Suasana sarapan di meja makan hari ini terlihat hening seperti biasanya. Hanya ada suara dentingan sendok yang mengenai piring yang terdengar. Keduanya tampak sibuk menghabiskan menu sarapan yang merupakan pancake dengan sirup apel buatan Agatha. Agatha selalu memilih menu yang sederhana untuk sarapan agar cepat karena mereka berdua harus pergi ke kantornya masing-masig di pagi hari.
Meskipun sudah menikah, Andra dan Agatha tidak terlihat seperti pasangan suami istri. Mereka lebih seperti seorang pria dan wanita asing yang tinggal di tempat yang sama dan sama-sama sibuk dengan urusannya sendiri. Mereka akan ke kantor pukul setengah 8 pagi kemudian Agatha akan pulang pukul 5 sore jika tidak lembur sementara Andra biasanya akan pulang pukul 7 atau 8 malam. Jadi tidak begitu banyak waktu bersama yang mereka lakukan di rumah karena jika sudah pulang bekerja, mereka akan sama-sama mengurung diri di kamar masing-masing.
"Gue hari ini ada urusan kerja ke Bali, mungkin pulangnya malam banget atau besok pagi. Jadi lo kunci-kunci pintu yang benar, gue bakal bawa satu kunci. Jadi gak usah nungguin gue."
"Sejak kapan gue nungguin lo?" balas Agatha mencibir. Andra hanya mengangkat bahu tidak acuh. Lagi pula ia hanya berjaga-jaga jika Agatha nanti malah bingung jika ia pulang terlambat. Keduanya sama-sama kembali diam menghabiskan sarapannya agar bisa segera pergi bekerja.
"Gue pergi dulu," kata Andra kemudian mengulurkan tangannya pada Agatha. Agatha hanya menatap tangan itu dengan mengernyitkan dahinya heran.
"Apaan?" tanya Agatha tidak mengerti.
"Gue kan suami lo, gak mau salam dulu sebelum gue berangkat?" Andra makin menyodorkan tangannya pada Agatha.
"Lo pikir gue berangkat sekolah pakai cium tangan segala? lagian gak usah ngaku-ngaku jadi suami deh kalau lo nya aja gak bisa jadi suami yang baik," sindir Agatha menatap Andra sinis kemudian berlalu untuk meletakkan piring kotor usai mereka sarapan.
"Galak banget."
"Bodo amat!" meskipun sudah berlalu ke dapur, Andra tetap bisa mendengar sahutan dari Agatha yang membuatnya terkekeh. Entah mengapa ia malah suka melihat gadis itu terlihat kesal padanya. Mungkin ini adalah hobi baru Andra.
"Iya Sayang, ini aku udah mau berangkat," kata Andra mengangkat telfonnya sembari berjalan keluar dari rumah memasuki mobilnya untuk berlalu pergi. Sementara itu Agatha langsung bersiap-siap pula untuk berangkat ke kantornya sebelum ia terlambat nantinya. Meskipun bosnya belakangan ini selalu bersikap baik padanya, tapi siapa tahu hari ini ia berubah pikiran dan kembali mengomel.
***
"Ahhhh capek bangetttt..." Jiny terduduk lemah di kursi kerjanya membuat Agatha yang sedari tadi fokus berkutat dengan komputernya melirik Jiny sesaat.
"Lancar?" tanya Agatha.
"Lancar, tapi gue capek banget. Mana kena dorong-dorong lagi. Kenapa sih orang demo rame dan rusuh banget," keluh Jiny udah mengerjakan tugasnya di lapangan untuk mendapatkan berita terbaru.
"Ya namanya juga demo, kalau mau yang sepi liputan noh di kuburan," sahut Agatha asal membuat Jiny mengerucutkan bibirnya kesal. Agatha selalu memberikan respons yang tidak sesuai dengan keinginannya.
"Oh iya Tha, gue mau lihatin sesuatu sama lo."
"Apaan?" tanya Agatha namun dengan tatapan masih fokus menatap layar komputer.
"Ihh lihat dulu sini." Mau tidak mau Agatha mengalihkan tatapannya menatap Jiny yang sedang memperlihatkan layar ponselnya pada Agatha. Agatha mendorong kursinya agar lebih mendekat pada Jiny agar bisa melihat dengan lebih jelas.
"Apa-apaan nih?"
"Gue pesanin ini buat lo. Baguskan? anggap aja sebagai hadiah kedua pernikahan lo selain kado yang gue bawa waktu ke pernikahan lo. Gimana?" tanya Jiny terlihat antusias dengan senyum sumringahnya yang bertolak belakang dengan wajah Agatha yang terlihat terkejut sekarang.
"Apaan sih, lo itu kalau mau beli yang berfaedah dikit kek, yang gue benar-benar suka."
"Disaat kayak gini, yang penting itu bukan apa yang lo suka, tapi apa yang lo butuhin."
"Ya tapi gak baju tidur seksi kayak gitu juga, mana warnanya merah lagi." Agatha sampai bergidik ngeri melihat model baju tidur mini yang dipesankan oleh Jiny untuknya. Ia pikir ide gila Jiny saat itu hanya main-main, tapi ternyata ia benar-benar bersungguh-sungguh bahkan sampai memesankan khusus untuknya.
"Lo dengerin gue ya. Katanya lo gak mau pernikahan lo cuma satu tahun doang. Kalau gitu lo gak bisa diam aja. Lo harus rebut hati suami lo, lo harus rubah penampilan lo dan rubah sifat lo jadi lebih lembut sedikit. Gue yakin nih, pasti di rumah lo selalu pasang tampang sangar bin kecut kayak ginikan? gimana suami lo mau jatuh hati, yang ada gak sampai setahun lo udah ditinggalin."
"Lo sebenarnya mau ngasih solusi atau mau ngatain gue sih?" Jiny terkekeh menyadari kejujurannya. Tapi itu memang benar adanya. Sebagai sahabat ia ingin membantu Agatha menyelesaikan masalahnya.
"Udah, pokoknya nanti kalau barangnya udah datang, lo harus langsung cobain dan jangan lupa langsung berkeliaran di rumah pakai itu, paham?" Jiny bahkan terlihat lebih bersemangat dari pada Agatha membuat Agatha tersenyum. Sahabatnya ini benar-benar unik, itulah yang membuat Agatha sangat nyaman berteman dengannya.
"Okey." Agatha kembali fokus pada pekerjaannya begitu pula dengan Jiny. Seperti inilah rutinitas mereka setiap harinya, bekerja di kantor atau langsung turun ke lapangan jika sedang di butuhkan. Awalnya Agatha tidak terlalu terbiasa, namun lama kelamaan ia mulai menyukai pekerjaan ini.
***
Andra tersenyum melihat Citra yang terlihat begitu ahlinya berpose dengan berbagai gaya di depan kamera di pinggir pantai yang sudah di set khusus untuk menjadi tempat pemotretan hari ini. Sejak dulu Citra memang sudah sangat menekuni bidang ini hingga ia sangat bersungguh-sungguh dan sangat berambisi untuk lebih sukses lagi. Gadis itu memang sosok yang gigih dan juga keras kepala. Kegigihannya itulah yang bisa Andra tiru hingga ia juga bisa fokus kini pada bidang bisnisnya.
"Kamu bosan ya nungguin aku? bentar lagi kelar kok," kata Citra menghampiri Andra saat jeda istirahat. Andra menggeleng sembari tersenyum.
"Gimana kalau abis ini kita makan di tempat makan khas Bali yang biasa kita datangin? abis itu sorenya kita bisa santai-santai di bar di pinggir pantai buat lihat sunset," ajak Citra antusias.
"Okey."
"Tapi nanti temanin aku ke butik juga ya Baby, aku mau belanja."
"Iya Sayang, hari ini aku buat kamu." Senyum Citra semakin melebar mendengar ucapan Andra. Ia mendaratkan ciuman mesra singkat di bibir kekasihnya itu sebelum berlalu pergi untuk kembali melakukan pemotretan. Semua tim Citra tidak merasa asing lagi melihat pemandangan itu, mereka tahu meskipun sudah menikah, Andra dan Citra tetap menjalin hubungan. Lagi pula tidak bisa dipungkiri bahwa mereka terlihat sangat serasi dan saling mencintai.
***
"Okee okee satu episode lagi abis itu tidur," kata Agatha seolah berbicara dengan dirinya sendiri kemudian kembali melanjutkan menonton. Ia merutuki Jiny dalam hati yang selalu saja meracuninya dengan drama-drama korea yang seru yang membuatnya tidak bisa berhenti. Meskipun besok adalah hari libur, tapi tetap saja Agatha harusnya tidak tidur selarut ini.
"Duh kok gue jadi laper ya," kata Agatha memegangi perutnya yang terasa keroncongan. Liurnya hampir menetes melihat adegan makan ramen yang terlihat sangat menggiurkan membuatnya perutnya semakin terasa lapar. Sepertinya kesalahan yang besar karena tetap memaksakan untuk menonton.
"Kayaknya gue harus bikin mie dulu deh. Ah pasti enak banget nonton sambil makan mie," kata Agatha girang kemudian menjeda tontonannya dan berlalu keluar kamar.
Baru saja ia membuka pintu hendak keluar kamar, langkahnya langsung tertahan saat menyadari bahwa ia adalah satu-satunya orang yang ada di rumah besar ini. Agatha menyembulkan kepalanya keluar melihat ke kiri dan ke kanan, benar-benar terlihat sangat sepi membuat nyalinya sangat menciut. Untuk beberapa saat ia menyesali penolakannya waktu itu saat ditawari memiliki asisten rumah tangga.
Agatha sempat berpikir untuk mengurungkan niatnya dan memilih tidur saja untuk menghilangkan rasa laparnya meskipun ia tidak begitu yakin apakah ia bisa menahannya atau tidak, namun suara perutnya yang berbunyi membuat Agatha mau tidak mau harus memberanikan dirinya untuk melangkah keluar kamar menghadapi kesunyian rumahnya. Dengan langkah cepat Agatha langsung berlari menuruni anak tangga hingga berhasil sampai ke dapur.
Agatha sengaja menyalakan semua lampu agar bisa mengurangi sedikit rasa takutnya. Biasanya ia tinggal di kos nya yang tidak terlalu besar dan banyak anak-anak kos lainnya yang membuatnya tidak takut jika hendak memasak mie di tengah malam seperti ini. Namun perutnya sepertinya tidak mengerti bahwa kini Agatha tidak lagi tinggal di kosnya seperti biasa. Sekarang sekitar pukul 2 malam, jadi wajar saja Agatha merasa takut dan was-was. Tidak hanya takut pada hantu, tapi dia juga takut jika tiba-tiba ada penyusup yang memasuki rumahnya.
Agatha membuat mie rebus dengan cukup tergesa-gesa. Aroma bumbu mie yang selalu sukses membuat siapapun tergoda itu sudah tercium membuat Agatha tidak sabar untuk memakannya. Agatha langsung membuka lemari di atas kompornya untuk mencari mangkok karena mie nya sudah hampir selesai.
"Lagi ngapain sih?"
Duk..
"Awwww...." Agatha memekik memegangi dahinya yang terkena pintu lemari saat Agatha hendak berbalik karena kaget tiba-tiba ada seseorang yang berbicara dengannya.
"Agatha, lo gak papa?" sembari meringis kesakitan, Agatha melihat siapa yang datang mengagetkannya seperti ini yang ternyata merupakan Andra. Andra terlihat panik dan berusaha menjauhkan tangan Agatha yang menutupi dahinya agar bisa melihat apakah ada luka.
"Lo apa-apaan sih datang-datang ngagetin gue gitu," omel Agatha kesal.
"Ya mana gue tau kalau lo kaget. Lagian malam-malam ngapain di dapur sih. Lihat tu dahi lo malah luka. Obatin dulu."
"Gak usah," tolak Agatha. Ia sudah bisa menduga bahwa dahinya pasti terkena goresan ujung pintu lemari atas.
"Gak usah bantah." Andra mematikan kompor kemudian menarik tangan Agatha agar mengikutinya dan mendudukkan istrinya itu di atas sofa yang terdapat di ruang keluarga yang tidak jauh dari dapur. Andra langsung berlalu untuk mengambil kotak obat sementara Agatha terlihat meringis mulai merasakan sakitnya. Ia mencoba menerka-nerka bagaimana bentuk luka goresan itu dengan mengelusnya pelan. Sepertinya tidak terlalu panjang, tapi tetap saja perih.
Andra kembali dengan membawa kotak obat kemudian mengambil kapas untuk membersihkan sedikit darah yang keluar. Andra ikut meringis saat Agatha merasakan lukanya mulai perih. Walau tidak berniat untuk mengejutkan Agatha tapi tetap saja Andra merasa bersalah karena membuat Agatha terkejut dan malah menjadi terluka seperti ini.
"Tahan sedikit ya," kata Andra terlihat sangat fokus. Untuk pertama kalinya Agatha bisa melihat wajah Andra sedekat ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa suaminya ini benar-benar tampan. Tapi jika mengingat sikapnya apalagi dia memiliki pacar padahal sudah berstatus sebagai suaminya, ingin sekali rasanya Agatha mencakar wajah tampannya ini.
"Sebentar, tinggal dipakaian plester," kata Andra lagi menangkup pipi Agatha agar mengarah padanya kemudian menutupi luka Agatha dengan plester. Andra makin mendekatkan wajahnya untuk memastikan bahwa luka Agatha tertutup sempurna membuat Agatha bahkan bisa merasakan hembusan nafas Andra menerpa wajahnya. Pandangan Andra yang tadinya fokus menatap dahi Agatha tiba-tiba turun menatap mata Agatha hingga pandangan mereka bertemu untuk beberapa saat. Entah perasaan Agatha saja atau memang wajah Andra terasa semakin mendekat membuat Agatha dengan cepat menjauhkan wajahnya dari Andra dan bangkit dari duduknya.
"Makasih, tapi lain kali jangan kagetin gue lagi," kata Agatha kemudian buru-buru berlalu dari hadapan Andra. Ia langsung menuju ke dapur untuk mengambil mienya yang terlihat sudah mengembang dan membawanya ke kamar. Ia sempat melirik Andra yang masih terduduk di sofa saat hendak menaiki tangga. Saat Andra menatapnya, Agatha buru-buru masuk menaiki tangga. Ia merutuki dirinya sendiri yang tiba-tiba menjadi salah tingkah seperti ini. Padahal biasanya ia sangat ahli dalam melawan Andra.
Andra melihat punggung Agatha yang menaiki tangga. Senyum tipis terukir di bibirnya melihat gerak-gerik gadis itu. Ia merasa lega Agatha baik-baik saja. Entah kenapa ia merasa tidak tenang meninggalkan Agatha di rumah sendirian hingga membuat ia mengambil penerbangan terakhir paling malam untuk kembali pulang ke Jakarta mendahului Citra padahal rencananya ia akan bermalam di Bali. Sebenarnya yang membuat Andra tidak tenang adalah karena tadi mendapat telfon dari ibu mertuanya yang menanyakan tentang kabarnya.
***
Agatha menuruni anak tangga dengan gontai karena masih merasa kantuk saat mendengar suara bel rumahnya, sepertinya ada tamu. Siapa yang datang ke rumahnya pagi-pagi begini bahkan di hari libur seperti ini?
"Papa?" Agatha cukup terkejut, ternyata ayah mertuanya yang datang berkunjung.
"Andra mana?" tanya Tio.
"Ada di kamar Pa."
"Panggilin Andra, papa mau bicara," ucap Tio lagi yang terlihat sangat serius kemudian berlalu untuk duduk di ruang tamu. Meskipun terlihat bingung, Agatha langsung pergi ke kamar Andra untuk membangunkannya sesuai dengan permintaan ayah mertuanya.
Setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar Andra, akhirnya Andra membukannya juga. Ia sepertinya belum sadar sempurna.
"Ada papa, papa bilang mau ngomong sama lo."
"Harus sekarang banget? gue masih ngantuk," balas Andra dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Buruan!" Andra berdecak kesal kemudian menghampiri ayahnya disusul oleh Agatha.
"Kenapa sih Pa pagi-pagi udah datang?" tanya Andra saat sudah berada di hadapan Tio.
Plakkk!!!
Mata Agatha membulat sempurna saat melihat Tio menampar Andra. Andra juga terlihat tidak kalah terkejutnya saat mendapat tamparan tiba-tiba dari ayahnya.
"Tindakan sampah apa ini? apa papa pernah mengajarkan kamu untuk tidak setia? bisa-bisanya kamu masih berhubungan dengan mantan kamu di belakang istri kamu?" kata Tio terdengar marah sembari melemparkan beberapa lembar foto di atas meja. Andra menatap foto itu dalam diam, bagaimana bisa ayahnya mendapatkan foto-foto itu?