11. Gagal Honeymoon.
Lima menit kemudian, Fadhil keluar dari gerai ATM. Ia bermaksud menyeberangi jalan kembali untuk menghampiri Inaya. Inaya berteriak dengan kuat memanggil nama Fadhil seiring dengan suara decitan rem dan benturan keras yang terjadi di seberang sana. Sebuah sepeda motor yang melaju kencang menabrak Fadhil dan tersungkur ke trotoar.
Beberapa orang yang berada di dekat terjadinya kecelakaan berhamburan menuju titik kejadian. Fadhil yang terduduk di atas trotoar memegangi kakinya yang ditabrak oleh seorang pesepeda motor yang sedang terguling di sampingnya. Karena menghindari Fadhil, pengemudi motor yang masih ABG itu melempar setir motorny ke kiri dan menghantam trotoar. Aksinya itu kalah cepat, sebelum menghantam trotoar, motor yang ia kendarai sempat menabrak kaki Fadhil yang hendak menyeberang.
“Kamu tidak apa-apa?” inaya menghampiri Fadhil, wajahnya cemas dan pucat menyaksikan tabrakan yang terjadi persis di depan matanya.
“Tidak apa-apa.” jawab Fadhil, kemudian kepalanya melihat ke samping dimana pengendara motor tadi telah dibantu untuk duduk oleh beberapa orang yang datang membantu.
“Kamu tidak apa-apa?” pertanyaan yang sama ditanyakan Fadhil untuk pengemudi motor yang menabraknya.
“Tidak apa-apa, om.” jawabnya meringis sambil memegangi siku tangan yang berdarah.
“Pak, bisa bawa kami ke klinik yang dekat dari sini?” Inaya meminta tolong pada orang yang masih berkerumunan untuk membantu membawa Fadhil dan pengemudi dibawah umur tadi ke klinik terdekat untuk mendapatkan pengobatan.
***
“Sebelum menyebrang itu lihat kiri kanan, sudah dewasa kok masih tidak tau aturan.” Ramini mendumel. Fadhil dan Inaya di jemput kembali oleh Adi setelah mendapat telepon dari Inaya. Mereka langsung check-out dari hotel dan dibawa Adi pulang kerumah Ramini. Sejak kedatangan mereka, Ramini tidak berhenti bicara, merutuki Fadhil yang tidak hati-hati. Ditengah rutukannya, ia juga mengucapkan syukur karena yang terjadi hanya kecelakaan kecil.
“Apa kata dokter?” Ramini bertanya lagi, pertanyaan yang sudah berkali-kali ia tanyakan.
“Besok pagi di Terapy, Nek.” jawab Inaya sambil mengulum selum.
“Apa gak diurut saja? Itu Pak Johar tukang urut bisa urut patah tulang juga.” Ramini menganjurkan urut pada Fadhil.
“Gak usah, terapy saja. Lagian Fadhil gak patah tulang. Kata dokter, sekali atau dua kali terapy udah bisa lari lagi.” tolak Fadhil. Tentu saja ia lebih memilih di terapy daripada urut traditional. Dalam dunia kedokteran, dua hal itu sangat bertentangan.
Rencana jalan-jalan plus bulan madu mereka jadi gagal karena kecelakaan kecil yang terjadi. Setelah di terapy, Fadhil harus berdiam diri di rumah untuk pemulihan. Sebenarnya ini hal yang sangat menguntungkan bagi Fadhil. Dengan kecelakaan yang dialaminya, Fadhil tidak perlu lagi berfikir bagaimana caranya ia menghindari rencana bulan madu yang di siapkan oleh ibunya.
Sebelumnya, Fadhil sengaja mengajak Inaya melakukan perjalanan yang membutuhkan tenaga yang besar. Supaya malamnya, mereka langsung tidur karena sudah lelah di siang hari. Karena itulah Fadhil ngotot ingin bersepeda ke Lembah Ngarai sianok, padahal Adi mau saja mengantarkan mereka dengan mobil namun di tolak oleh Fadhil. Adi juga menawarkan untuk menggunakan sepeda motor, alih-alih menggunakan sepeda lebih baik memakai sepeda motor mengingat lembah yang mereka turuni cukup panjang. Fadhil tetap menolak dan bersikeras menggunakan sepeda.
Jadilah sisa tiga hari liburan mereka di habiskan Fadhil dengan duduk manis di rumah neneknya. Rencana bulan madu berkedok mengunjungi nenek yang disiapkan Ratna, gagal karena kecelakaan kecil yang dialami Fadhil. Fadhil tersenyum lebar karena itu, ia tidak perlu repot mencari cara menghindar dan melawan kehendak ibunya karena tuhan sudah menunjukkan caranya. Fadhil sangat bersyukur, kecelakaan yang dialami hanya kecelakaan ringan. Fadhil anggap, ini jalan tuhan yang sedang memihak pada nasibnya. Prospek bulan madu rencana Ratna, telah gagal. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan rencana bulan madu yang disiapkan Ratna. Hanya saja Fadhil yang belum siap untuk perjalanan itu. Menikahi Inaya saja, butuh keberanian yang besar apalagi mengajaknya bulan madu. Fadhil belum siap.
***
Inaya masih memperlihatkan wajah cemberut selama perjalanan mereka dari rumah menuju bandara. Lima hari di kota Bukittinggi bersama Fadhil, tidak ada kesan romantis yang bisa dikenangnya. Ia senang mengenal semua keluarga besar Fadhil, tapi ia juga mengharapkan sisa tiga hari mereka sebelum pulang ke Bandung mereka lalui berdua, menikmati waktu sebagai pasangan yang baru menikah.
“Kenapa wajah kamu seperti itu? Tidak senang kembali ke Bandung?” tanya Fadhil disaat mereka sudah berada di ruang tunggu keberangkatan.
“Senang.” Jawab Inaya acuh.
“Sepertinya tidak. Kamu kelihatan tidak senang, terpancar jelas aura tidak senangnya dari wajahmu.”
“terus, saya harus senang ketika kamu kecelakaan dan tidak bisa mengajak mengajak saya jalan-jalan?” karena kesal, kata aku yang biasanya di ucapkan berganti dengan kata saya.
“Yaaa, terserah kamu. Kalau saya malah bersyukur.” Fadhil berkata sambil berlalu, meninggalkan Inaya menuju toilet.
“Bersyukur?” Inaya bergumam, kedua mata menyipit. “Dasar!!! Manusia tidak berperasaan!” umpatnya kemudian.
***
“Alhamdulillah, anak mantu ibu sudah pulang. Bagaimana kakimu, Dhil? Terus bagaimana bulan madunya? Kalian bisa bikin anak kan? Yang sakit kan cuma kaki, bulan depan ibu sudah bisa dihadiahi calon cucu kan?“
Ratna sangat antusias menyambut kepulangan anaknya. Ia memberondong Fadhil dan Inaya dengan pertanyaan yang membuat telinga Fadhil sakit mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut Ratna.
Inaya menanggapi celotehan Ratna dengan senyuman, kedua tangannya ia kembangkan lalu memeluk Ratna dengan erat. Fadhil juga melakukan hal yang sama, usai Inaya, ia juga memeluk ibunya dengan erat. Setelah itu, Fadhil meminta izin untuk beristirahat di kamar.
Inaya mengekori Ratna menuju dapur, ia mengeluarkan oleh-oleh yang ia bawa dari Bukittinggi. Ada juga rendang yang khusus dibuatkan Ramini untuk mereka.
“Bagaimana perjalanan kalian? Kamu menikmatinya kan?“ tanya Ratna. Ia sangat antusias mendengar cerita perjalanan mereka.
“Iya Bu, kami jalan-jalan keliling kota Bukittinggi.“ jawab Inaya seraya mengukir senyum di bibirnya.
“ Baguslah kalau kamu senang. Kapan mulai masuk kerja?“
“ Lusa Bu, jadi besok masih bisa istirahat satu hari.”
“ Kamu jangan terlalu capek ya, ntar bayi yang sudah kalian buat jadi gagal lagi.”
Inaya melongos mendengar penuturan ibu mertuanya. “Program bayi yang sudah dibuat? Entah kapan itu akan terjadi.” Inaya bermonolog di dalam hati.
***
Subuh sekali Inaya sudah siap dengan setelan pakain kerjanya. Ini hari pertama dia kembali bekerja setelah menghabiskan dua minggu waktu cuti yang diberikan pihak Universitas. Inaya tidak di izinkan Ratna untuk mengendarai mobilnya sendiri ke Jakarta. Ayah mertuanya juga demikian, beliau meminta Mang Maman sopir Soetopo untuk menjadi sopir Inaya selama perjalanan dari Bandung ke Jakarta.
Fadhil merasa lega, karena mereka kembali ke rutinitas sehari-hari. Kesibukan mereka berdua tentu akan memperkecil ruang untuk mereka menghabiskan waktu bersama.
Agar tidak menimbulkan kecurigaan dimata kedua orangtuanya, Fadhil mengantar Inaya sampai ke mobil. Mereka berpamitan bak sepasang suami istri yang bahagia.
Inaya berfikir panjang sambil menyandarkan kepalanya ke kursi. Selama perjalanan dia memikirkan rumah tangganya. Ada untungnya dia tidak menolak disupiri Mang Maman, dia bisa selonjoran sambil berfikir akan rencana masa depan untuk menaklukan hati Fadhil.
Ya, mereka memang baru menikah dua minggu. ‘Apa yang harus aku cemaskan? Bukankah kami baru saja saling mengenal?’ Satu sisi hati Inaya berkata. ‘Tapi kenapa Fadhil tidak mau menyentuhnya sama sekali? Padahal mereka tidur tidak hanya dalam satu kamar tetapi juga di satu ranjang.’ kata sisi hati Inaya yang lain. Inaya merasa frustasi, apalagi mengingat perlakuan Fadhil tadi malam kepadanya.
Flashback on
“Apa yang kamu lakukan Nay?” tanya Fadhil.
Sebelum tidur, Inaya sengaja memakai lingerie yang dibelinya bersama Siska sebelum dia mengambil cuti menikah. Menurut Siska, suaminya sangat suka dia memakai linjerie dengan model yang dipakainya sekarang. Dan Inaya memakainya tadi malam berharap Fadhil juga tergoda pada dirinya.
“Dhil, kita kan sudah dua minggu menikah, masa kamu tidak tertarik untuk menyentuhku?“ ujar Inaya. Dia sengaja mengekspresikan tubuhnya seseksi mungkin dihadapan Fadhil.
“Ck ... Inaya, kamu lupa kalau aku seorang dokter kandungan? Melihat yang lebih dalam dari apa yang kamu suguhkan sekarang aku sudah sering. Dan aku sama sekali tidak tertarik! Berhentilah melakukan hal bodoh dan mempermalukan dirimu sendiri.“ Fadhil tersenyum menyeringai penuh kemenangan, sementara Inaya serasa jatuh ke jurang yang paling dalam. Belum pernah dia dipermalukan seperti ini. Sekarang dia justru dipermalukan oleh suaminya sendiri.
Flashback Off
Inaya menarik nafas nya dalam kemudian mengeluarkannya dengan kasar. Mengingat kejadian tadi malam rasanya Inaya tidak sanggup lagi melihatkan wajahnya dihadapan Fadhil. Dia benar-benar frustasi.