BAB 1

831 Words
Pernikahan mewah itu terpancar dari segala penjuru ruangan. Adam sangat tampan, ia mengenakan jas hitam yang sempurna dan Melisa tak kalah cantiknya, mengenakan gaun pernikahan seperti putri dongeng, yang di rancang oleh desainer ternama. Sajian menu yang tersedia sangat kreatif yang sudah di buat langsung oleh chef profesional, donat-donat cantik juga, disusun di meja prasmanan, serta sajian makanan lezat tersedia disana. Penampilan hiburan yang sudah profesional mengiringi sesi makan malam, dan penari juga memeriahkan suasana pesta. Semua acara pernikahan berjalan dengan sukses dan sesuai rencana. Itu semua berkat Wedding Organizer profesional yang di pilih langsung oleh Adam. Agni tersenyum menatap Adam, kini telah resmi menjadi seorang suami Melisa. Agni turut bergembira atas pernikahan itu, ia sangat menyangi Adam. Agni memandang kedua orang tuanya juga turut bahagia. Acara pesta pernikahan berlangsung tiga jam lamanya. Agni naik ke atas panggung menghampiri ke dua orang tuanya. Fotografer mengambil sesi foto keluarga di akhir jam pesta. Agni berdiri di samping Melisa yang kini telah resmi menjadi kakak iparnya. Agni melangkahkan kakinya menghampiri  Adam. Adam tersenyum menatap Agni, adiknya yang kini sudah tumbuh dewasa,  "selamat ya mas, semoga menjadi suami yang baik untuk mbak Melisa". "Iya terima kasih dek, kamu jangan lupa bantu ibu dan bapak dirumah. Rajin-rajinlah kuliah, banggakan kedua ibu dan bapak" ucap Adam. "Iya mas" ucap Agni. "Mas bangga dengan kamu, kamu pintar dan kamu sekarang tumbuh cantik. Mas, sayang kamu" ucap Adam, ia lalu memeluk Agni. Sedetik kemudian, Adam melepaskan pelukkannya. "Jika kamu perlu apa-apa bilang sama Mas". Agni tersenyum dan mengangguk, "Iya mas". Selama ini, Adam lah yang banting tulang untuk menghidupi keluarganya. Keluarganya bukanlah keluarga yang kaya seperti yang orang lihat. Pesta pernikahan mewah ini memang permintaan Adam, agar keluarganya tidak di lecehkan oleh keluarga Melisa. Melisa terlahir dari keluarga kaya raya, jadi Adam sudah sepantasnya membuat pesta pernikahan ini agar  Melisa tidak dikucilkan oleh keluarganya. Agni melihat sendiri bagaimana perjuangan Melisa mengejar Adam. Melisa memperjuangkan Adam di depan kedua orang tuanya. Awalnya Adam menyerah saja, ingin mengakhiri hubungannya dengan Melisa. Tapi Melisa, mencoba membangunkan semangat Adam untuk bangkit kembali, memperjuangkan cinta mereka berdua. Adam dengan giat belajar sambil bekerja sebagai waiter di restoran, demi untuk membiayai kuliahnya sendiri. Akhirnya Adam dapat menyelesaikan kuliah teknik sipilnya dengan cepat. Sekarang Adam bekerja di perusahaan kontruksi, mendapati posisi penting disana. Bukanlah mudah, membutuhkan proses yang cukup panjang bertahun-tahun lamanya. Melisa kini sudah resmi menjadi istri Adam. Kisah cinta mereka seperti tidak berujung, mereka dapat memperjuangkan cinta yang tidak ada habisnya. Cintalah yang membuat mereka bersama. Agni juga salut kepada Melisa yang tegar menghadapi setiap rintangan yang ada. Kini ia menuai hasilnya, Melisa bahagia karena sudah menjadi istri Adam. Agni juga teringat, Melisa  dulu pernah diseret keluar dari rumahnya, oleh orang tuanya secara paksa. Wajar saja itu terjadi, orang tua mana yang menginginkan anak gadisnya yang cantik mencintai laki-laki miskin seperti Adam. Jika melihat perjuangan itu, ia pasti akan menangis. Tuhan tidak tidur, Adam bangkit dan menyelamati cintanya. Ia tidak ingin cintanya menjadi sia-sia. Tahun berganti tahun semuanya semakin berubah, dan semua itu butuh proses yang panjang. Adam telah membuktikan semuanya bahwa laki-laki miskin, yang dulu dikucilkan dan dipandang sebelah mata kini telah menjadi singa yang disegani. Itu karena kekuatan cinta dan ia kembali merebut Melisa. *** Sementara di ujung sana sepasang mata, memandang acara pernikahan mewah Adam dan Melisa. Bram mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, ia ingin sekali menghancurkan pernikahan itu. Hatinya seakan mendidih melihat kebahagian itu. Seharusnya dirinya yang bersanding dengan Melisa disana, bukan laki-laki miskin seperti Adam. "s**l" umpatnya. "Bodoh !". Bram gagal membatalkan pernikahan itu, uang, kekayaan, tidak bisa meluluhkan hati Melisa. Sedetik kemudian ia mengalihkan  tatapannya, kepada  wanita berambut panjang,  berjalan mengahampiri Adam. Wanita itu tertawa, dan sedang berbincang-bincang kepada Adam. "Siapa dia" tanya Bram. Alan mengerutkan dahi, "Dia?" Tanyanya bingung. "Itu yang, berada di depan Adam" ucap Bram, Bram menunjuk ke arah wanita berkebaya merah itu tepat dihadapan Adam. Alan memandang arah yang di maksud Adam. "Itu Agni, adiknya Adam". "Kenapa saya baru melihatnya" Tanya Bram. "Sejauh yang saya lihat, wanita itu selalu ada. Dia kuliah sambil bekerja di outlet butik di salah satu Mall. Mungkin Agni sibuk kuliah sambil bekerja, hingga kamu tidak pernah melihatnya". Barm kembali berpikir ternyta nama perempuan itu adalah Agni, adiknya Adam, "Begitu ternyata" ucap Bram. Bram memperhatikan lagi wanita berkebaya merah itu. Wanita itu nampak tertawa bersama Melisa mereka terlihat sangat akrab. Bram kembali memperhatikan gerak-gerik Agni, hingga akhirnya Agni turun dari panggung. "Kuliah dimana?" Tanya Bram penasaran. "Universitas Indonesia, Fakultas Ekonomi, jurusan Akuntansi. Sekarang tahun ke tiga" ucap Alan. Bram mengerutkan dahi, ia melirik Alan. "Dari mana kamu tahu semua itu". "Saya kekasihnya, dan saya mengenalnya dengan baik. Saya akan melamarnya setelah Agni lulus dari kuliah nanti". Bram kembali menatap Alan, ia tidak menyangka bahwa Alan diam-diam telah menaruh hati kepada wanita muda itu,  "kamu mencintainya?" Tanya Bram. "Iya, tentu saja". "Kenapa tidak menikahinya saja". "Dia ingin menyelesaikan kuliahnya dulu Bram, saya pasti akan menikahinya". "Ya lanjutkan pendekatan kamu pada wanita itu". ucap Bram, ia lalu berlalu pergi, meninggalkan Alan. ***********
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD