Mendengar kalimat Edo, Remy tersenyum masam. Bagaimana mungkin Edo menanyakan hal ini? Bukankah dia tahu yang sebenarnya?
“Dia hanya istri sementara, Do. Mana mungkin aku menyentuhnya? Lagi pula, dia begitu ketus dan sering menentang aku, apapun yang kukatakan,” keluh Remy dengan serius.
Edo tentu saja terkejut mendengar pengakuan Remy ini. Laki-laki tampan itu tertawa mendengarnya. Kalau bukan Remy yang berkata sendiri, mungkin Edo tak akan percaya bahwa gadis sekelas istrinya yang sekarang itu akan berani menentang Remy.
“Menentangmu? Aku nggak salah dengar, kan?” Edo benar-benar tak percaya.
“Apakah aku pernah berbohong sama kamu? Bahkan penyakitku juga hanya kamu yang paling tahu, kan?” Remy menatap Edo sekilas.
“Kurasa dia perempuan istimewa,” gumam Edo.
Mendengar Edo mengambil kesimpulan seperti itu, Remy tersenyum. Tentu saja Remy sebenarnya setuju dengan kalimat Edo, mengingat baru kali ini dia bertemu dengan gadis aneh seperti Nesia. Tapi tentu saja dia tak mau menempatkan Nesia pada posisi istimewa itu, karena dia khawatir Nesia akan besar kepala.
“Istimewa? Istimewa dari mana?” tanya Remy ingin tahu dimana letak keistimewaan Nesia di mata Edo.
“Karena selama kita berteman, hanya ini satu-satunya perempuan yang tidak terpesona olehmu. Bahkan berani menentang kamu padahal kamu adalah suaminya yang sah. Sepertinya kapan-kapan aku perlu bertemu dengan dia.” Edo berkata dengan nada penasaran.
“Untuk apa?” Remy menatap Edo dengan tajam.
Ditatap seperti itu bukannya membuat Edo gentar. Laki-laki itu malah tertawa nyaris tergelak.
“Mengapa harus menatapku seperti itu, Remy. Aku hanya ingin bertemu, ingin melihat seperti apa perempuan yang kamu seret menuju pernikahan itu?” Edo masih saja tertawa.
“Bukankah kamu sudah melihat kemarin di gedung Martha?” Remy bertanya kesal.
Untuk apa dia ingin bertemu dengan gadis itu?
“Mana pula aku bisa melihatnya dengan jelas. Kamu hanya menunjukkannya sekilas dan setelahnya dia pingsan,” sanggah Edo.
“Aku tak akan mengizinkan kamu bertemu dengannya.” Remy berkata tegas.
Edo menatap Remy dengan heran.
“Hei? Apa yang membuatmu demikian posesif terhadapnya? Bukankah kalian hanya menikah di atas kertas? Atau mungkin … kamu khawatir dia akan lebih memilih jatuh cinta padaku dari pada menjadi istrimu?” Edo bertanya dengan geli.
Entahlah, hanya dengan kalimat ejekan seperti itu saja Remy sudah kesal mendengarnya. Namun tak mungkin Remy membungkam mulut lancang Edo.
“Bukan takut dia akan berpaling padamu. Kamu ambil juga aku tidak masalah. Tapi tidak untuk saat ini. Karena dia masih menjadi istriku. Bahkan baru kemarin aku menikahinya. Jadi jangan membuatku terkesan sebagai laki-laki b******n karena menceraikan perempuan yang kunikahi kemarin.” Remy menjawab asal.
“Hei, apakah aku tidak salah dengar? Jangan sampai kamu menyesal jika aku benar-benar mendapatkannya nanti,” ejek Edo dengan senyumnya yang lebar.
Remy mencoba mengabaikan apapun yang Edo katakan. Dia hanya tersenyum masam dan mengambil beberapa berkas yang tersusun di atas meja kerjanya.
“Aku pastikan bukan aku yang menyesal.” Remy melanjutkan mengoreksi berkas yang dikirimkan oleh Livi, sekretarisnya.
“Jadi … kamu benar-benar tak menyentuhnya?” Edo yang usil itu masih saja bertanya untuk menggoda Remy. Meskipun sebenarnya dia tahu bahwa Remy juga tak mungkin menyentuh istri yang diambilnya secara serampangan itu.
Remy menatap Edo dengan sorot mata tajam, sehingga dia memilih mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk menyerah.
“Oke … oke. Aku hanya sekedar bertanya, tidak punya niat lain.” Edo kemudian berdiri dari duduknya, hendak kembali ke ruangannya. “Tapi jika memang seperti itu, aku rasa kamu sedang menjaga jodoh laki-laki lain. Mungkin juga akulah laki-laki yang sedang kamu jaga jodohnya itu,” kata Edo dengan ekspresi kocak.
“Pergilah sebelum aku memerintahkan bagian keuangan untuk memangkas gajimu bulan ini!” ancam Remy karena terlalu kesal dengan tingkah Edo.
Edo tertawa sebelum meninggalkan ruangan Remy. Laki-laki tampan itu merasa sedikit lega setelah Edo hilang dari pandangannya. Sejak dulu, Edo selalu bisa membuat Remy kesal. Bahkan, ketika Remy mengatakan akan menikahi Dona yang sudah dikencaninya beberapa tahun, Edo juga orang pertama yang menanyakan kemantapan pilihannya.
Awalnya, Remy merasa bahwa peringatan Edo hanya sebuah isapan jempol belaka karena mungkin saja Edo merasa iri dengannya. Meskipun memang mereka sudah lama berteman, tetapi Remy tahu bahwa Edo menaruh hati pada Dona.
“Tapi, Remy … aku sarankan agar kamu tetap pergi berbulan madu untuk menghindari kecurigaan orang lain, baik teman maupun relasi kamu. Nggak lucu, kan, kalau mereka tahu bahwa pernikahan kalian hanya sandiwara?” Entah kapan laki-laki tengil itu kembali muncul di pintu ruangan ini. Namun, yang jelas kalimat sarannya sudah berhasil membuat Remy terkejut.
Melihat wajah seram Remy, Edo tersenyum masam sebelum menghilang kembali di balik pintu. Tentu dia tak mau kalau Remy benar-benar memangkas gajinya bulan ini hanya karena dia senang berbuat iseng
Mendengar saran untuk pergi bulan madu, mendadak semangat kerja Remy musnah.
Memangnya apa yang bisa dinikmati dari sebuah bulan madu atas pernikahan dadakan seperti ini? Bukankah hanya buang-buang waktu?
***
Setelah acara sarapan yang penuh pemaksaan yang tadi Nesia lakukan terhadap Mbak Ani dan Bu Maryam, sekarang Nesia memberikan kejutan lagi. Gadis itu berkutat di dapur bersama dengan kedua pembantu itu untuk ikut memasak, menyiapkan makan siang untuk Remy tentu saja. Karena biasanya Remy pulang saat tiba jam makan.
Awalnya, jelas Bu Maryam dan Mbak Tutik mencegah dengan keras dengan keinginan Nesia untuk membantu memasak. Namun, sepertinya nyonya baru mereka ini sedikit keras kepala sehingga mengabaikan penolakan Bu Maryam dan Bu Rumi.
“Nyah, nanti Tuan Remy marah sama kami berdua kalau membiarkan Nyonya ikut masak di dapur.” Bu Maryam terus memberitahu bahwa Nesia tidak sebaiknya ikut ke dapur,
“Bu Maryam, saya sudah bilang, kan? Tidak ada yang akan marah hanya karena saya ke dapur. Apalagi Tuan Remy. Saya rasa dia juga tidak akan peduli dengan apapun yang saya kerjakan. Jadi Bu Maryam tenang saja.” Nesia tetap saja bersikeras dengan keinginannya membantu memasak.
“Tapi nanti Nyonya bau aroma dapur. Nggak wangi. Nanti kami yang kena marah.” Lagi-lagi Bu Rumi terus berusaha mencegah Nesia yang ikut sibuk menyiapkan makan siang.
“Wangi atau tidak, Bu Maryam tenang saja. Tidak akan berpengaruh sama Tuan Remy,” bujuk Nesia dengan senyum manis dan ramah, membuat Bu Maryam menyerah untuk menolak bantuan Nesia.
Akhirnya Bu Maryam memilih diam, bahkan mulai bekerja sama untuk menyiapkan makan siang karena tadi Lukas menghubungi bu Maryam untuk memasak sedikit istimewa karena akan ada tamu yang datang.
Mendengar hal itu, Nesia bertanya-tanya, siapa tamu yang akan datang. Namun, sepertinya Nesia bisa mengira-ngira siapa yang akan datang karena Lukas yang memerintahkan untuk memasak. Ketika semua masakan sudah selesai dan siap saji, Nesia dikejutkan oleh sebuah teguran bernada dingin dan penuh amarah.
“Mungkin semua orang di rumah ini tahu siapa dirimu yang sebenarnya, Nona Nesia. Namun, setidaknya Anda menghargai saya yang menempatkan Anda pada posisi yang lebih tinggi dari sebelumnya.”
Deg!
Jantung Nesia berdetak dan bergemuruh. Kalimat yang terdengar itu jelas penuh penghinaan. Nesia mengepalkan tangannya kuat dan bersiap untuk menyerang lelaki itu dengan kalimat yang disusunnya singkat tadi. Nesia membalikkan badannya dengan cepat. Lalu tiba-tiba dia tertegun, tak bisa meledakkan amarahnya saat matanya melihat pemilik suara itu. Dia …
***