lupakan aku, Raka

1052 Words
Selamat membaca. Seketika aku menengok lagi ke belakang dan mobil itu sudah tidak ada di tempat, padahal tidak terdengar deru mobil nya. Lagipula belum genap sepuluh langkah aku berjalan mobil itu sudah menghilang dari pandangan. Sungguh aneh, bulu kuduk ku berdiri seketika. Cepat-cepat aku masuk ke dalam restoran dan menyimpan tas di loker khusus karyawan. Kemudian aku mengambil segelas air dan menenggak nya hingga tandas. Lalu aku mengingat lagi wajah supir taxi online tadi, rasanya aku gak asing. Apalagi saat dia tersenyum, wajah nya mirip sekali dengan, Bapak. Deg Ada sesuatu yang menindih d**a ku, aku tidak salah kalau supir tadi mirip bapak. Lagipula kenapa Ia bisa tahu kalau aku lagi ada beban pikiran? Ah sungguh aneh kejadian pagi ini. Aku pun bernafas lega saat melihat teman-teman ku sudah datang. Matahari sudah mulai meninggi. Biasanya pelanggan akan datang di jam-jam istirahat seperti ini. Karena letak nya yang strategis, restoran ini selalu ramai dikunjungi oleh para mahasiswa. "Lea, lo sakit? Muka lo pucat banget," ucap Sisil memegang kening ku yang sedikit berdenyut. Lalu menggeleng pelan. "Terus kenapa lo lemas dan pucat banget?" Tanya nya lagi memasang wajah prihatin. "Lo inget sama almarhum bokap lagi? Atau ibu ada masalah?" Cecar nya tanpa memberi ku kesempatan untuk menjawab pertanyaan nya. Aku pun menggeleng lagi kemudian tersenyum geli. Dia lah sahabat terbaik yang aku punya. Cessilia Agatha, seorang ibu beranak satu yang di tinggal pergi suami saat ia baru saja melahirkan anak pertama mereka. Dia lah tempat kedua-setelah ibu, yang selalu setia mendengarkan keluh kesah ku. Saat bertemu dengan nya, aku sedang menangis di depan emperan toko. Masa itu aku baru saja lulus sekolah menengah atas dan sedang mencari pekerjaan. Karena seharian penuh mencari tapi tidak kunjung dapat, aku pun duduk di kursi depan toko yang akan tutup. Baru saat pemilik toko menutup tokonya dan pergi, aku menangis menumpahkan semua kecewa yang ada di hati ku ini. Kecewa pada kenyataan, kecewa pada Tuhan yang dengan tega nya mengambil bapak begitu cepat hingga membuat kami hampir mati kelaparan. Tapi semua nya berubah seratus delapan puluh derajat saat tuan Hardinata datang menawarkan uluran tangan, meminta ibu untuk menemani istrinya yang baru saja melahirkan dan menjadi pembantu di istana mewah milik nya, dan dengan kedermawanan nya pula beliau memberikan ku tunjangan pendidikan sampai lulus universitas. Semoga Tuhan memberkati mereka. "Woy, ngelamun terus. Dengar gak aku bicara tadi?" Tanya nya membangunkan mu dari lamunan. "Eh, iya. Emm enggak," jawab ku sambil nyengir kuda lalu membentuk huruf v dengan dua jari. "Itu, ada Raka di luar nyariin lo." Ucapnya berdecak kesal. "What?" Sontak aku membulatkan mata mendengar nama itu di sebut. Lalu bangkit dan berlari ke pintu dan mengintip dari celah pintu yang terbuka. Ternyata benar, Raka tetap mengikuti ku. Ya Tuhan, aku harus bagaimana ini? Ku tarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan. Huft "Allea," panggil nya dengan mata sendu. "Ada apa?" Tanya nya lagi, aku hanya membuang muka dan melengos pergi. ""Tunggu Lea, tolong katakan ada masalah apa? Jangan seperti ini." Cecar nya lagi sambil mencekal lengan ku pelan. Susah payah aku mengatur pernapasan yang sudah sangat menyesakkan d**a ini. Jangan sampai aku menangis di depan Raka. "Aku minta sekali lagi, lupain aku dan semua tentang kita. Aku minta maaf, aku akan segera menikah dengan pria lain yang lebih dulu memberi ku kepastian." Terang ku se tegar mungkin, maafin aku, Raka. Bukan maksud hati melukai mu, tapi apalah daya ku yang terlalu menyayangi ibu dan tidak ingin membuat ibu bersedih. Sekilas ku lirik raut wajah nya yang seketika memerah, nyali ku menciut saat melihat tangan nya terkepal erat. Aku beringsut ke belakang beberapa langkah. "Kenapa? Kenapa baru sekarang kamu katakan semua nya? Selama ini kamu anggap aku apa?" Tanya nya lembut, perlahan tangan nya melemah dan wajah nya sedikit lebih tenang. Secepat itu dia berhasil menguasai diri dari amarah? Sungguh laki-laki baik. "Ibu, beliau selalu bertanya kapan kamu akan datang meminta ku kepada nya, beliau sudah tua, sama seperti seorang ibu yang lain nya, ingin menikahkan putrinya dan menimang cucu." Ucap ku pelan sambil menata kata agar dia tidak curiga dan tersinggung. "Bukan sekali aku menanyakan kepastian dari mu tapi apa yang aku dapat? Kamu selalu mengatakan bahwa belum waktu nya kita menikah. Maafin aku yang sudah melukai perasaan mu, tapi aku tidak bisa melihat ibu bersedih setiap hari," ucap ku berlalu dari hadapan nya dengan d**a yang bergemuruh hebat. Ku tinggalkan dia yang masih berdiri mematung setelah mendengar penjelasan panjang lebar ku tadi. Bukan cuma kamu yang tersakiti, Raka. Aku pun sama. Segera ku masuk ke dalam ruang istirahat pelayan dan menangis sejadi jadinya. Ku tumpahkan semua nya untuk sedikit meringankan rasa sesak yang sedari tadi memenuhi rongga pernapasan. **** Malam ini aku harus bersiap. Kata ibu, kita di undang makan malam di rumah tuan besar atau yang sebentar lagi akan menjadi mertua ku. Aku harus tampil cantik agar tidak membuat ibu malu karena membawa gadis kampungan seperti ku. Seperti apa ya calon suami ku nanti? Tapi kenapa sepeti ada sesuatu yang mengganjal di hati? Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa di malam yang sungguh mendebarkan ini. Setelah di rasa cukup aku pun segera keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu sambil menunggu ibu yang belum selesai bersiap. Tak berapa lama ibu pun keluar dengan gamis navy membalut tubuh nya, lengkap dengan jilbab warna senada yang membuat ibu tampak lebih muda dari usia nya. "Masya Allah, ibu cantik banget. Aku sampai pangling lho, Buk." Ucap ku berdecak kagum sambil memutar tubuh ibu ke kanan dan kiri bergantian. aku minder dengan wajah ku yang tak secantik ibu. "Allea putri ibu lebih cantik, kok," puji nya membuat pipi ku mendadak hangat. "Ayo ah, Buk. Nanti kita terlambat, kan gak enak kalau tuan besar menunggu kita terlalu lama." Ajak ku mengalihkan perhatian nya, yang di ajak bicara hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya lalu mengikuti ku dari belakang. Aku pun langsung menaiki motor tua peninggalan bapak yang sering di gunakan nya saat mengantar jemput ku sekolah. Ku usap lembut motor penuh sejarah ini dan menyalakan mesin nya perlahan, lalu memanaskan nya sebentar. Maklum, motor tua. Kalau tidak di panaskan bisa-bisa nanti mogok di tengah jalan. "Tunggu sebentar, Nak. Ibu ketinggalan sesuatu di dalam." Cegah nya saat hendak naik ke atas motor. Berjalan perlahan memasuki rumah yang sudah di kunci rapih. Beberapa saat kemudian beliau sudah kembali membawa sesuatu yang ku tahu itu adalah..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD