Di balik pagar-pagar beton yang mengitari kota, kaki kecil Agas melangkah berlarian di antara tentara federasi compang-camping yang sedang berbincang. Matanya berbinar melihat langit dipenuhi capung-capung berwarna merah yang menghiasi kota Skenhodoi sore itu, kota harapan bagi para pemberontak pemerintahan Dhaskrat Thalkrator, karena letaknya yang terselip tersembunyi di antara distrik-distrik Dhaskrat lainnya.
Lampu-lampu mulai menyala tanpa ada jaringan urat biomesin; mereka menyala dengan kabel tembaga yang tertanam di bawah tanah. Rumah-rumah kosong ditinggali para tentara berbaju lusuh. Di depan bangunan-bangunan itu, berjajar senapan panjang yang disandarkan ke dinding berjamur. Agas berhenti tepat di sisi rumah itu. Di hadapannya, ada tempat sampah berukuran sedang yang dipenuhi lalat; bau darah sangat menyengat di sana.
Sambil memencet hidungnya, ia jongkok dan mengambil seekor capung merah yang terjatuh. Sayapnya basah terkena campuran air dan darah. Agas memindahkannya ke sisi lain yang jauh dari tempat sampah, tepat di dekat taman. Agas menarik ujung bajunya dan mengelus sayap capung itu dengan sangat hati-hati, ia berbisik, "Semoga kamu bisa terbang lagi, Capung..."
Setelah itu, Agas berjalan melaluinya sambil terus menoleh ke belakang, memastikan hewan itu tetap aman.
Agas berlari melewati kerumunan tentara tanpa satu tangan, tanpa satu kaki, tanpa satu mata, bahkan ada yang kehilangan kedua tangan dan kakinya hingga buta total. Mereka membentuk barisan panjang, menunggu giliran untuk memberi laporan kepada petugas yang duduk di dalam mobil putih besar. Di dalamnya, beberapa petugas pemerintah duduk menghadap monitor dengan dingin. Agas menuju satu-satunya tempat di mana masa kecilnya bisa hidup: rumah Nadan.
Sesampainya di sana, banyak tentara Brasat yang mengantri. Kerumunan tentara di kota ini seolah-olah seperti kumpulan lumut di dahan pohon tua. Di sana, ia melihat banyak pria bermantel panjang dengan pin-pin berkilauan mengerumuni tempat itu sambil memegang tablet dan terus mencatat.
Agas menerobos kerumunan pria jangkung itu. Di ujung barisan, ia melihat Nadan dari sela-sela lengan prajurit sedang membantu ibunya membawa ember-ember penuh kain berdarah. Ibunya tampak memakai penutup hidung dan memegang suntikan. Di atas meja sebelahnya, terpampang berbagai macam pisau berlumuran darah yang masih terlihat segar. Di hadapan sang ibu, terbaring seorang pria paruh baya yang tertidur pulas. Salah seorang tentara mengambil pisau-pisau itu dan meletakkannya di atas ember.
"Nadan!!" teriak Agas sangat antusias.
Langkah Nadan langsung terhenti mendengar suara teriakan yang sangat familiar itu. Sambil menoleh dengan mata berbinar, Nadan berteriak, "Agaaas!"
Ibu Nadan yang sedang sibuk pun menengok karena mendengar kedua bocah itu berteriak. Ia berkata, "Nadan, istirahatlah!"
"Baik, Bu!" jawab Nadan sambil berlari dan segera meletakkan embernya di sudut ruangan. Di balik masker yang menyerupai mulut monster itu, ibunya tersenyum tipis dan melanjutkan lagi pekerjaannya.
"Ayo Agas, ikut denganku! Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan!"
Agas mengangguk dan segera mengikuti di belakang Nadan. Mereka berdua menerobos kerumunan bapak-bapak yang berkeringat untuk keluar dari rumah yang sesak itu, lalu berlari ke arah yang jauh dari pemukiman. Capung-capung merah terpencar seiring dengan jalan yang mereka lewati. Salah satu capung terbang hingga beberapa meter menuju gerbang pertahanan kota Skenhodoi, hinggap di pundak Wud yang sedang berdiri sigap di atas menara penjaga beton. Di atas sana, Wud hanya bisa menyaksikan hutan yang perlahan dilahap gelap malam, sementara capung-capung merah ikut terbenam bersama matahari.
