Kean kembali menegakkan tubuhnya dan kini sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Rea. “Apa kamu malu karena tertidur di bahuku?” tanyanya tiba-tiba dengan seringainya yang menjengkelkan bagi Rea. Sontak saja perempuan itu menoleh, dan nyaris saja mereka berciuman dengan jarak wajah yang begitu dekat. Seolah sadar, keduanya lantas salah tingkah dan segera menjauh satu sama lainnya. “Memang kenapa kalau aku tidur bersandar di bahuku? Kau kan, suamiku, dan lagi tidak ada yang salah dengan hal itu,” kelit Rea yang berpura-pura marah. Padahal hanya untuk menutupi rasa malunya. Karena ia juga tanpa sadar malah bersandar di bahu Kean. “Oh, suami yah,” ulang Kean seraya tersenyum menyeringai dan mengetukkan jarinya ke dagunya, menerawang seolah berpikir. “Lalu aku bisa menyentuhmu juga, d

