13. Besties

1277 Words
“Buruan sarapan! Gue udah beli nasi uduk!” seru Moni menghampiri Nada yang sedang bersolek di depan cermin—persiapan kerja. “Kayanya gue nggak sarapan, deh.” “Dih?!” Moni mengernyit. “Kenapa? Tumben.” Alih-alih segera menjawab pertanyaan kawannya, Nada justru terdiam sejenak. Meratapi situasi, menghentikan aktivitasnya. Lantas ia berteriak tidak jelas sehingga Moni memejamkan mata untuk menetralkan emosinya. “Berat badan gue naik dua kilo, Moni!” Nada merengek. Moni melepaskan napasnya yang terasa berat. Kemudian menatap sahabatnya yang sebenarnya tidak terlihat perubahan yang signifikan. Apalagi Nada juga lebih tinggi darinya. “Lo, kan, nggak begitu concern sama penampilan. Maksudnya… nggak kaya gue. Bahkan gue yang ribet soal penampilan, nggak terlalu peduli sama BB. Kenapa lo segitunya? Sarapan penting loh.” Nada menggeleng. “Nggak bisa, Mon. Gue si penganut basic outfit ini satu-satunya cara buat tetep keren cuma bentuk badan.” Kemudian ia menatap Moni. Menyentuh tangannya yang mungil. “Kok lo bisa kaya gini, sih?” “Kaya gini apaan?” “Badan lo kenapa tetep kurus, padahal makan lo banyak banget. Segentong!” “Nggak segentong juga kali.” “Lo nggak suka makanan sehat, Mon!” “M-makanya gue kurus.” Moni menggaruk telinganya. “Harusnya melebar banyak lemak, dong!” “Kenapa lo yang ngeharusin, sih?!” Moni menghempaskan tangan Nada. “Lo dulu nggak se-langsing ini soalnya.” “Dah, sarapan aja! Kalau mau diet bagusnya tetap sarapan.” Meski Moni sudah membujuk sahabatnya untuk makan, pada akhirnya Nada tetap berpendirian teguh walau sempat meneguk salivanya kasar setelah melihat dua bungkus nasi uduk komplit langganan mereka. “Pengen, nggak, tuh?!” Moni menggoda. “Enggak!” tegasnya mendekati lemari sepatu setelah siap dan rapi sebelum kerja yang disambut kekehan Moni. “Eh…” Nada berbalik. “Mau makan?” Ck! Nada berdecak kesal, membuat Moni tertawa. “Enggak… gue mau tanya. Semalam lo nggak ngapa-ngapain, kan?” “Apa maksud lo?!” teriak Moni. “Sekata-kata kalo ngomong. Lo juga tau kalau gue emang gila, tapi nggak pernah melanggar norma!” Nada tertawa. “Emosi mulu, lu, Temon.” “Lagian nanyanya begitu.” “Jadi lo beneran jatuh cinta?” Nada memastikan. Moni terdiam sejenak. Ia membasahi bibir bawahnya sembari mengulas momen berduanya dengan Cakka berangsur pipinya bersemu kemerahan. “Oke… pipi lo udah kasih jawaban.” Nada segera mengenakan sepatu. Pun Moni secara refleks memegangi kedua sisi pipinya yang memang terasa hangat. “Oi, tunggu!” “Apa? Lo mau nembak dia?” “Dih, cepet amat.” “Lo kan begitu biasanya.” “Bukan. Tapi lo harus tau kalau Cakka itu, Om-nya murid gue… ternyata.” Moni menjelaskan perlahan. “Apa?!” ^^^ “Clef!” Seseorang menepuk bagian belakang mobil Clef. Seketika rekan kerjanya itu memijak rem dengan mendadak. Clef beserta penumpang lain yang hendak bergegas menuju beberapa tempat untuk projek gedung music SMP Ador. “Siapa, sih? Ya ampun,” keluh yang lain. Sementara Clef masih menyipit, berusaha mengingat sosoknya yang sama sekali tak terekam oleh mata. “Pak Clef kenal?” “Uhm…” Alih-alih memberikan jawaban, pria itu justru turun dari mobil untuk memastikan pria yang sama sekali tak ada dalam rekamannya. “Siap…” “Clef!” Pria itu segera memeluk Clef, bahkan menggantung di badannya—seperti bayi monyet yang merindukan induknya. Pun respons Clef hanya tertegun dalam keheningan sambil menahan diri agar tidak terjatuh dan tetap bersabar. Kini pun ia seolah sudah mulai mengenali siapa gerangan. “Kenapa lo nggak bilang kalau pulang?!” Pria itu merengek, masih menggelantung di tubuh Clef. “Pak…? Nggak apa-apa?” Tim-nya memastikan. “Kalian berangkat dulu aja ke toko furniture-nya aja dulu karena kita janjian lebih awal. Nanti aku nyusul.” Clef berucap santai sambil menahan diri. Setelah rekannya pergi, ia kemudian berucap, “Mau sampai kapan lo kaya gini?” “Ah!” Pria dalam balutan kemeja itu pun turun. Tampak ia sangat menggemaskan. Mata sipit, kulit putih—tidak, tidak. Dia bukan keturunan Tionghoa atau chindo itu. Dia Bram—urang sunda tulen yang sudah lama sekali hijrah dan menetap di Ibu Kota. Dia teman dekat Clef saat SMA. Sosok pertama yang menyambutnya, membanggakannya. Entah menagap dia senang sekali melakukan itu. Mungkin karena Bram sama sekali tidak berprestasi pada masa itu?—memang agak lain. “Gue lihat postingan temen-temen ternyata lo juga ada. Gas selesai dinas gue kemari!” seru Bram. Pun Clef bisa menemukan koper di ujung sana. “Lo dari mana?” “Lo emang nggak punya akhlak, ya. Gue udah berapa kali cerita kalau gue tugas di Jakarta tapi suka dinas ke IKN!” Clef membelalak, kemudian bertepuk tangan. Ia tak menyangka jika sahabat kosongnya itu ternyata sekarang berkembang lebih baik. “Lo ASN?” Khmm… Bram merapikan pakaiannya. “Apa nggak kelihatan wibawa gue?” Clef tertawa terpingkal-pingkal. “Sembarangan pakai ketawa. Gue sejak kuliah semester 5 nilai gue melejit, ya! Walaupun nggak cumlaude tapi gue serius buat belajar jadi ASN.” “Oke… oke… Di bidang apa?” “Di deputi sosial, budaya dan pemberdayaan masyarakat.” Bram merapikan rambutnya, berucap dengan pelan namun tegas—membanggakan pekerjaannya sehingga tawa Clef semakin tak terkendali. “Keren, kan, gue?” lanjut Bram. “Uhm! Mantap.” Clef mengacungkan ibu jarinya sambil terus tertawa. “Anjir, temen gua.” ^^^ Mungkin karena Moni termasuk salah satu guru termuda dan terverifikasi yang paling muda di divisi musik, jadi dia sering melakukan pekerjaan lapangan seperti saat ini. Ia diminta untuk membawakan kopi pada desainer interior yang kembali datang untuk meninjau. Sepertinya memastikan beberapa hal sambil kembali berdiskusi dengan Sir Adit. “Misi…” Moni datang membawa satu box kemasan kopi berisikan tiga es kopi. “Oh, ya…” Mereka masih sempat menyapa Moni dengan sopan. “Taruh situ aja, Miss,” kata Sir Adit. Moni pun tak segera melakukannya dengan cekatan. Matanya berpendar ke segala arah untuk memastikan sesuatu. Ia bahkan sedang menghitung jumlah tim desainer interior yang datang. Kenapa hari ini cuma dua? Moni tak punya kepentingan dengannya. Hanya penasaran. Entah, semua terjadi tanpa alasan. Kemudian semua itu berlalu begitu saja seiring Moni juga pada akhirnya tidak peduli. Ia lantas berpamitan untuk kembali, namun saat berbalik ia berhasil membidik sosok pria tinggi yang sangat menawan di ujung sana. Di sekitarnya ada cahaya. Dia sangat bersinar. Sekilas, dia tampak sangat seksi dan rupawan. Elegan, terlihat seperti pria tsundure yang ada di karya fiksi. Hampir saja Moni terpesona sampai akhirnya pria itu melambaikan tangan sambil menampilkan wajah konyolnya. “Akhh…” keluh Moni. “Kenapa juga dulu gue bisa gila cinta ama dia?” Agaknya ia menyesal dan berusaha untuk tetap melangkah. Menganggap Clef tidak ada. “Eits… mau ke mana? Bukannya lo nyariin gue? Uhm?” Clef menampilkan wajah sok imutnya. “Lo dari dalam trus… ke mana Clef? Kok dia nggak datang? Ya, kan?” “Dih!” Moni jengah. Ia kemudian menatap pria itu dengan kesal, rasanya ingin mencolok matanya. “Terserah… terserah lu! Gue nganter kopi.” “Eh…” Clef menahan tangan Moni. “Gue, kan, udah bilang kalau lebih suka Milo!” “Beli aja sendiri!” pekik Moni tiba-tiba mengejutkan tim dan Sir Adit yang ada di dalam. Lantas perempuan itu meminta maaf atas kegaduhannya—masih untung jauh dari ruang kelas, sehingga tidak terlihat oleh murid. “Maaf… C-Clef… Maksudnya, Pak Clef ini temen SMA saya dulu. Maaf… saya kelepasan,” lanjut Moni meluruskan agar tidak ada kesalahpahaman sebelum pergi berpamitan. Dan bahkan sempat melayangkan tatapan belati pada Clef. Pun pria tampan itu membeku di tempat sambil terus menatap punggung Moni sambil tersenyum. Entah mengapa ia begitu murah senyum—apalagi saat bersama Moni.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD