.
'Dia pasti tidak akan melakukan itu. Aku berani taruhan jika dia akan menurunkan ku di tengah jalan.' pikir Alexa
"Aku bisa pergi sendiri. Ada supirku. Mereka tidak keberatan mengantarkan ku ke sekolah." ujar Alexa ketika melihat wajah tidak suka Brian
"Tidak, Alexa. Aku mengajak Brian kemari untuk mengantarmu ke sekolah karena Dimitri memiliki urusan dengan ku." sahut Ryan
Alexa menatap Brian datar sebelum akhirnya mengangguk.
Dia berjalan ke arah supirnya dan berbisik "Ikuti aku dari belakang. Aku yakin dia akan menurunkanku di tengah jalan."
Sang supir mengangguk dan segera masuk ke dalam mobilnya. Dia memanaskan mobil diiringi tatapan bingung Ryan.
"Kau tidak meminta supirmu untuk mengikuti kalian, kan?" tanya Ryan
"Tidak. Aku meminta nya melakukan hal lain." jawab Alexa
"Aku pergi." ujar Brian sambil melangkah menuju motornya
Alexa tersenyum pada Ryan dan beranjak pergi mengikuti Brian menuju motornya.
Brian memberikan helm pada Alexa tanpa menatapnya. Dia langsung menaiki motor dan menunggu Alexa duduk di belakangnya.
"Ayo." ujar Alexa datar
Brian langsung menjalankan motornya. Dia membawa Alexa dengan kecepatan tinggi.
Alexa menatap ke arah belakang. Mobil nya ada tepat di belakang nya.
Hingga tak lama kemudian, Brian menghentikan motornya. Begitu pula dengan mobil Alexa.
"Turun." perintahnya pada Alexa
Alexa tersenyum tipis sebelum akhirnya turun. Dia membuka helm dan langsung memberikannya pada Brian.
Tanpa berkata kata lagi, Alexa langsung pergi dan masuk ke dalam mobilnya.
Sang supir langsung menginjak gas setelah memastikan jika sang Nona sudah duduk dengan nyaman.
"Sudah ku duga manusia itu tidak akan melaksanakan tugas dari Ayahnya dengan baik." gumam Alexa
"Tuan, menurutmu Mate ku akan seperti apa?" tanya Alexa pada supir Manusia nya
Sang supir tersenyum "Melihat bagaimana Nona Alexa, saya yakin Mate anda pastilah seseorang yang dewasa, baik hati dan tentu saja bertanggung jawab. Karena nantinya dia akan menjadi pendamping anda mengurus kerajaan."
"Benar. Semoga seperti itu." gumam Alexa sambil tersenyum tipis
☸✡☸✡
"Jadi racun Vampire nya sudah mulai masuk ke dalam sel tubuhnya?" tanya Ryan. Dia memindai tubuh manusia yang terbaring lemah di atas tempat tidur.
"Ya. Terlambat sedikit saja, maka racun itu akan langsung menjadikan nya New Born Vampire." jawab Dimitri
Ryan mendesah kesal. Dia mengurut dahi nya.
"Ini gawat. Alexa belum mengetahui apapun tentang ramalan pemberontakan itu. Dan ketika dia melihat wanita ini, dia langsung curiga." ujar Dimitri
"Tapi dia sudah baik baik saja kan? Tidak akan berubah menjadi Vampire kan? Tapi kenapa dia belum tersadar juga?" tanya Ryan
Dimitri menggeleng "Tidak. Penawar yang aku berikan sangat ampuh untuk membunuh sel Vampire. Mungkin tubuhnya perlu menyesuaikan lagi."
Dimitri dan Ryan terdiam sejenak. Kedua nya lalu keluar dari kamar tamu dan pergi menuju ruang tamu.
"Mungkin ini sedikit di luar konteks. Tapi kenapa bau anakmu sama seperti Alexa?" tanya Dimitri
Ryan tersenyum miring.
"Sepertinya anak ku adalah Mate dari Nona Alexa." jawab Ryan
Dimitri mengangkat satu alisnya sebelum terkekeh sinis.
"Anak mu membenci Nona Alexa. Pastikan mulutnya tidak mengeluarkan kata penolakan pada Nona Alexa atau dia akan menjadi buronan kerajaan." gurau Dimitri
Ryan terkekeh "Entahlah. Padahal Nona Alexa tidak pernah melakukan hal yang aneh. Saat aku bilang jika dia harus pergi dengan Brian, wajah nya terlihat sangat datar dan aura nya semakin suram."
"Bagaimana bisa kedua nya menjadi sepasang Mate? Dan sepertinya Nona Alexa belum menyadari." gumam Dimitri tak habis pikir
"Tapi sudahlah. Keamanan Nona ku lebih penting saat ini. Penjagaan harus di perketat. Aku tidak mau melihat Tuan Putri yang aku saksikan tumbuh kembang nya sejak bayi, di serang oleh para pemberontak." lanjut Dimitri