Ardio melipat kertas bertuliskan puisi yang sudah dikhayalkannya sejak tadi malam, meletakkan kertas yang sudah terlipat rapi itu ke atas meja.
Mata Ardio bertemu dengan sebuah buku kumpulan puisi dari seorang gadis yang selalu dipikirkannya, ia menatap kosong buku kumpulan puisi itu, mengabaikannya, memilih menutup mata, tidur.
oOo
Dean melirik jam yang sudah tepat berada di angka 10. Ia melangkah ke sisi jendela rumah di ruangan piano, menyibak gorden, melirik rumah yang ada di depan matanya kini. Kosong, seperti tidak ada kehidupan.
Dean segera menuruni tangga, melangkah cepat.
"Kakak mau ke mana?" tanya Dandra, adik laki-laki dengan yang sedang menemani Dona, adik bungsu Dean belajar. Dandra menatap datar kakaknya itu, menunggu jawaban.
"Kakak ke sebelah dulu! Jaga rumah ya!" seru Dean mempercepat langkahnya.
Dandra hanya diam melihat kakaknya, kembali fokus pada pada adik perempuannya.
"Kak De! Dona titip es krim ya!" seru Dona, adik bungsu Dean.
"Iya! Iya." Dean balas berseru, menutup pintu.
Mama Ardio sudah berangkat kerja sejak pagi tadi, tinggal Ardio sendirian di rumah, tanpa salam Dean langsung mendorong pintu rumah Ardio yang selalu tidak pernah terkunci saat Dean datang.
Dean menghela nafasnya setelah melihat Ardio masih berbaring di atas kasurnya. Tanpa mengingat perikemanusiaan, Dean menendang tubuh Ardio dengan kakinya, berkacak pinggang. "Bangun woi!"
Ardio hanya mendesis, membalikkan tubuhnya.
Dean jadi geram, menambah tenaga di tendangannya. "Bangun nggak!?"
"Lo mau apa sih De?!" seru Ardio lemah.
"Sana siap-siap, kita ke rumah sakit sekarang!"
Ardio diam lagi, tidak merespon.
Dean menghela nafas beratnya, segera ke kamar mandi, mengambil ember yang paling besar, mengisinya penuh dengan air, mengangkat ember itu ke kamar Ardio.
Ardio masih menelungkupkan kepala di atas bantalnya, tidur.
Dean mengangkat ember itu, menyiramkannya pada Ardio. Sebelum air di ember habis, Ardio langsung duduk, marah-marah pada Dean.
"De! Kamar gue jadi basah! Lo kok jahat banget sih!?"
"Siapa suruh nggak bangun. Sana mandi, biar gue urus ini!"
Ardio mengambil handuknya, melangkah malas ke kamar mandi, berdecak sebal pada Dean, menggerutu sepanjang jalan.
Setelah Ardio keluar kamar, Dean tersenyum tipis, menghela nafas lega. Senyuman Dean langsung pudar setelah melihat kasur dan bantal Ardio yang basah. "Ah s**l! Gue harus beresin ini lagi! Buang aja kali ya?" gumam Dean kebingungan.
oOo
Selesai mandi, Ardio kembali ke kamarnya, terkejut melihat kasur dan bantal baru, sekaligus 2 tamu tak diundang yang duduk santai membaca buku di kamarnya kini.
"De... De..." panggil Ardio canggung.
"Kasur dan bantal lo udah gak layak pakai, jadi gue ganti. Gak apa-apa kan?" tanya Dean sambil menyeka keningnya yang penuh keringat karena sudah membawa kasur dari rumahnya ke rumah Ardio, dibantu oleh 2 adiknya yang menggemaskan.
"Kak Dio! Kapan main ke rumah lagi?" tanya Dona tersenyum riang, meletakkan buku Ardio yang dipegangnya ke dalam rak.
"Kapan-kapan ya Dona." Ardio mengelus lembut kepala Dona, tersenyum tipis.
"Itu piano udah karatan, sana main lagi," ucap Dandra dengan muka datarnya, fokus kembali membaca buku puisi yang ada di rak buku Ardio.
Dean dan Ardio hanya menyeringai melihat ekspresi Dandra yang tak pernah berubah sejak dulu. Benar-benar anak yang unik.
"De, kasur lama gue lo kemanain?" tanya Ardio heran.
"Hmm...? Gue bakar di belakang."
Ardio langsung berlari ke belakang rumahnya. "Itu ada banyak kertas berharga gue kamp-- haaaah!." Ardio tidak menyelesaikan kata kasarnya karena ada adik Dean di kamarnya, hanya membuang nafas berat.
"Eh!?" Dean kaget, ikut berlari, Dean sama sekali tidak sadar ada barang lain di kasur Ardio.
Sampai di halaman belakang rumah, Ardio terduduk depresi, memegangi kepalanya. Kumpulan puisi-puisi berharganya sudah lenyap dibakar Dean.
"Aduh maaf ya... gue gak tau." Dean menggigit bibirnya, merasa bersalah.
Ardio menghela nafas setelah terdiam cukup lama. "Sudahlah, lupakan saja. Hitung-hitung sebagai bayaran atas kasur baru lo. Terima kasih juga udah beresin kamar gue." Ardio melangkah pergi, kembali masuk ke rumah dengan raut wajah kecewa.
Sampai di kamar Ardio melihat Dona yang mau membuka kertas yang baru diambilnya di atas meja, Ardio segara merebut kertas itu dari Dona.
Dona kaget karena kertas yang ada di tangannya tiba-tiba hilang. "Eh?" Dona membalik-balik tangannya, kebingungan.
Ardio menghela nafas lega. Bersyukur Dona tidak membaca puisi yang dibuatnya dari semalam.
Dean yang bersender di pintu menatap kertas lipat yang dimasukkan Ardio ke dalam sakunya, diam, tidak berkomentar apa-apa. Sedangkan Dona masih sibuk mencari kertas yang tiba-tiba hilang ditangannya, tidak sadar bahwa Ardio sudah merebutnya.
Dandra masih fokus membaca buku yang ada di tangannya, mengabaikan lingkungan sekitar.
oOo
Dona menarik-narik tangan Ardio, mengajak Ardio bermain masak-masak bersamanya. Menggerutu karena Dandra tidak mau diajak main. Dean menepuk keningnya melihat si bungsu. "Dona, Kakak sama Kak Dio mau pergi, Dona main sendiri aja ya?" bujuk Dean.
Dona menggeleng hebat. "Enggak! Kakak gak boleh monopoli Kak Dio! Sana Kakak pulang, hus! Hus!" Dona melambai-lambaikan tangannya pada Dean, mengusir.
Kening Dean langsung berkernyit melihat Dona berani mengusirnya. "Dandra! Bawa Dona pulang!" seru Dean mulai kesal.
Dandra menutup bukunya, menarik tangan Dona. "Ayo pulang."
Dona menggeleng, melepas pegangan Dandra. "Dona gak mau! Dona mau main sama Kak Dio!" seru Dona, mengembungkan pipinya, ngambek.
"Kakak temeni main," ucap Dandra dengan masih memakai muka datarnya.
"Eh? Serius?!" tanya Dona nampak senang.
Dandra mengangguk pelan.
Donat langsung bersorak senang. "Ayo!" Dona melepaskan pegangannya dari Ardio, melambaikan tangan pada Ardio tersenyum lebar. Dona melirik Dean, langsung mencibiri Dean. Mengikuti langkah Dandra yang menggandengnya pulang.
"Hahaha anak si*lan," gumam Dean kesal.
Ardio hanya menyeringai melihat Dean yang mengumpat adiknya sendiri.
"Ayo ke rumah sakit!" seru Dean menatap tajam Ardio.
"Tapi De--"
"Gak bakal ada masalah kok! Gue pastiin lo ketemu sama Zen, berduaan aja," ujar Dean meyakinkan.
Ardio diam sejenak, berdiri dari duduknya.
Dean tersenyum tipis. "Ayo!"
Mereka menaiki mobil online ke rumah sakit, sejak di dalam mobil Dean sibuk dengan ponselnya, membalas pesan dari seseorang. Ardio hanya diam sambil melihat pemandangan dari balik kaca mobil, tak berbicara sepatah kata pun, sekali-kali mengenggam sakunya yang berisi kertas yang direbutnya dari Dona tadi.
Selesai bertanya di resepsionis, Dean dan Ardio melanjutkan langkah menuju kamar Zen, tapi di tengah perjalanan, Dean menghentikan langkahnya, tersenyum tipis pada Ardio.
"Lo duluan aja, mau ngobrol sesuatu kan sama Zen? Tenang aja, bokap nyokap nya Zen baru pulang, Zen sekarang sendirian. Temani gih!" seru Dean sambil menyikut lengan Ardio.
"Ta--"
"Gak usah tapi-tapian, sana! Gue titip salam ya!" seru Dean sambil melambaikan tangannya meninggalkan Ardio.