Suasana ruang makan terasa begitu intim dan romantis ketika mereka masuk. Di atas meja, lilin aromaterapi menyala lembut, sementara vas kecil berisi bunga baby’s breath berdiri manis di tengah. Cahaya lampu hias yang temaram menambah kesan hangat, dan dua gelas wine tertata rapi di samping piring porselen berisi pasta carbonara yang menguar menggugah selera. Ternyata, makan malam yang dimaksud Prajaka berbeda makna dengan apa yang disiapkan Stevani. Jelas, semua ini hanya untuk dua orang—dan Zalima tidak termasuk di dalamnya. Dia hanyalah orang luar yang tiba-tiba terjebak di antara mereka. Mengembuskan napas pelan, Zalima yang sedari tadi membuntuti Prajaka dan Stevani bak anak ayam mengekor induknya, tiba-tiba menghentikan langkah tak jauh dari pintu. Dia menggelengkan kepala, tersenyu

