Amanda membanting ponselnya begitu saja. Setelah panggilannya di putuskan secara sepihak oleh Kean. Wanita tersebut marah karena Kean telah berubah. Laki-laki itu tak lagi memprioritaskan kepentingan dirinya. Kini, Kean lebih fokus pada istrinya yang baru dia nikahi daripada ia yang telah bersamanya sejak kecil hingga dewasa. Amanda kesal di abaikan oleh laki-laki yang selalu ada waktu untuk dirinya. Menyempatkan waktu untuk menanyakan kabarnya hari ini. Juga obat yang harus setiap saat ia minum. Kean selalu mengingatkan dirinya agar tidak melupakan obat yang telah menjadi sumber kehidupan baginya. Karena sejak kecil, Amanda memang tergantung pada obat-obatan. Fisiknya yang lemah itu pula yang membuatnya tak memiliki teman. “Nggak, Kean. Kamu tetap akan menjadi milikku. Apa pun c