Radio di helmnya berbunyi, "Srrrk... Regu 10, 11, 12 istirahat, regu 1, 2, 3 ambil posisi, srrrk..." Wud mengembuskan napas berat. Sambil menjalankan gawai di lengannya, ia membuka file foto berisi istrinya bersama buah hatinya, Agas. Lalu dari arah tangga, muncul pria berhelm membawa senapan yang sama. Ketika cahaya menyorot wajah pendatang itu, Wud berkata, "Catil! Sialan! Kau ini lama sekali!"
"Hahaha... maaf, maaf. Parasekuen sedikit marah tadi, hahaha..." jawab Catil sambil tertawa.
Wud tersenyum kecil dan berkata sambil menepuk pundak Catil, "Jangan tidur lagi kali ini!"
Sambil menyeringai, Catil menjawab, "Kau yang tidur sana!"
Wud pergi menuju tangga bersama hembusan angin sepoi-sepoi yang kemudian mengusap wajah Agas dan Nadan di tengah kebun. Mereka berdua jongkok di samping tumpukan lumpur. Sebuah toples kaca berisi kunang-kunang di bawah segera ditutup rapat-rapat dan diangkat oleh Agas.
"Aku tidak pernah tahu kalau ada sarang kunang-kunang di sini!" ucapnya.
Nadan masih tampak menerawang lubang kecil itu, menikmati kedamaian tersembunyi yang berada di balik tumpukan lumpur. Namun Agas berjalan mengangkat botol berisi kunang-kunang, menyisir pagar beton raksasa dengan sorotan cahayanya. Ia menyusuri setiap permukaan pagar hingga cahaya itu meresap masuk ke dalam sebuah lubang di antara beton tersebut.
Langkah Agas terhenti. Ia mendekatkan matanya ke lubang aneh itu. Terlihatlah hamparan lapangan luas yang dihiasi tiang-tiang lampu di bawah langit abu-abu. Di ujung pandangan matanya, ia melihat hutan yang gelap tanpa ada kerumunan Brasat sama sekali. Rasa ingin tahu menahan Agas untuk menyaksikan lebih lama, menikmati pemandangan alam di bawah remang cahaya tiang lampu.
Namun, tiba-tiba dari balik semak, terlihat sepasang cahaya berwarna kuning. Agas mengernyitkan dahi. Pupilnya mengecil, mengaktifkan penglihatan jarak jauh milik ras Brasat. Ia terbelalak, langsung menjauhkan matanya dari lubang kecil itu, dan mundur secepat mungkin menuju arah Nadan.
"Nadan! Kita harus pulang sekarang!" teriak Agas.
"Ada apa? Kenapa buru-buru sekali?" sahut Nadan.
"Sudah, ayo kita pulang saja! Akan aku ceritakan sambil jalan..." jelas Agas sambil membuka toples kunang-kunang dengan gelisah dan membebaskan semua makhluk di dalamnya.
"Kenapa dibuang, Agas, kunang-kunangnya?" tanya Nadan.
"Biarkan, kasihan mereka kalau terus dikurung... Sudah, ayo kita pulang!" ucap Agas sambil menarik lengan baju Nadan.
Agas dan Nadan berjalan kembali menuju pemukiman. Semua tampak sama saja walau hari sudah gelap; antrean tentara cacat itu nampaknya belum surut. Agas mulai menjelaskan pada Nadan tentang apa yang ia lihat.
"Tadi saat aku melihat lubang di pagar beton, aku mengintip dunia luar. Di sana banyak sekali pohon besar, ada tanah lapang yang luas, dan ada tiang-tiang lampu yang sedikit redup."
Nadan memperhatikan wajah Agas sambil mengangkat alisnya. "Kenapa tidak kau bilang ada lubang di tembok beton itu? Aku ingin lihat juga!"
Agas menjawab tegas, "Tidak! Bukan begitu. Aku melihat bayang-bayang makhluk raksasa dengan cahaya mata berwarna kuning sedang mengawasi kota kita."
"Hmm... aku malah jadi semakin penasaran," balas Nadan.
Mereka berdua berhenti tepat di depan rumah Nadan yang masih dipenuhi pria-pria bermantel. Lalu Agas menepuk pundak Nadan, "Sudah! Kamu bantu ibumu lagi saja, aku juga sudah mau pulang."
Nadan mengangguk. "Oke, Agas. Sampai jumpa lagi..."
Agas membelakangi temannya dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.