Sudah hampir setengah jam Clara menunggu kedatangan Arfa. Hiruk pikuk sekolah sudah lebih tenang karena banyak yang sudah pulang, bahkan keempat sahabatnya meninggalkan Clara. Hasan dan Sela asa urusan, Fino latihan futsal dan Sela yang katanya ingin cepat pulang.
Sungguh, Clara bosan sekali.
Demi menghilangkan rasa bosannya, Clara bermain-main di sekitar parkiran dengan membengkok-bengkok kan beberapa spion motor yang masih terparkir.
Kebesaran. Ia mencoba memakai helm milik Arfa. Satu kata itu dapat mendeskripsikan kepala Clara yang tenggelam oleh helm milik Arfa. Dia mengaca lewat spion dan terbahak sendiri, ia mirip seperti lalat hijau.
"Hahahahahha... Lucu banget Clara. Foto ah, kasi tau ke papa nanti. Biar dibeliin." ucapnya bermonolog sendiri.
Tenenet net net tenonet nonet, tenenet net net tenonet nonet s**u murni nasional...
Kepala Clara langsung memutar cepat, mencari asal suara. s**u mbak Murni kesukaannya! Memang rejeki anak solehah, ada saja penghibur di kala bosan melanda.
Segera Clara berlari menemui pujaan hatinya, ehhh-- bukan akang tukang jualannya ya. Maksudnya pujaan hatinya itu s**u murni itu. Dengan tergopoh-gopoh sampai tidak sadar melupakan tujuannya menunggu Arfa di parkiran.
Ia langsung memblokir jalan akang yang berjualan itu, dengan merentangkan kedua tangannya di depan gerobak.
Sungguh jika akang itu menoleh sebentar saja dan tidak mengetahui keberadaan mendadak Clara. Maka dapat kita pastikan Clara sudah tertabrak gerobak dagangannya, si akang yang reflek mengerem mendadak langsung mengelus dadanya kaget.
Clara menyengir lalu ia berjalan menghampiri akang penjualnya.
"Kang, susunya 5 ya!"pesannya seraya menampakkan kelima jarinya di depan wajah akang penjual.
"Iya neng." jawab akang itu, ia memasukkan kelima s**u dagangannya kedalam kantung plastik sambil menatap bingung Clara.
Bukan apa, si akang hanya merasa aneh saja pada pelanggannya ini.
Merasa ditatap, Clara menoleh, memalingkan tatapannya dari s**u yang menggiurkan dikotak pendingin di depannya. Clara melihat ekspresi kebingungan si akang.
"Kenapa kang?"
"Ehhh--ohh nggak apa neng." kilahnya.
"Mang!" panggil Clara.
Gimana sih gadis ini tadi memanggil kang sekarang mang, jangan-jangan setelah ini cak atau lek.
"Apa dek?"
Clara mendelik, "Clara bukan adek akang ya, Clara ini pelanggan." selorohnya kelewat cepat.
"Trus akang panggilnya apa?"
Clara menimang-nimang pertanyaan si akang. "Panggil Sis lah, kang! Gak gaol amat, sii!"
"Taudah! Sis bayar susunya lima rebu."
Clara terkejut, jadi s**u ini hanya seribuan? Wah murah sekali, Clara tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. "Mang, Clara beli susunya lagi deh. Murah banget, wenak tenan iki susu." puji Clara sambil memberikan ibu jarinya pada penjual itu.
"Mau beli berapa, neng?"
"Ish panggilnya sis aja bukan neng, Clara kan jadinya kayak neng penjual jamu." ralat Clara.
Penjual itu mendengus kesal untung saja pelanggan, jika tidak sudah minggat karena gadis di depannya ini cerewet sekali.
"Emmm kang, ini sisa berapa ya?" tanya Clara.
Si akang tampak berpikir, tadi dagangannya hanya 15 yang laku, sedangkan ia membawa 50 buah. Berati sisanya ada 35.
"Tinggal tiga lima sis."
"Suayaaaa bworonggg, kang!" Serunya penuh gejolak semangat.
Clara merogoh sakunya, mengeluarkan uang lima puluh ribu lalu ia menyondorkan kepada si akang, saat akang itu hendak mengambil uangnya, Clara menarik menjauh karena suara motor terdengar.
Clara menoleh cepat, lalu mendelik. Yang di tunggu akhirnya datang juga. Tapi kenapa begini? Kenapa Arfa malah pergi?
Clara berlari mengejar motor Arfa yang melesat semakin jauh, "WOI ARFA! WOEYYYY!!!!"
Clara berhenti mengejar motor Arfa, ia membungkuk, bertumpu pada lututnya. Menyadari kehadiran seseorang di sebelahnya ia menoleh.
"Lah?" Clara mengatur napasnya. "Kenapa akang ikut ngejar Arfa?"
Si akang penjual itu juga berusaha mengatur napasnya. "Akang kira eneng mau kabur, belum bayar soalnya."
WALAH!
***
K
ini Clara berjalan beriringan dengan akang penjual s**u tadi. Si akang ternyata hendak pulang, dan jalan pulangnya sejalan dengan rumah Clara. Jadilah Clara minta barwngan pulang.
Clara menepuk bahu akang penjual dengan keras, sehingga membuat si akang terlonjak. "Kang!"
Akang itu menoleh menatap wajah kusut Clara. "Kenapa, sis?"
"Masa Clara ditinggalin sih ama Arfa, tega banget dia itu ninggalin cewek cantik kayak Clara!" Si akang hanya terkikik geli melihat omelan Clara.
"Sis, bayar susunya sis cuman 34 rebu, akang diskon serebu! Jangan asem gitu dong mukanya!"
Clara langsung berbinar. "Woke mang! Clara berubah!" lalu cengirannya muncul membuat si akang tergelak, ajaib sekali hanya dengan diskon seribu, Clara langsung kembali sumringah.
"Emang... neng nggak malu apa jalan sama gerobak gini?"
Clara menggeleng "Clara gak malu, Clara malah seneng ada temennya pulang." jawabnya riang.
Dan akhirnya Clara dan si akang penjual s**u itu bertukar cerita.
Disepanjang jalan Clara bercengkrama dengan si akang, mulai bercerita masa kecilnya, sekolahnya bahkan berniat ingin membeli dagangan si akang tiap hari.
Tapi sayang, akangnya bilang akan melintas di depan sekolahnya saat jam empat. Maka dari itu Clara meminta setiap minggu akangnya lewat perumahan dengan membawa empat puluh biji s**u kemasan. Alasannya satu, untuk persediaan selama seminggu.
Melewati taman bermain, Clara meminta akang berhenti mengayuh sepeda yang memang tergabung dengan gerobak.
"Mang, berhenti mang!" si akang penjual itu berhenti, lalu mengernyit heran. "Kenapa berhenti?"
Clara menunjuk segerombolan anak-anak yang tengah bermain itaman bersama orang tuanya. Akang itu menoleh mengikuti arah tunjuk Clara.
"Trus kenapa neng?"
Clara berdecak, "Ya lumayan atuh, kang, kalo jualan disini!"
"Tapi kan, dagangan akang udah di borong sama neng."
"Alah, itu mah gampang! Mang kantungin lima biji dulu mang! Campur ya rasanya."
Dan akang itu hanya menurut saja, setelah sudah mengantongi lima kemasan s**u dagangannya, Akang penjual itu disuruh memasukkan s**u tersebut kedalam tas Clara. Dan akang itu menurutinya.
"Kang, matiin lagunya." lalu lagu soundtrack dagangan akang itu mati digantikan dengan teriakan Clara.
Clara membentuk corong dimulutnya dengan kedua tangan.
"AYO DIBELI-DIBELI s**u MURNI NASIONALNYA, WENAK TENAN, CUMAN TIGA REBU RUPIAH!"
Sontak anak kecil yang tadinya sibuk bermain di taman langsung berlari menyeret orang tuanya untuk membeli s**u.
Mereka mengerubungi gerobak dagangan si akang. Dengan anak kecil yang merengek minta dibelikan.
"Mbak beli susunya tiga mbak!"
"Kak beli s**u yaa, duaa. Lasa coklat sama stobeli!"
Clara langsung mengambilkan pesanan mereka. Saat ada yang kembalian uangnya, Clara menoleh ke akang yang masih terbengong "Kang! Kembali tujuh ribu!"
Akang itu tersadar "Eehhh iya ini." ucapnya sambil menyodorkan tujuh ribu.
"Ini buu." ujar Clara sambil menyodorkan uang kembalian pada ibu-ibu didepannya.
"Hufffff... Capek Clara, kang!" keluhnya sambil mengkibaskan tangannya pada wajah yang penuh dengan keringat.
Clara duduk diujung gerobak, menyender pada peyangga.
"Elah nenggg, trus neng gimana?"
Dengan masih sibuk mengipasi wajahnya Clara menjawab, "Gimana apanya kang?"
"Neng cuma kebagian lima susu."
"Alah kang gapapa! Tadi kan Clara juga udah habisin lima! Yang penting tuhh ini, kang!" Serunya seraya memberi uang hasil usahanya barusan pada akang "Tapi neng, dagangan akang kan seribuan kok neng jual dua ribu sih!"
"Oh itu kang, soalnya produk dagangan akang enak, jadi Clara saranin akang mulai sekarang jualnya tiga ribu, ya, kang! Jangan seribu! Terlalu murah, sayang lo kang, produksinya kan juga perlu biaya! Akang jualan kan juga perlu bayaran, masa ga dapet untung sih kang!" jelasnya menggebu-gebu.
Akang itu tersenyum, sungguh mulia sekali remaja di depannya ini. Tidak malu jika harus berbincang bahkan berjualan dengannya. "Terima kasih ya neng!"
"Woyosiap kang!"
Clara kembali bersandar, sedangkan si akang menghitung uang hasil dagangannya. Ditengah itu, tiba-tiba datang anak kecil dengan kakak laki-lakinya.
"Bang!" panggil bocah kecil di samping lelaki dewasa disebelahnya.
Akang yang awalnya sibuk menghitung uang lantas menoleh, "Kenapa, dek?"
"Beli s**u bang dua!"
"Susunya abis dek."
"Looooo kok bisa si bang..... Kak susunya abis." adunya pada lelaki yang menuntunya.
"Yaudah, beli s**u di toko lain aja ya." bujuknya.
"Gak mau! Maunya s**u ini. HUAAAA!!!"
Tangis bocah itu pecah membuat Clara tersadar dan membuka matanya. Ia tadi sempat memejamkan matanya sebentar karena lelah.
Clara menoleh melihat bocah laki-laki yang menangis, segera ia beranjak dan berjongkok dihadapan bocah itu.
"Heiii... kenapa kamu nangis?" tanyanya lembut, belum menyadari seseorang disebelahnya yang sudah diam menyadari Clara.
Bocah itu mengusap ingusnya "Susunya abis kak, aku mau beli tadinya... Huaaaa."
Clara mengangguk lalu mengambil s**u yang ada di tasnya, satu kantung plastik tadi. Setelah itu ia menyondorkan kantung tersebut membuat bocah lelaki itu berhenti menangis dan menatap binar s**u kemasan di kantung plastik serta wajah Clara secara bergantian.
"Ambil semau kamu, deh!" kata Clara riang. Bocah itu mengangguk dan merampas kantung plastik yang dibawa Clara.
Clara melonggo, tadi ia sempat mendengar bocah ini ingin dua saja, kenapa jadi merampok semua miliknya? Ah sudahlah tak apa, mengalah kan tidak salah juga.
"Dek, katanya mau dua kok malah diambil semua punya kakak itu," ucap seseorang membuat Clara mendongak dan menyadari ternyata ada seseorang di sebelah bocah itu.
Dan ketika matanya bertabrakan dengan lelaki itu, mata Clara membulat. Sejurus kemudian ia berlari terbirit-b***t. memancal pergi menjauh.
"KANG MAKASIH KAK, SAYA DULUAN! ADA URUSAN MENDADAK" Teriak Clara di tengah larinya.
Clara sempat menengok kebelakang, lagi-lagi matanya beradu tatap dengan mata lelaki itu dan sontak Clara berbalik dan mempercepat larinya.
Sedangkan disisi lain, bocah laki-laki kecil itu terheran-heran melihat reaksi kakak perempuan yang telah memberinya s**u itu.
Bocah itu mendongak, mengayunkan jari lelaki disebelahnya. "Kak Aldo! Kakak itu kenapa?"
Aldo mati-matian menahan tawanya, lucu sekali gadis itu. Aldo berjongkok mengimbangi tinggi Arsen -adik sepupunya-
"Kakak itu keburu pulang, dek." jawabnya sambil terkekeh pelan.
"Ooo... Aneh!"