Rea mendapatkan pesan dari Nico yang memintanya untuk kembali ke tempatnya tadi. Sebab mereka akan berpamitan untuk pulang.
Saat akan masuk, Rea tak sengaja menabrak bahu seorang laki-laki yang tengah menelepon dan berdiri membelakangi Rea. Hingga gadis tersebut tak tahu siapa orang yang ia tabrak.
“Maaf,” ujar Rea yang terburu-buru masuk. Dan tidak melihat orang di depannya yang baru saja ia tabrak, sedang berdiri di sebelah pintu masuk.
Kean hanya berdehem untuk menjawabnya. Begitu ia menoleh, ia terkejut. Orang yang baru saja menabraknya adalah gadis yang ia awasi sejak tadi. Dan gadis tersebut tengah berjalan dengan tergesa-gesa masuk ke dalam.
“Dia? Sayang sekali nggak bisa lihat wajahnya,” gumam Kean yang tidak sadar jika sambungan teleponnya masih terhubung dengan Amanda. Hingga gadis tersebut dapat mendengar apa yang baru saja Kean katakan.
“Siapa? Cewek atau cowok?” tanya Amanda ketus. Selayaknya seorang kekasih yang tengah mencemburui pasangannya.
Meskipun cintanya hanya bertepuk sebelah tangan pada Kean. Namun Amanda berjanji tidak akan membiarkan seorang gadis pun berada di sisi Kean, selain dirinya tentu saja yang lebih berhak.
“Apa sih, bukan siapa-siapa kok. Cuman orang iseng aja,” sahut Kean santai.
####
“Kamu dari mana saja, Re? Kakakmu sampai pusing mencarimu,” tegur Bu Naima seraya menjawil gemas hidung Rea yang nyengir dengan tanpa dosa.
“Rea di taman belakang kok, Bu. Main sama kucing, hehehe,” sahut Rea seraya memeluk lengan Bu Naima manja.
“Ya, sudah ayo pulang. Nico sedang menemui pengantinnya untuk berpamitan. Kamu sudah makan belum?” tanya Bu Naima yang mengajak Rea berjalan keluar dari ruangan pesta.
“Sudah, Bu. Makan kue tadi di taman,” jawab Rea yang ikut berjalan di sisi Bu Naima.
“Ya, sudah. Kita makan di restoran aja nanti sambil perjalanan pulang. Kamu mau makan apa?” Bu Naima dan Rea berhenti di sebelah mobil Nico.
“Rea terserah Ibu saja. Apa saja Rea makan kok, asal nggak beracun,” gurau Rea.
Tak lama Nico datang menghampiri Mamanya dan Rea. “Ayo pulang! Kamu dari mana, Re? Kakak cari-cari nggak ketemu-ketemu. Untung nggak hilang kamu,” ujar Nico yang mulai menjalankan mobilnya.
“Aku ada di taman belakang kok, kak. Mainan sama kucing, lihat taman bunganya bagus banget,” jelas Rea.
‘Sama seperti taman di rumah. Jadi, kangen rumah,’ sambungnya dalam hati. Seraya mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela.
Kembali teringat saat-saat bahagianya bersamanya di taman rumahnya. Setetes air mata, menetes di sudut matanya. Dengan cepat, Rea menghapusnya.
Rea tak ingin Nico atau Bu Naima melihatnya menangis dan akan menanyakan alasannya. Rea tak ingin di kasihani.
Mobil Nico berhenti di sebuah restoran. Ketiganya memesan makanan masing-masing sembari mengobrol tentang seseorang yang rupanya tadi di tabrak oleh Rea.
“Ma, tahu Keanu anaknya Rangga Adhiyaksa? Itu lho, yang seorang pengusaha sukses. Anaknya juga sukses, Ma. Melebihi papanya malah.” Cerita Nico membuka obrolan.
Rea yang mendengar nama seseorang yang pernah di dengarnya. Hanya diam mendengarkannya. Mungkin juga ia salah dengar. Sebab tidak semua orang memiliki kesamaan nama, bukan.
“Iya, Mama memang sering kali mendengar namanya. Katanya sangat tampan dan cuek yah?” tanya Bu Naima penasaran.
“Iya, memang tampan kok. Tapi ya, memang dia seperti kayak yang jutek begitu. Sayang banget, tadi Rea nggak ada. Coba aja ada, mau aku kenalin sama Keanu. Pasti cocok, sama-sama cakep,” goda Nico pada Rea yang hanya mendengus kesal mendengar candaan Nico.
“Tapi kok Keanu bisa ada di sana? Apa rekan bisnis keluarga Intan?” tanya Bu Naima seraya menyuapkan makanannya.
“Tidak tahu, Ma. Mungkin juga iya. Tapi Keanu datang sama Andre, sepupu Intan dari pihak mamanya,” jelas Nico yang melirik Rea yang tampak acuh saja mendengar obrolan mereka.
“Kamu nggak tahu, Re? Ganteng banget loh, wajahnya sering muncul di majalah bisnis. Calon suami idaman itu, Re. Seandainya saja kamu sama dia, pasti beruntung banget,” ungkap Nico antusias.
Rea hanya mendengus kesal mendengarnya. “Ya mana mau, kak. Dia sama aku kan berbeda. Aku mah, apa atuh, hanya butiran debu,” sahut Rea mendramatisir jawabannya.
Bu Naima dan Nico tergelak mendengarnya. “Eh, tapi kamu kan sudah punya bule itu, yah? Pastinya pilih yang ada di depan mata. Dari pada yang jauh dan tak tergapai,” balas Nico yang mengikuti gaya bicara Rea.
Membuat gadis tersebut berteriak kesal karena di goda. “Bu! Lihat kakaknya jahat banget,” adu Rea pada Bu Naima yang membuatnya tergelak.
####
Sementara Rea sedang menikmati makan siangnya di restoran sembari bercanda. Mike di depan rumah Rea berteriak frustrasi. Karena belum bisa menemukan di mana keberadaan Rea.
Bahkan ia harus bolak-balik ke rumah gadis tersebut, tapi hasilnya nihil. Rea belum kembali ke rumahnya sejak semalam. Bisa di lihat dari lampu rumahnya yang masih belum di matikan, meskipun hari sudah sangat terik.
“Sialan! Berani-beraninya lo ngerjain gue, Re!” geram Mike sambil mencengkeram erat setir kemudinya.
Kesal karena ia sia-sia datang ke rumah Rea. Mike memutuskan untuk pulang ke studio. Ia yakin, cepat atau lambat, Rea pasti akan pulang ke rumahnya. Sebab ia juga harus bekerja.
Sepulang dari Bogor, Rea memang masih belum pulang ke rumahnya. Ia memutuskan untuk pulang saat sore harinya. Untuk bersiap-siap bekerja di club.
Ia tak mungkin akan ijin kembali. Setelah semalam ia sudah meminta ijin Nico. Walaupun pria tersebut pasti akan mengizinkannya untuk tidak bekerja. Tapi tetap saja, Rea ingin bersikap profesional.
Nico mengantarkan Rea pulang ke rumahnya untuk berganti pakaian dan berangkat ke club bersama-sama.
Sesampainya di depan rumahnya jantung Rea berpacu begitu cepat. Tatkala melihat mobil Mike terparkir rapi di teras rumahnya.
“Itu mobil siapa, Re? Kok parkir di depan rumah kamu?” tanya Nico yang merasa pernah melihat mobil tersebut.
Rea gelagapan menjawabnya. Ia bingung harus bagaimana menjawabnya. “Itu, itu mobil,” gagap Rea yang terputus oleh suara ketukan di jendela mobilnya.
Rea dan Nico sama-sama melihat ke arah bagian samping Rea. Yang ternyata di ketuk oleh Mike.
Rea membuka pintunya dan menatap tajam Mike yang kini tampak lebih tajam tatapannya kepadanya.
Membuat nyali Rea menciut. Namun teringat kembali kemarin malam, rasa kesalnya kembali memuncak.
“Ngapain lo di rumah gue?” ketusnya yang berjalan melewati Mike begitu saja.
Mike segera mencekal pergelangan tangan Rea dengan erat, hingga membuat gadis tersebut meringis kesakitan.
“Dari mana saja lo? Gue nyariin lo udah kayak orang gila tau! Lo malah tanya ngapain gue di rumah lo?” desis Mike marah. Wajah Mike mendekati Rea yang kini terlihat takut melihat raut amarah di wajah tampan pria bule tersebut.
“Apa-apaan ini?” tanya Nico yang mencoba melepaskan cekalan tangan Mike di tangan Rea.
“Lo yang siapa? Kenapa bisa sama cewek gue?” balas Mike dengan ketus.
Nico menoleh ke arah Rea yang nampak mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah.
“Kamu pacaran sama dia, Re?” tanya Nico.
Rea menggelengkan kepalanya perlahan. Sebagai tanda bahwa apa yang di katakan Mike tidaklah benar. Sebab, mereka memang belum resmi berpacaran.
“Rea nggak mengakui kalo kalian pacaran. Jadi, gue minta. Lo jangan ganggu dia lagi,” tegas Nico yang di jawab senyum mengejek oleh Mike.
“Oh, jadi semalam lo pergi kencan sama cowok ini? Makanya lo ninggalin gue gitu aja di restoran? Dan gue udah kayak orang gila nyariin cewek yang lagi bersenang-senang sama cowok lain. Hebat, Re, sangat hebat,” seru Mike sambil bertepuk tangan dan tersenyum meremehkan.
Rea yang marah dan sakit hati telah di duga sebagai perempuan murahan oleh Mike. Melayangkan sebuah tamparan ke pipi kiri Mike dengan keras.
Membuat tak hanya Mike yang terkejut, bahkan Nico sekalipun.
“Gue memang miskin, tapi gue bukan perempuan murahan yang biasanya lo pake semalam, lalu lo buang gitu aja!” desis Rea dengan sorot mata oenuh amarah dan terluka.
Rea segera berlari masuk ke dalam rumahnya dan menguncinya kembali. Menyisakan dua pria yang masih terbengong di tempatnya.
“Lo benar-benar keterlaluan. Gue bukan cowok yang pake cewek cuman buat semalam. Dia adik angkat gue, dan semalam dia menginap di rumah gue. Karena Mama yang memintanya. Selamat berjuang, bro!” ujar Nico yang menepuk bahu Mike pelan dan masuk ke dalam mobilnya.
Nico mengirikan pesan kepada Rea, bahwa dia mengizinkan Rea untuk beristirahat di rumah untuk hari ini. Menyelesaikan masalahnya dengan Mike agar tidak berlarut-larut.