KESIMPULAN NESIA

1114 Words
“Apa maksud Anda dengan sebuah pertemanan, Tuan Lukas?” Nesia bertanya heran. Lukas tersenyum untuk melunakkan hati Nesia. “Ya. Berteman dengan sederhana, tanpa saya memanggil dengan sebutan ‘anda’ tetapi bisa memanggil dengan sebutan ‘kamu’. Dan Anda juga bisa memanggil saya hanya dengan Lukas, tanpa harus memanggil saya dengan Tuan Lukas. Bagaimana?” Lukas menawarkan sebuah persahabatan pada Nesia. Nesia terdiam, mengerutkan keningnya dengan mata terpaku pada Lukas yang sama tampannya dengan Remy. “Uhuk!” Berpikir tentang Remy saja sudah membuat Nesia tersedak. Benar-benar pria itu seperti penyakit di hari-harinya. Mendengar Nesia tersedak, Lukas buru-buru menyodorkan minuman ke depan Nesia. Gadis itu menerimanya dengan segera dan meminumnya. “Terima kasih, Tuan Lukas.” Nesia mengusap bibirnya dengan tisu, kemudian kembali menatap Lukas. “Saya tidak masalah jika harus berteman dengan siapapun, Tuan Lukas. Saya takut Anda yang bermasalah jika berteman dengan saya.” Nesia berkata dengan jelas. “Anda salah duga, Nona Nesia. Saya tak ada masalah jika berteman dengan siapapun,” jawab Lukas dengan senyum bijak. “Tapi majikan Anda tidak akan menyukainya, Tuan Lukas. Jadi daripada menimbulkan masalah, akan lebih baik jika posisi kita tetap seperti semula. Seperti sekarang.” Nesia menegaskan. “Tuan Remy tidak akan secermat itu dengan saya. Kita tetap menyapa formal jika di depan Tuan Remy. Tapi Anda bisa memanggil saya dengan Lukas saja jika beliau sedang tidak ada. Bagaimana?” Lukas menatap Nesia dengan mata berbinar penuh bujukan layaknya membujuk anak kecil yang sedang merajuk. Nesia balik menatap Lukas dengan pandangan tak percaya. “Memangnya mengapa saya harus menerimanya?” Nesia menatap Lukas. Jleb! Lukas kehilangan jawaban dengan pertanyaan tak terduga dari Nesia kali ini. “Ya, saya tidak mengharuskan Anda menerimanya. Saya hanya menawarkan, barang kali Anda berkenan berteman dengan saya tanpa formalitas.” Akhirnya Lukas menemukan jawaban atas pertanyaan polos Nesia. “Bagaimana saya tahu bahwa pertemanan yang Anda tawarkan itu adalah sebuah ketulusan? Anda adalah asisten Tuan Remy Yang Agung. Bukan tidak mungkin bahwa hal ini sudah kalian rencanakan dengan baik, kan?” Nesia mengungkapkan kecurigaannya. Lukas semakin terpukau dengan jawaban Nesia yang artinya jelas mencurigai tawaran persahabatannya. Namun, pria itu kemudian tersenyum. “Tuan Remy tidak tahu dengan semua ini. Jadi sebaiknya Anda tidak mencurigai saya, Nona Nesia.” Lukas meneguk air putih yang ada di depannya untuk menetralkan hatinya yang penuh kejutan dengan jawaban Nesia. Sepertinya Nesia bukan perempuan biasa yang tanpa kecerdasan. “Saya berhak mencurigai kalian semua atas apa yang saya alami dalam beberapa hari ini. Semuanya begitu tiba-tiba, Tuan Lukas. Bahkan saya curiga bahwa kalian sedang berencana untuk menjual saya, menjual organ tubuh saya sebagaimana yang disiarkan oleh berita-berita belakangan ini.” Nesia benar-benar dramatis ketika mengatakan hal ini. Lukas tertawa mendengar ungkapan kecurigaan itu. “Bagaimana mungkin Anda menyimpulkan seperti itu, Nona Nesia? Saya sudah ikut dengan Tuan Remy semenjak saya masih remaja. Dan beliau tidak harus berbisnis menjual organ tubuh hanya untuk mendapatkan uang. Beliau sudah sangat kaya, bahkan jika beliau hanya makan dan tidur, uang sudah datang dengan sendirinya.” Lukas memberikan sedikit ulasan mengenai siapa Remy yang sebenarnya. “Kalau memang seperti itu, tidak seharusnya Dona kabur sehingga menimbulkan kesulitan dalam kehidupan saya, Tuan Lukas.” Nesia menatap Lukas dengan galak. Lukas terdiam seketika. “Untuk hal ini, memang semua di luar dugaan, Nona Nesia. Saya juga tidak menyangka bahwa Nona Dona akan meninggalkan pernikahan demi bersama dengan kekasih pertamanya dulu. Atas nama Tuan Remy, saya meminta maaf.” Lukas bahkan mengulang kembali permintaan maafnya untuk menetralkan suasana hati Nesia. Bagaimanapun, dia juga punya andil yang besar pada nasib yang dialami Nesia kali ini. Nesia hanya angkat bahu dengan wajah datar. “Kalau kamu memaksa, apa boleh buat? Tapi saya tidak akan mudah memberi maaf pada siapapun, jika memang ada yang tersembunyi dari niat kamu kali ini.” Nesia berkata acuh tak acuh dengan bahasa yang mulai kehilangan bahasa formalnya. Mendengar hal ini, Lukas tertawa. “Baiklah kalau kamu bersedia. Bisa kita berjabat tangan sebagai tanda pertemanan kita dimulai?” Lukas mengulurkan tangannya. Namun, Nesia tidak buru-buru menerimanya dan hanya menatap tangan itu. “Apakah tanganku kotor?” Lukas mengamati tangannya. “Tentu saja tanganmu tidak kotor, Lukas. Hanya saja kalian tidak diperkenankan berjabat tangan dengan orang lain, kan?” Nesia menatap Lukas, dan bayangan bahwa tidak boleh berjabat tangan muncul di kepalanya. Lukas tersenyum. “Ah, bukankah aku sudah bilang bahwa formalitas itu bisa kita lakukan bila di depan Tuan Remy? Selebihnya, mengapa kita tidak bersikap sebagaimana yang lain?” Lukas menatap Nesia dengan kocak. Nesia mengangkat alisnya dan tersenyum tipis. “Baiklah kalau begitu,” ujar Nesia yang kemudian menerima uluran tangan Lukas dan menjabatnya erat. Lukas tersenyum lebar, meski dalam hati dia heran karena merasakan bahwa tangan Nesia begitu kasar. Tidak sehalus tangan para gadis lain sebagaimana biasanya. “Hari ini mungkin kamu akan mulai belajar kepribadian, Nes. Jadi sebaiknya kamu segera bersiap,” kata Lukas memberitahu Nesia. “Apakah kita perlu datang ke sekolah itu?” Nesia menatap Lukas. Lukas tersenyum dan menjawab, “Tentu saja tidak, Nes. Guru privatenya yang akan datang ke sini.” Lukas memberitahu. “Oh, ya? Seperti les private?” Nesia tentu saja tidak banyak tahu, namun dia bisa mengira-ngira apa dan bagaimana sebuah les private. “Ya. Tentu saja karena ini memang les private. Hanya saja pelajaran yang akan diberikan bukan semacam pelajaran sekolah.” Lukas memberikan sedikit ulasan. Nesia manggut-manggut mencoba mengerti. “Guru kamu nanti adalah seorang perempuan cantik dan elegan.” Lukas memberitahu mengenai guru private Nesia. Seketika Nesia menatap dirinya sendiri dan tersenyum miris saat menyadari bahwa dia begitu jauh dari kata elegan. Menyadari hal ini, Lukas buru-buru mengkonfirmasi. “Eh, maaf, Nes. Aku tidak bermaksud membandingkan kamu dengan Miss Rosa, tidak sama sekali. Aku hanya sedikit memberi gambaran bagaimana Miss Rosa padamu. Namun, aku tidak mau kamu merasa minder atau insecure dengan beliau.” Lukas meminta agar Nesia tetap percaya diri. “Jam berapa beliau datang?” tanya Nesia akhirnya setelah menerima anjuran Lukas. Pria itu lega karena dilihatnya Nesia mulai santai. “Setengah jam dari sekarang dia akan datang, sebagaimana yang dijanjikan kemarin. Jadi aku rasa kamu bisa bersiap dari sekarang.” Nesia mengangguk. “Dimana kami akan belajar, Lukas?” Nesia menatap Lukas. “Di belakang ada ruang santai yang bisa kalian gunakan untuk belajar dengan santai. Ayo ikut denganku.” Lukas mengajak Nesia ke ruang belakang yang menghadap langsung pada taman belakang yang meski tidak begitu luas tapi cukup asri dan sejuk. Nesia mengangguk dan mengikuti langkah Lukas. Berjalan di belakang Lukas, Nesia menyadari satu hal bahwa postur tubuh pria di depannya ini sedikit mirip dengan tubuh Remy. Bahkan cara berjalan keduanya juga hampir sama. Dalam diam Nesia menyimpulkan, apakah mereka bersaudara? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD