“Ra… Laura!” Panggilan Ian membangunkanku, membuatku terperanjat dan bernapas cepat. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling dan mendapati bahwa diriku kini berada di dalam sebuah mobil, lalu berhenti pada sosok Ian yang menatapku khawatir. “Laura, kau baik-baik saja? Kau terlihat seperti baru saja bermimpi buruk?” Aku menegakkan posisi dudukku dan menekan ujung kedua mataku. “Apa kita kembali saja?” kata Ian. “Tidak. Aku hanya tertidur sebentar, bukan pingsan,” kataku. Kulihat dari kaca depan, rupanya Ian sedang menepikan mobilnya. Aku mengambil ponselku dan mulai mencari sesuatu disana. “Ingin pergi kemana?” tanya Ian. Aku tidak menjawabnya dan tetap terpaku pada ponselku. Disana, aku mengetik nama Jonathan. Ada deretan nama yang muncul di bawahnya setelah aku mengetiknya, namun

