Berdebat di depan pintu

1570 Words
Bagas segera ingin pergi ke apartemen Salsa, karena bunga yang dibeli oleh Bagas sejenis bunga asli yang akan layu jika tidak langsung diberikan. "Aku akan memberikan bunga ini untukmu," gumam Bagas sambil tersenyum saat mengingat wajah Salsa. Salsa terlihat sangat cantik ketika menatap wajah Bagas, saat itu juga Bagas ingin segera bertemu dengan Salsa. Andika karena tidak ingin kalah dengan Bagas, Andika segala membeli bunga yang sangat indah, dengan harga yang jauh lebih mahal dari bunga yang dibeli oleh Bagas. "Aku akan segera membeli bunga, aku akan memberikannya untuk Salsa." Andika terlihat sangat kesal Ketika Harus bersaing dengan Bagas. "Aku tidak akan pernah kalah," ucap Andika dengan penuh rasa bersemangat. Ini adalah pertama kalinya Andika ingin membeli bunga dengan harga mahal, Andika biasanya membeli bunga dengan harga yang sangat murah. Namun Andika tidak mengetahui selera bunga yang Salsa inginkan, karena harga bunga terlihat sangat mahal, adik dalam memilih bunga sintetis agar tidak bisa layu. "Mbak saya beli bunga sintetis nya satu saja," ucap Andika berbicara dengan salah satu penjual bunga. "Bunga apa pak?" Penjual bunga bertanya kepada Andika, untuk segera mengambil kan bunga yang dipesannya. "Bunga yang sangat indah, yang biasa disukai oleh wanita." Pegawai toko bunga segera mengambil kan jenis bunga asli dan memberikannya kepada Andika. "Aku tidak mau bunga seperti ini, bunga ini sama dengan milik laki-laki yang sangat aku benci," ucap Andika sambil mengembalikan bunga tersebut. "Bapak pilih yang mana? Nanti akan saya ambilkan." Pegawai toko itu meminta Andika untuk memilih salah satu bunga. "Baiklah aku akan memilih sendiri." Andika melihat jenis-jenis bunga yang dijual, tiba-tiba matanya terhenti dan mengambil salah satu bunga. "Ini Pak bunganya," tanya pegawai toko. "Aku memilih bunga ini saja," jawab Andika. Pegawai toko tersebut tersenyum saat melihat Andika akan memberikan bunga sintetis kepada kekasihnya. "Apa ada yang lucu?" Andika merasa jika pegawai toko menertawakannya. "Kebanyakan pria memberikan bunga asli kepada pacarnya." "Kenapa mereka lebih memilih bunga yang asli? Padahal yang asli mudah layu." Andika tidak ingin memberikan bunga asli kepada Salsa, karena tidak menyukai tipe bunga yang mudah layu. "Jika bunganya palsu, bisa jadi cinta nya pun palsu." Pegawai toko mencoba menggoda Andika. "Justru sebaliknya, bunga asli yang mudah lalu mengartikan bahwasanya cinta seseorang akan cepat hilang, sedangkan bunga yang palsu akan tetap indah meski beberapa waktu." Andika tersenyum sambil menjawab ucapan pegawai tersebut. "Ini bunga yang Bapak minta," ucap pegawai sambil memberikan bunga tersebut. "Aku sangat berterima kasih atas nasehat yang kamu berikan." Andika tersenyum sambil meninggalkan pegawai toko. "Sungguh menggemaskan pegawai toko itu, mengapa dia harus bertanya saat aku memilih bunga yang palsu?" Andika sangat tidak suka melihat pegawai toko tersebut. "Aku harus segera sampai ke apartemen, Aku tidak ingin jika sampai Bagas lebih dahulu datang." Andika segera melajukan mobilnya menuju ke apartemen. Andika segera naik ke lift untuk bisa segera sampai, dengan wajah yang sangat senang ketika bisa masuk ke dalam apartemen. "Aku yakin pasti Bagas tidak akan mengetahui apartemen Salsa, Salsa tidak akan berani memberikan alamat apartemen nya." Andika tersenyum saat bahagia ketika dirinya bisa memenangkan persaingan ini. Andika terus berjalan hingga sampai ke sebuah pintu kamar apartemen, Andika terlihat sangat terkejut saat melihat ada Bagas berdiri di depan pintu. "Bagas," ucap Andika sambil menatap wajah Bagas. Andika melihat Bagas sangat bahagia saat melihat dirinya jauh lebih dahulu datang. "Kenapa kamu sudah sampai di sini?" Andika bertanya dengan Bagas. "Tentu aku ingin bertemu dengan Salsa, sejak tadi aku mencarinya." Andika mulai merasa sangat kesal ketika Bagas jauh lebih perhatian kepada Salsa. "Ini bukan pintu kamar apartemen Salsa, sebaiknya kamu pulang saja." Andika meminta Bagas untuk pulang, namun Bagas tidak mau mendengar ucapan Andika. "Aku tidak akan pulang sebelum Salsa menemui diriku," ucap Bagas sambil tersenyum. "Ternyata kamu benar-benar membuatku merasa kesal, kamu tidak pantas berdiri di depan ruangan ini." Andika meminta Bagas untuk segera pergi meninggalkan apartemen Salsa. "Memang kamu siapa? Kamu tidak pantas memintaku untuk segera pulang, ingat Salsa tidak pernah bersikap kasar denganku.'' Bagas sangat percaya diri saat berbicara, membuat Andika semakin merasa malu. "Mari kita tunggu, siapa laki-laki yang akan diterima oleh Salsa," ucap Bagas. "Oke siapa takut, tentu Salsa akan memilih diriku." Andika sangat yakin jika Salsa akan menerima cintanya, Namun sepertinya itu sangat tidak mungkin. "Aku pasti menjadi pria yang dipilih oleh Salsa, kamu tahu Salsa sangat membencimu." Bagas mengetahui jika Salsa memang tidak suka dengan sikap Andika, saat itu juga Bagas mencoba untuk meminta Andika segera pergi meninggalkannya. "Kamu tidak usah membuat cerita yang tidak sesuai, belum tentu juga akan mencintaimu." Andika terlihat sangat malu dengan Bagas, batas terlihat sangat pandai dan juga mempesona. "Sebaiknya kamu berpikir ulang untuk mendekati Salsa, kamu harus tahu, kamu akan malu jika tetap bertahan di sini." Senyuman Bagas benar-benar membuat Andika merasa kesal, ini adalah suatu penghinaan untuk Andika. "Tunggu saja, Aku tidak akan pernah mau melihat dirimu bersama Salsa lagi.'' Andika segera masuk ke dalam ruangannya, menghindari perdebatan yang terjadi. Bagas tersenyum saat Andika pergi meninggalkannya, ini menjadi momen yang sangat penting untuk bagas bisa mendekati Salsa kembali. "Tentu saja aku tidak mau kalah dengan seorang laki-laki seperti dirimu, kamu terlalu bodoh mendengar ucapanku." Bagas tersenyum sambil membunyikan bel kamar Shalsa. Saat itu juga Salsa segera membukakan pintunya, melihat jika ada pria tampan dengan bunga yang sangat indah berdiri di depan pintu kamarnya. "Bagas," ucap Salsha dengan wajah sangat bahagia. Salsa memang sangat senang ketika bisa dekat dengan bagas, apalagi jika dirinya bisa menjadi kekasih Bagas, tentu akan membuat Salsa lebih bahagia. "Sejak kapan kamu berdiri di depan kamarku," tanya Salsa sambil tersenyum. "Sebenarnya aku sudah setia menunggumu, karena kamu tidak juga keluar aku segera membunyikan bel ini." Bagas tersenyum mendapat respon Salsa yang sangat baik, tentu saja hal ini sangat membuat Bagas merasa senang. "Ayo masuk ke dalam, aku akan membuatkan minuman." Salsa mengajak Bagas untuk segera masuk ke dalam apartemennya. Saat itu juga Andika keluar untuk memastikan hal yang terjadi di dalam apartemen Salsa. "Mengapa mereka berduaan di dalam apartemen?" Andika mulai berpikir buruk mengenai Salsa. "Aku takut jika sampai Salsa hamil?" Terlintas di dalam pikiran Andika jika akan terjadi Salsa hamil karena hubungan gelap tersebut, Andika mulai berpikir bagaimana cara mengasihi mereka. "Aku tidak akan membiarkan mereka bersenang-senang di dalam apartemen, Aku harus bisa masuk untuk segera melihat apa yang mereka lakukan." Andika berjalan tepat di depan pintu kamar Salsa, Andika segera membunyikan bel pintu apartemen Salsa. "Itu pasti Andika," ucap Salsha. Sasa segera bergerak menuju ke depan pintu untuk melihat orang yang berdiri di depan apartemennya. "Benar seperti dugaanku, ternyata Andika datang untuk melihat ku." Salsa segera membukakan pintu apartemennya, melihat Andika tersenyum sambil membawa bunga. "Hai Salsa," ucap Andika dengan senyuman di bibirnya. "Ayo masuk," ajak Salsa. Salsa tidak ingin jika Andika berpikir buruk mengenai dirinya, Salsa berharap jika dirinya bisa menjaga nama baiknya. "Silakan duduk Andika, aku akan membuatkan minum untukmu." Salsa segera bergerak untuk membuatkan minuman. Andika menatap sinis kearah wajah Bagas, namun Bagas justru tersenyum saat melihat Andika. "Kasihan sekali Bunga Andika tidak diterima oleh Salsa," gumam Bagas sambil tertawa. Andika merasa sangat malu ketika Bagas menertawainya. "Kamu Kenapa tertawa?" Andika bertanya kepada Bagas. "Apakah salah jika aku tertawa," jawab Bagas. "Kamu sama saja menghina aku, Aku tidak suka ketika melihat ada orang yang menertawaiku." Terlihat sangat jelas di wajah Andika jika dirinya merasa tersinggung, namun berpikir kembali jika tuduhannya tidak benar. "Aku yakin, Aku pasti bisa mendapatkan Salsa," ucap Adika di dalam hatinya. Berharap jika dirinya bisa menjadi pasangan Salsa. Salsa datang sambil memberikan segelas minuman untuk Andika, namun setelah memberikan minuman di meja Andika, Salsa justru duduk bersebelahan dengan Bagas, saat itu juga Andika merasa sangat kesal dengan sikap Salsa. "Kenapa harus duduk bersebelahan dengan laki-laki itu?" Bagas terlihat sangat kesal ketika Andika menatapnya telur terus menerus. "Mungkin Andika merasa sangat marah ketika Salsa duduk bersebelahan denganku, aku yakin hatinya merasa sangat sakit." Bagas berpikir jika dirinya sudah memenangkan persaingan itu, karena melihat Andika yang terus-menerus memperhatikannya, Bagas mencoba memberikan perhatiannya untuk Salsa. "Apakah kamu hari ini sudah makan?" Bagas pertanyaan kepada Salsa. "Aku belum makan sama sekali, Aku baru saja bangun dari tidur." Salsa terlihat sangat lelah, semalam Salsa tidak bisa tidur karena ada anak kecil yang bersamanya. "Aku melihat wajahmu terlihat sangat lelah, Aku tidak akan lama-lama berada di sini." Bagas ingin segera pulang, sedangkan Andika masih memegang bunga di tangannya. "Ayolah Bagas sebaiknya kamu Segera pulang," ucap Andika meminta Bagas untuk segera pulang. Namun ketika melihat Andika bicara seperti itu, tentu membuat Salsa merasa tidak nyaman. "Kenapa kamu harus berbicara seperti itu?" Salsa bertanya kepada Andika sambil menatap wajahnya. "Aku hanya tidak ingin melihat kamu terlihat sangat lelah, Aku akan segera pulang Agar aku tidak mengganggu waktu istirahat mu." Karena merasa malu ketika melihat Salsa menegur nya, Andika segera berpamitan untuk pulang, saat itu juga Bagas tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Andika. "Akhirnya Andika menyerah," gumam Bagas sambil tersenyum bahagia. "Aku pulang dulu, Aku ingin kamu Segera beristirahat," ucap Andika sambil meninggalkan Salsa. Bagas tersenyum bahagia saat Andika keluar dari kamar Salsa, terlihat jika upaya untuk mengusir Andika berjalan dengan lancar. "Kenapa dia masih membawa bunga itu, seharusnya dia memberikannya untukmu." Bagas melihat jika Andika membawa pulang bunga yang sudah dibelinya. "Dia ingin terlihat sangat anggun, membawa bunga sintetis sungguh membuatku sangat tidak suka." Seperti dugaan Salsa sama sekali tidak menyukai bunga sintetis yang dibelinya. "Seharusnya dia membeli bunga asli,'' jawab Bagas. "Orang seperti Andika tentu saja tidak mau rugi, jika membeli bunga asli hanya akan bertahan beberapa hari, sedangkan membeli bunga sintesis akan lebih awet." Salsa sangat memahami watak asli Andika.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD