Keluarga Aisyah

1567 Words
2 tahun kemudian Aisyah sudah menyelesaikan kuliahnya selama 3 setengah tahun, dan diapun sudah kembali kekampung halamannya yaitu di Surabaya. Teman-temannya yang lain menyelesaikan kuliah selama kurang lebih 4 tahun. Aisyah sangat bersyukur dia bisa lulus dengan ipk yang tinggi dan juga mendapatkan pekerjaan di perusahaan salah satu saudaranya . Dulu Aisyah sangat bingung mencari pekerjaan bahkan ingin menyerah karena perusahaan-perusaaan yang ada dikota Surabaya menerima pekerja dari penampilan sedangkan Aisyah tidak akan penah melepaskan niqab nya apapun yang terjadi. Tapi selama 6 bulan menganggur ada pekerjaan di perusahaan saudaranya yang membutuhkan lowongan pekerjaan dan memperbolehkan Aisyah memakai pakaian syarinya. Sungguh Allah maha Baik dan Adil. . . . "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh umi..."salam Aisyah memasuki rumah dan langsung mencium punggung tangan uminya. "Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh nak"jawab Siti sambil mengelus kepala Aisyah. Siti Adalah ibu dari Aisyah, seorang perempuan yang sungguh luar biasa. Dapat mendidik anaknya dengan baik. "Mi, Abi udah pulang" tanya Aisyah sambil melihat ruangan dirumahnya. Abi Aisyah adalah pemilik pasantren. Setiap hari abinya yang bernama Salman Alfarisi mengisi kegiatan dengan mengajar dipasantren. "Udah, Abi lagi siap-siap mau kemesjid untuk shalat. Udah sana mandi udak bau matahari anak umi" jawab Siti sambil senyum. "Kok Una bauk matahari sih Mi masih harum gini"kata Aisyah sambil mencium badannya. "Kalau badan sendiri mana terasa bau nak. Udah sana kekamar kemudian shalat dan langsung kemeja makan ya nak" kata Siti sedikit berteriak karna Aisyah sudah berada dikamarnya. "Baik ibu bos yang cantik" jawab Aisyah dengan nada yang menggoda. *** Diruang makan "Abang.. kapan datang"tanya Aisyah yang tiba-tiba datang kemeja makan. Aisyah mempunyai 3 orang kakak laki-laki. Yang pertama bernama Muhammad Ibrahim biasa dipanggil Ibam. Ibam menikah dengan perempuan bernama Asih Rahayu dan dikaruniai anak laki-laki yang sekarang berumur 5 tahun bernama Muhammad Imran. Kakak Aisyah yang kedua bernama Muhammad Faris Al-farisi. Menikah dengan perempuan bernama Fatih Ramadhan Putri dan dikaruniai anak perempuan yang masih berumur 2 bulan bernama Mariam. Dan yang terakhir bernama Muhammad Rasyid. Rasyid menikah dengan Maisyarah. Usia pernikahannya pun masih tergolong penganti baru. Aisyah memanggil setiap kakak laki-lakinya dengan berbeda. Seperti Ibam dia akan memanggilnya dengan sebutan "Mas". Kalau Faris dengan Rasyid, Aisyah memangilnya dengan sebutan "Abang". "Barusan dek, gimana kerjaannya lancar ga?"tanya Faris. "Lancar bang, tapi susah. Abi gak ngebolehin Una bawa motor. Kan susah minta tolong terus sama bang Rasyid "jawab Aisyah sambil bibirnya dimanyun- manyunkan. "Hahaha, sabar..sabar ini ujian" kata Faris sambil ketawa. "Ngapain ni kayaknya anak Abi sedang asik-asiknya"kata Abi yang tiba-tiba masuk. "Gini bi, anak Abi yang super duper manja ini curhat soalnya Abi gak bolehin dia bawa motor" kata Faris senyum mengejek. "Aduh nak, Abi kan gitu karena sayang. Abi gak mau kejadian 5 tahun yang lalu terulang lagi. Abi gak sanggup lihat kamu koma 2 minggu gitu. Dulu disaat Aisyah sedang senang-senangnya memakai motor, qadarullah Aisyah kecelakaan yang sangat parah mengakibatkan harus koma 2 minggu. Disaat keluarga Aisyah diberi ujian seperti itu seakan ada bom yang menghantam keluarganya. Aisyah yang memang notabenenya satu-satunya anak perempuan membuat semua keluarga menyayanginya. "Emang bang Rasyid gak mau ngantar jemput adek"Tanya Salman bingung. "Iya Abi, Una tau. Bang Rasyid-"kata Aisyah terpotong. "Kenapa ni bawa nama-nama Rasyid, lagi ceritain Rasyid yang ganteng ya bi" kata Rasyid yang tiba-tiba masuk. "Assalamu'alaikum dulu nak" kata Siti dengan tegas. "Maaf mi, Assalamu'alaikum" kata Rasyid mengulang salam. "Wa'alaikumsalam" jawab semua serentak. "Abang gak mau ngantar jemput Una ya?"tanya Salman kepada Rasyid. "Mau kok Bi, malahan abang mau banget dari pada Una bawak motor sendiri abang khawatir Bi" jawab Rasyid. "Tuh dengarin abang Rasyid mau kok ngantar Una. Kalau Rasyid gak mau biar abang yang Ngantar" kata Faris. "Emang kapan Una bilang bang Rasyid gak mau ngantar jemput, Una belum jawab bang Rasyidnya udah nongol aja" kata Aisyah yang kesal. "Udah-udah gak baik berantem didepan rezeki, ini Sarah sama Fatih kemana kok belum ada"tanya Siti yang mencari keberadaan menantunya. "Sarah bentar lagi datang mi, dia mampir sebentar ketempat tante Ami" jawab Rasyid. Tante Ami adalah kakak ibu Sarah, kebetulan rumahnya bersebelahan dengan rumah mereka. "Kalau Fatih lagi dikamar mi, mungkin lagi nyusuin dedek Mariam " jawab Faris. "Mi katanya mas Ibam mau kesini, kok belum datang mi"tanya Aisyah yang penasaran. "Bentar lagi nak, tadi katanya baru dijalan. Udah gak sabar ketemu mas Ibam ni" kata Siti sambil senyum. "Iya mi, mas Ibam sama mbak Asih tu kayak orang tua kedua Una. Umi tau Una tinggal hampir 4 tahun sama mas Ibam apalagi sama Zafra mi. Pengen dipeluk-peluk" kata Aisyah. "Iya umi tau kok nak.. bang panggil istrinya suruh turun makan, bentar lagi mas Ibam mau nyampai" suruh Siti kepada Faris. "Iya mi"kata Faris sambil pergi kekamarnya. "Assalamu'alaikum mi" kata Ibam yang langsung masuk kerumah. "Wa'alaikumsalam nak" jawab Umi dengan senangnya. "Zafran kesayangam bunda, sini-sini"panggil Aisyah sambil berlari keruang tamu. Zafran yang merasa dipanggil langsung berlari memeluk bundanya. "Apa kabar mbak" tanya Aisyah kepada Asih sambil menyalami. "Baik lah dek, kamu gimana" tanya balik Asih. "Baik juga mbak, umi sama abi udah nunggu dimeja makan tu mbak mas" jawab Aisyah. Sebelum Ibam menuju meja makan, Ibam memeluk adiknya sebentar untuk melepas rindu. "Assalamu'alaikum" salam Sarah yang baru masuk rumah. "Wa'alaikumsalam mbak, kok lama datangnya mbak" tanya Aisyah. "Mbak main dulu sama abel dek" jawab Sarah. Abel adalah anak tante Ami. "Makanya cepat punya anak mbak, biar bisa main sama anak kecil terus" kata Aisyah sambil ketawa. "Doakan aja dek. Bang Rasyid mana dek" tanya Sarah. "Semua udah ada dimeja makan mbak, ayo kesana" ajak Aisyah. Setelah semuanya berkumpul dimeja makan. Mereka langsung makan malam. Seperti biasa setelah Ibam mempunyai waktu liburan maka dia akan pulang ke Surabaya untuk bertemu dengan keluarga tersayangnya. Faris dan istrinya tinggal serumah dengan Salman karena baru dikaruniai anak oleh Allah. Sedangkan Rasyid dan istrinya tinggal disebuah rumah yang tidak terlalu jauh dari kediaman Salman karena alasan ingin belajar mandiri. "Dek gimana kerjaannya lancar gak" tanya Ibam yang penasaran. "Lancar kok mas, tapi susah...Una gak dibolehin abi makek motor kan kasihan bang Rasyid antar jemput terus" jawab Aisyah mengadu. "Abang gak apa-apa kok dek, malahan kalau kamu bawa motor buat abang gak fokus kerja" kata Rasyid sambil ngelus pundak aisyah. "Kalau Una gak mau ngerepotin bang Rasyid mending Una nikah kan ada suami yang ngantar jemput tu" kata Ibam yang senyum senyum. "Kalau itu abi setuju dek, umur kamu juga udah cocok untuk nikah" kata Salmani yang menyetujui omongan Ibam. "Dikit-dikit ngomongin nikah, kalau udah ada jodoh pasti dia datang kerumah untuk mengkhitbah Una bi" jawab Aisyah yang mencoba tenang sebisa mungkin. "Wih jadi Una kita ini lagi nunggu pangeran berkuda putih kerumah" ledek Faris sambil ketawa-ketawa. "Mas jangan godain Una ah, lihat tu mukanya udah merah" sambung Fatih. Semua yang ada di meja makan ketawa melihat ekspresi Aisyah yang menahan malu. "Mumpung kita lagi bahas ini, kemaren ada teman abi yang berniat meminang kamu untuk anaknya. Una mau" tanya Salman penasaran. "Siapa bi.. baik gak?" tanya Ibam. "Sholeh gak bi" tanya Faris. "Umurnya berapa bi, kerjanya apa" tanya Rasyid. "Aduh abi pusing, nanya satu satu nak. Yang nikah Una kok kalian yang banyak tanya" jawab Salman pusing. "Kan kita gak mau Una perempuan satu satunya yang kita sayangi dapat jodoh yang gak baik bi" sambung Faris. "Ingat firman Allah Mas, bang, laki laki yang baik untuk perempuan yang baik, dan perempuan yang baik untuk laki laki yang baik. Jadi kalau Una baik pasti dapat jodoh baik bg. Kalau laki laki yang datang kerumah mau mengkhitbah Una kalau jodoh Allah pasti lancarin tapi kalau gak jodoh ada aja halangannya" kata Salman panjang lebar. Saudara laki-laki Aisyah hanya diam mendengar apa yang dibilang oleh Salman. "Iya Bi, suruh aja kerumah. Pasti apa yang abi pilih adalah terbaik untuk Una. Bukankan ridho Allah terletak kepada ridho orang tua" kata Aisyah tersenyum. "Iya, besok abi bilang sama sahabat Abi itu" balas Abi senang. "Aduh Una mbak udah mau nikah yah" ledek Sarah. "Belum nikah mbak, masih perkenalan kalau Allah ridho lanjut kalau enggak ya udah " jawab Aisyah seadanya. Setelah makan mereka melanjutkan perbincangan di ruang keluarga. "Zafran sini dong main sama Om" Suara itu adalah Rasyid. Rasyid memeang sangat menyayangi keponakan-keponakannya. "Enggak mau" tolak Zafran. Zafran tengah melihat bayi munyil yang berada digendongan Uminya. Bayi tersebut adalah Mariam. "Kasihan dikacangi" ledek Aisyah. Rasyid mendekat kearah Aisyah kemudian menjewernya. "Abi, Una dijewer abang" rengek Aisyah seperti orang kesakitan padahal Rasyid melakukannya dengan sangat pelan. "Abang jangan mulai" tegur Salman. "Lebay, padahal pelan doang berasa kayak dijewer beneran" ledek Rasyid. "Una memang ratunya drama Ras" Faris menyatakan kali ini berada dipihak Rasyid. Tatapan mata Aisyah dibuat setajam mungkin untuk membuat kedua abangnya berhenti meledek. "Atuttt" gelak tawa kedua laki-laki itu memenuhi ruang keluarga. "Om ni jangan berisik, adeknya kebangun tu" omel Zafran. "Eh sayang bangun ya, maafin Ayah ya" seru Faris mendekat kearah anaknya. "Suruh tidur diluar nanti mbak biar kapok gak bikin anaknya nangis lagi" Aisyah duduk menyandar disebelah Abi, menjadi anak kesayangan Salman tidak membuat saudaranya yang lain iri. "Diam dek" kesal Faris. Mereka tertawa bersama, Salman dan Siti melihat bagaimana anak-anaknya sudah tumbuh dengan sangat dewasa. Perasaan haru dan bahagia selalu mereka rasakan. Tetapi apakah mereka bisa seperti ini sampai kesurga? Inilah yang selalu Siti pikirkan dikala di menghadap kepada Rabbnya. Berdoa terus menerus agar Allah satukan mereka di surga bersama sama. Rasyid dan Sarah pulang kerumahnya karena sudah malam dan mereka besok akan bekerja. Rasyid adalah seorang dokter sedangkan sarah adalah seorang guru dipasantren kepunyaan ayah mertuanya. Sedangkan Ibam dan Asih menginap dirumah Salman untu melepas rindu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD