15. Berlatih Keras

1301 Words
Sejak Alexa menyatakan telah memberi kutukan pada Pangeran Gyusion, Kerajaan Azurastone menarik mundur pasukannya di perbatasan. Mereka tidak ingin menjadi sumber kemarahan Ratu Alexa kembali. p*********n terakhir sangat menyeramkan. Kutukan itu sampai pada Ratu Natasha. Putranya akan terbebas dari kutukan dengan syarat tidak meninggalkan Negeri Darkness sampai usia 18 tahun. Jika dihitung dari sekarang, kurang lebih 10 tahun lagi Gyusion bisa terbebas dari Darkness. Demi keselamatan putranya, Ratu Natasha mulai menurunkan ego. Tetapi dia akan terus menanti kepulangan Gyusion. Dia yakin suatu hari akan tiba mereka kembali bersama. Prioritas Azurastone sekarang adalah pemulihan keadaan. p*********n ke kandang lawan cukup banyak menguras sumber daya yang ada. Kerajaan termasyur itu kehilangan sebagian besar prajuritnya. Berimbas pula pada perekonomian yang melemah dalam waktu bersamaan. Mereka hampir kehilangan Azurastone. Sebagai pemimpin kerajaan, Tirta bertindak cepat. Azurastone perlahan menata diri dari awal. Tirta mencurahkan segenap raga dan pikirannya untuk Kerajaan Azurastone. Seiring dengan fendam terhadap penghinaan Alexa yang semakin menumpuk di sudut hatinya. Bekas luka di tangan yang dia dapat dari pecutan petir sihir Alexa mengingatkan dia pada persahabatan mereka yang lenyap tak tersisa. Tirta mengenal wanita itu ketika mereka masih sama-sama muda. Ketika Alexa si putri cantik jelita bersenandung di tengah hamparan rumput menguning savana. Waktu itu Tirta hanya seorang anak nakal yang dijauhi teman-temannya. Kemudian takdir mempertemukan mereka, menerbangkan selendang milik Alexa dan melabuhkannya di tangan Tirta. Mereka menjalani persahabatan. Tirta kerap mengunjungi savana dekat Kerajaan Darkness melakukan pertemuan rahasia di sebuah gua. Salah satu jalan yang ditemukan Tirta menuju kerajaan itu. Hingga suatu hari Tirta mengetahui sahabatnya adalah seorang putri kerajaan. Alexa dijodohkan oleh kedua orang tuanya demi kepentingan kerajaan. Meski sama-sama mempunyai rasa, Tirta memutuskan pergi. Meninggalkan Alexa dan janjinya pada perempuan itu untuk bersama selamanya. Tirta menjalani kehidupannya menjadi pengembara. Hingga bertahun-tahun kemudian, entah apa yang terjadi, Negeri Darkness berubah menjadi tempat paling menakutkan di muka bumi. Yang paling mencengangkan ia hampir tidak bisa mengenali Alexa. *** Jauh di tengah hutan Darkness. Dua anak kecil berlari menyusuri perbukitan. Mereka memanjati tebing dan berbatuan juga jurang yang dalam. Keringat bercucuran, cukup menjelaskan latihan hari itu menguras tenaga. Gyusion tampak terengah-engah, namun Akai tanpa belas kasih memecut muridnya agar terus berlari. Ratu Alexa memerintahkan Akai mengajari ilmu beladiri pada Gyusion dan Xevana. Selama ini mereka hanya mendapatkan pelatihan ilmu ilmu sihir. Sementara Gyusion tampak kesulitan menyerap semua ilmu sihir karena bukan terlahir sebagai warga Darkness seutuhnya. Gyusion tidak berkutik atas keputusan mutlak Ratu Alexa. Mau tidak mau dia harus mengkuti setiap perintah si beruang bercaping tukang makan. Ini menjadi kesempatan Akai mengerjai Gyusion. Kerjaannya hanya menyuruh Gyusion mengangkut air dari sungai sambil berlari naik-turun bukit. Jika sampai pondok air yang Gyusion bawa habis maka pekerjaan Gyusion ditambah berkali lipat. Sampai sekarang Akai belum mengajarkan satu jurus pun. Setiap hari rasanya mau mati. Jika Gusion menolak melakukan perintahnya, Akai selalu mengancam akan melaorkannya pada Ratu Alexa. Akai tebgah memegang kartu as. Lama-lama Gyusion curiga Akai sebenarnya tidak bisa beladiri. Setiap pagi Gyusion harus berlari mengelilingi hutan Darkness. Beranjak siang Akai akan menyuruhnya mengangkut air dari sungai ke kolam di pondok kayu. Gusion merasa iba pada Xevana. Gadis itu kesulitan memenuhi peraturan. Xevana sering mendapatkan hukuman tidak diberi makan. Makanya Gyusion selalu diam-diam memisahkan makanan miliknya untuk Xevana. Sebenarnya Gyusion merasa heran mengapa ratu menginginkan mereka berdua mempelajari ilmu beladiri dan menjadi kuat. Gyusion memang berencana gabung di Pasukan Darkness. Hanya saja itu kan masih lama. Ia masih belum cukup untuk terjun ke Medan perang. Ternyata pelatihannya harus sedari dini. “Makan yang cepat! Kita harus melakukan perjalanan menuju Fallin The Moon.” Akai berjalan mondar-mandir ketika mereka kesusahan. Xevana terbatuk-batuk, Gyusion tidak tega melihatnya. Dari kecil mereka selalu bersama, Xevana sudah seperti adik baginya. “Kau tidak apa-apa?” Xevana mengangguk, sedangkan bola matanya menyuarakan kesakitan. “Kuat melanjutkan perjalanan?” “Iya .....,” jawab Xevana tidak yakin, gadis itu melirik punggung Akai takut. Sebenarnya ia sudah tak kuat lagi berjalan. Tapi jika mengeluh bukan hanya dirinya yang dihukum, Gyusion juga akan mendapatkan hal sama. “Kakimu terluka, biar aku yang membawa barang-barang milikmu--" “Tidak. Jangan Gyusion, ini sangat berat. Punyamu juga berat.” Xevana mendongak setelah mendapatkan usapan di pucuk kepalanya. “Ingat? Kau adikku, Xevana. Aku tidak akan membiarkan adikku kesakitan. Ayo berangkat. Hidung si beruang bulat itu sudah mengeluarkan api.” Xevana tertawa renyah, melihat kening Akai berkerut tak suka dikatakai beruang bulat. Gyusion mengambil alih barang milik Xevana. “Kenapa kau membawa barang milik orang lain?” “Xevana sedang sakit. Aku tidak mau Ratu sampai marah. Jadi biar aku saja yang menggantikannya kali ini.” “Oh ya? Kau sangat mempedulikan orang lain rupanya. Lepaskan barang-barang itu!” “Tidak.” “Atau kau ingin aku melepasnya secara paksa?” “Adikku sedang sakit!” Gyusion menepis tangan Akai. “Di dunia ini orang sakit dan sehat sama-sama harus berperang. Nona, bawa barangmu sendiri, jika kau ingin berumur panjang.” Keributan antara Gyusion dan Akai telah menjadi makanan sehari-hari bagi Xevana. Tanpa keributan rasanya akan hambar. Selalu ada saja hal yang mengundang ketegangan pada urat-urat di pelipis mereka. Biasanya Xevana hanya akan memerhatikan dalam diam sembari menghapal mantra-mantra sihir yang diajarkan Faramis dan Naya. Entah mengapa selama mendapatkan pelatihan fisik dari Akai, sihirnya ikut mengalami peningkatan. Kekuatannya bahkan terlampau besar dan masih sulit dikendalikan. Oleh karena itu selain Akai, kedua pengasuh Gyusion mendampingi Xevana. Diam-diam Ratu Alexa memerhatikan perkembangan dua bocah itu dari dalam istana. Hanya Kaja yang mengetahui kebiasaan Ratu Alexa memantau Gyusion dan Xevana dari kolam sihir di istana. Alexa sangat penyayang dan lembut. Namun seperti biasa, ia akan berpura-pura memainkan peran jahat dan tidak mempedulikan apa pun. Bentangan air jernih menampilkan kegiatan dua bocah itu membuat Ratu Alexa tersenyum kecil. Tingkah mereka memang lucu jika diperhatikan. *** “Aku yakin Reaper yang akan menang.” “Aku dukung Turtle.” Setiap pekan Akai dan kedua muridnya menyaksikan pertandingan antar monster jungle di The Gladiator. Pertarungan bebas tanpa jurus khusus juga perlu diajarkan pada murid-muridnya. Dalam menyelamatkan nyawa tidak selamanya diperlukan perhitungan, para petarung harus punya refleks tingkat tinggi. “Kalau kau kalah, kau harus menggantikan tugasku besok membawa air." Xevana menyulurkan tangan. Wajahnya tak kalah tengil. Bala prajurit siluman serempak berdiri menyanyikan lagu kematian begitu gerbang kedua monster sepenuhnya terbuka. “Siapa takut?” balas Gusion menjabat tangan Xevana. "Sudah pasti siapa yang menang kok!" Xevana jadi sedikit lebih berani. Gadis itu tidak akan menangis lagi jika mendapatkan hukuman dari Akai. Dia sedang mempelajari pengendalian sihir lewat boneka beruang cokelat yang katanya bernama Bear. Ide ini berasal dari Kaja—tapi Akai tidak begitu saja percaya, masuk akal bila ini ide Ratu Alexa. Metode pengendalian lewat perantara cukup bekerja baik pada Xevana, dia juga seperti punya teman. Sedangkan Gyusion masih menggunakan tongkat kayu sebagai senjatanya. Bocah laki-laki itu hampir setiap saat merengek ingin mengunakan senjata tajam asli. Akai akan berlaga tidak mendengarnya. Gyusion memang punya perkembangan bagus, tapi tidak sepesat Xevana. Anak itu terlahir untuk memegang pisau, bukan sihir seperti penghuni hutan lainnya. Jika seorang petarung sihir sangat mengandalkan hapalan mantra dan pengendalian. Maka seorang assassin, kekuatan sepenuhnya bertumpu pada fisik. Kelihaian dalam memainkan senjata serta strategi merupakan hal tambah. Dan Gyusion belum mencapai setengahnya. Anak itu terlalu banyak menentang Akai dan banyak bermain. Akai kebal oleh perilaku Gyusion. Kekanakan dan punya harga diri tinggi. Sesekali Faramis akan membantu menaklukan bocah satu itu menggunakan segel dan menggantung tubuhnya secara terbalik di dahan pohon. “Turunkan aku Faramis! Kau tidak berhak menghukumku karena aku bukan muridmu!” Teriakan Gyusion terkadang menjadi hiburan. Jika sudah seperti itu Gyusion baru mengakui Akai sebagai gurunya. “Xevana .... Bantu aku ....” Gyusion memelas. Sayangnya hal itu selalu berhasil meluluhkan watak lemah Xevana. Xevana akan berada di sisi Gyusion, membela dan membantunya. Begitulah kehidupan tenang di Negeri Darkness. Tempat berbagai makhluk merasakan tawa di balik perangai jahat mereka. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD