18. Sebait doa Klik! Dentingan suara pintu terdengar, bersyukur Fadhil tidak mengunci pintu kamar. Perlahan Inaya menggeser daun pintu, menyembulkan kepalanya sedikit untuk mengintip keadaan didalam kamar. Inaya menahan nafas, mencoba mempersiapkan diri dengan apa yang akan dilihatnya nanti. Mata Inaya membulat sempurna, dengan berlari ia masuk ke dalam kamar, reflek mulutnya berteriak. “Astagaaa .... Fadhiiil!” Buru-buru Inaya masuk ke kamar, mengejar Fadhil yang sedang tidur ditimbun oleh selimut tebal. Tubuhnya menggigil walaupun selimut sudah menutupi seluruh badan sampai ke leher, selimut tersebut tidak bisa menghangatkan Fadhil yang sedang menggigil kedinginan. Inaya duduk di pinggir ranjang, satu tangannya memegang kening Fadhil. kening tersebut basah oleh keringat namun tubuhn

