Tawa Mike semakin menderai mendengar teriakan Rea yang kesal akan ulahnya. Hari-harinya memang berubah saat bersama Rea.
Ia yang tak pernah tertawa, kini mulai bisa tertawa dan berubah usil. Tak jarang pula Rea marah kepadanya akibat tingkah jahilnya.
Bersama Rea, Mike merasakan hal yang berbeda dari hubungan sebelumnya. Dia yang biasanya mendominasi segala hal, kini mulai mau mengalah pada keinginan Rea. Meskipun ia tak menyukainya dan bukan hal yang biasa ia lakukan dengan para kekasihnya dulu.
Keduanya tiba di restoran yang Mike reservasi. Rea tersenyum saat melihat tempat yang Mike pilihkan untuk dinner romantis mereka. Restoran yang bagus memang, bahkan tampak romantis. Meskipun bukan restoran bintang lima, namun Rea senang, Mike mau mewujudkan keinginannya.
“Ini kan restoran mahal? Memangnya lo punya duit?” tanya Rea yang terperangah melihat daftar harga di buku menu.
Rea mendongak, menatap Mike dengan tatapan seriusnya dan sedikit melotot ke arahnya.
Mike terkekeh geli melihat reaksi Rea yang takut akan di usir dari restoran ini karena tidak bisa
membayar. Gadis yang unik bukan, di saat sebagian cewek akan menolak tempat yang Mike pilih, sebab bukan restoran mahal dan mewah. Tapi Rea, gadis itu malah takut jika akan di usir nantinya.
“Sudah. Makan saja dulu, masalah bayar, kita pikirkan nanti. Kalau perut sudah kenyang. Oke?” putus Mike santai.
Sedangkan Rea memutar bola matanya malas. “Gue serius, Mike. Gue nggak mau yah, nanti abis makan dan udah dandan cantik begini, malah di suruh cuci piring,” gerundel Rea sebal.
Mike hanya terkekeh geli dan tetap melanjutkan makannya. Mengabaikan Rea yang menggerutu sejak tadi.
Selesai menikmati makan malam dan hidangan penutup yakni es krim. Makanan favorit Rea, es krim cokelat.
Rupanya Mike mencari tahu apa yang Rea sukai dan tidak. Agar ia bisa menarik hati gadis jutek di depannya saat ini, yang tampak berbinar hanya dengan semangkuk es krim rasa cokelat.
“Makan es krim aja sampai belepotan gini, sih? Kode keras yah, biar di bersihin kayak di drama-drama yang sering lo lihat itu,” goda Mike sembari membersihkan sudut bibir Rea yang terkena es krim dengan ibu jarinya.
Rea melotot tajam, saat melihat Mike mengusap lembut sudut bibirnya sambil tersenyum miring.
“Heh! Namanya makan es krim tuh, wajar kalau belepotan. Nggak cuman anak kecil aja. Lagian gue nggak kode yah! Lo sendiri yang modus, biar bisa sentuh bibir gue yang seksi ini, huh,” cemooh Rea yang kesal atas tuduhan Mike.
Mike berpura-pura terkejut mendengar ucapan Rea, “Wah, kok lo tau, sih,” ledek Mike sambil tersenyum mengejek.
Rea hanya diam dan lebih memilih menikmati es krimnya. Mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia sebal pada laki-laki di depannya ini.
“Oh, iya. Katanya lo mau ada yang di omongin sama gue. Makanya minta makan malam di tempat romantis segala. Lo lagi ulang tahun, yah?” tanya Mike yang penasaran dengan permintaan Rea yang tidak seperti biasanya.
Rea tersedak mendengar pertanyaan Mike barusan. Ia hampir saja lupa dengan tujuannya mengajak Mike kesini.
“Oh, itu, itu, ah, nggak ada apa-apa kok. Cuman pengen ngerasain dinner romantis aja. Kenapa? Nggak boleh?” balas Rea pura-pura marah.
“Bukan begitu. Ya, cuman ngerasa aneh aja, gitu. Lo kan biasanya suka makan di warung pinggir jalan. Ini tumben banget, ngajak makan malam di restoran,” jelas Mike yang masih tetap tidak percaya akan alasan Rea barusan.
Gadis itu tersenyum tipis, ia mengangguk pelan. “Iya, memang ada alasannya. Kenapa malam ini gue sengaja mengajak Lo makan di tempat romantis,” ungkap Rea sambil tersenyum malu-malu.
Mike mengerutkan keningnya melihat tingkah Rea. Tak seperti biasanya, gadis tersebut bisa menunjukkan ekspresi wajahnya malu-malu seperti itu.
“Terus apa alasannya?” tanya Mike dengan kedua tangannya yang dilipat ke depan.
“Itu, hm, itu, huuhh, oke. Jadi, alasannya adalah karena aku ingin bilang juga ke Lo. Kalo gue juga punya perasaan yang sama kayak Lo. Dan, dan gue mau kok pacaran sama Lo sekarang,” jelas Rea dengan cepat sambil menutup matanya. Entah untuk apa.
Mike tertegun sejenak mendengar kata-kata Rea barusan. Mencernanya dengan seksama dan jelas. Ia tak ingin salah menyangkanya.
Setelah memahami dan mengerti apa yang di katakan oleh Rea. Mike hanya menjawab, “Oh,” lalu meneguk minumannya dengan santai.
Dalam hatinya, ia tengah menghitung angka.
“What?” seru Rea yang kesal melihat respons Mike yang hanya begitu. Setelah mendengar pengakuannya tentang perasaannya.
“Terserah,” pekik Rea yang sebal dan beranjak bangkit dari kursi.
Bergegas pergi meninggalkan Mike yang terkejut melihat Rea buru-buru pergi dari restoran. Niatnya tadi hanya ingin menjahili Rea. Bukan maksud apa-apa. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk itu.
Mike bangun dari duduknya dan segera membayar makanannya. Lalu mencari Rea yang ia kira sedang menunggu di samping mobilnya.
Tapi salah, Rea tak ada di sana. “Aish, sial! Kemana itu cewek?” umpatnya kesal karena kehilangan jejak Rea.
Mike masuk ke dalam mobilnya dan mulai menyusuri jalanan untuk mencari Rea yang ia yakini pasti masih berada di jalanan.
Nihil. Mike tak dapat menemukannya. Berkali-kali ia mencoba untuk menghubungi nomor ponsel Rea. Tapi gagal.
Rea telah menonaktifkan ponselnya saat keluar dari restoran.
Mike mengira jika Rea pulang ke rumahnya. Namun sia-sia belaka. Gadis jutek dan pemarah tersebut tidak pulang ke rumahnya.
Mike rasanya frustrasi memikirkan sikap kekanak-kanakan Rea. Atau mungkin dirinya juga yang senang sekali menjahili Rea.
Meski tahu, jika gadis tersebut pemarah dan sensitif terhadap hal-hal yang kadang tidak Mike duga.
Mike mencoba kembali menyusuri jalanan. Berharap bisa bertemu dengan Rea dan meminta maaf kepada gadis tersebut.
Namun, sampai tengah malam. Ia masih belum bisa menemukannya.
Mike menjambak rambutnya sendiri dengan keras, “Ah, sial! Kemana lagi gue mesti cari Lo, Re,” teriaknya frustrasi.
Mike tidak pernah selama ini di buat sefrustrasi ini oleh seorang gadis. Karena pastinya mereka yang frustrasi dalam menghadapi tingkah laku Mike.
Tapi sekarang, malah sebaliknya. Mike yang di buat frustrasi oleh tingkah Rea yang menghilang begitu saja.
Dan sekarang, Mike duduk di dalam mobilnya dengan rasa kesalnya. Tidak menyangka jika akan berakhir seperti ini. Hanya karena kesalahannya dalam menanggapi ucapannya.
Sementara di tempat lain. Rea sedang duduk berdua dengan seorang wanita paruh baya yang tersenyum sangat bahagia mendapati seorang tamu cantik.
“Nanti kamu menginap saja disini. Tidur di kamar Nico, biar dia tidur di sofa ruang tengah nanti. Mau kan?” pinta Bu Naima yang tak lain adalah Mama Nico.
Rea berpikir sejenak, ia yakin jika Mike pastinya sedang menunggunya di depan rumah. Dan sepertinya malam ini, ia tak ingin bertemu dengan laki-laki menjengkelkan sepertinya.
“Baiklah, Bu. Rea mau kok menginap disini. Tapi apa tidak apa-apa, Kak Nico tidur di sofa?” tanya Rea yang merasa tidak enak dengan Nico yang harus tidur di luar.
“Nggak apa-apa kok. Dia sudah biasa tidur di sofa kalau pulang dari kerjaannya. Jadi kamu menginap disini?” Bu Naima ingin memastikannya kembali.
Rea mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Bu Naima memeluknya sekilas. Lalu bergegas masuk ke dalam untuk meminta bibi menyiapkan pakaian ganti untuk Rea. Menggunakan pakaian adik Nico yang telah berpulang ke sisi Tuhan dua tahun lalu.
Alasan mengapa Bu Naima sering kali sakit. Jika teringat akan anak bungsunya yang menjadi korban tabrak lari.
“Terima kasih sudah membuat Mama bahagia. Hanya karena kamu mau menginap. Sampai heboh seperti itu,” ungkap Nico yang senang melihat Mamanya bisa tersenyum bahagia seperti tadi.
“Iya, kak. Mungkin Tante memang ingin aku menginap,” jawab Rea yang mengalihkan pandangannya.
Memikirkan seseorang yang sudah membuatnya pergi meninggalkannya di restoran.