47. Beri Aku Waktu Dengan lunglai, Fadhil berjalan menuju sofa. Dihempaskannya tubuhnya di salah satu sofa. “Tidak! Aku tidak boleh pergi. Aku harus tetap berada di sini, mempertahankan dia yang menjadi milikku.” tekadnya. "Kamu sudah datang, Dhil? Bagaimana hasil pemeriksaan kesehatan nya?" Inaya menemui Fadhil dalam keadaan rambut basah sehabis mandi. Fadhil menatap nanar pada Inaya, pikiran-pikiran buruk membayanginya. Namun, dikuatkan hatinya jika Inaya tidak mungkin melakukan hal-hal bodoh di luar norma. "Ada tikus mati di dapur, pagi tadi aku menyadarinya, baunya busuk sekali, Dhil. Aku menelpon Dewa untuk membantu membuangnya. Kebetulan Dewa menginap di hotel yang tidak jauh dari sini." Inaya menjelaskan kepada Fadhil karena ia merasakan Fadhil memiliki pikiran bur

