Aku terdiam dan menatap mereka berdua secara bergantian seperti aku sedang menatap permainan ping pong. Tiba-tiba aku merasa seperti berada di dunia komik, dengan petir yang menggelegar di atas kami ketika dua musuh saling bertemu. “Hai, Jonathan,” sapa balik Ian akhirnya. Aku menatap mereka berdua dengan alis saling bertaut. “Kalian… saling kenal?” tanyaku menunjuk mereka berdua secara bergantian. Mereka berdua menatapku bingung. Aku langsung menutup mulutku. Aku sama sekali lupa kalau mereka tidak tahu apa yang terjadi denganku sekarang. “Ada apa denganmu?” tanya Ian menautkan alisnya. “Aku… kau tahu, aku sekarang sedikit… pelupa, jadi…,” aku tersenyum pada Ian, meskipun memaksa. Dengan cepat aku langsung menggandeng lengan Jo. “Sayang, ayo kita pulang. Aku sangat lelah,” kataku me

