Deep Talk

2282 Words
Malam itu langit tampak cerah, sinar bulan masuk melalui tirai kamar putih yang tipis, mata Inara belum bisa menutup dengan tenang, dirinya masih saja gelisah dan merasa apa yang dia lalui hari ini bagai mimpi di siang bolong. Tidak menyangka, semua inilah yang terjadi. Kepala Inara menoleh dengan hati-hati, melirik pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya kini malah jadi, suaminya. Takdir seperti apa sebenarnya yang sedang diadapinya ini. ubuh Inara terbaring terlentang, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. “Kamu belum tidur?” “Aakh, Mas. Ngagetin aja!” pekik Inara. “Maaf,” sahut Ravin sambil merubah posisinya sama dengan Inara. “Kamu gak lelah, yah? Kenapa masih belum tidur?” tanyanya kembali. “Lelah, kok! Cape tapi, emang gak bisa tidur aja.” “Hm, apa gara-gara seranjang sama aku jadi, gak bisa tidur?” “Eh, engga, kok!” elak Inara sungguh-sungguh. Dia merasa bukan karena ada Ravin dia jadi, tidak bisa tidur tetapi, pikirannya benar-benar membebaninya. “Gak mungkin ngga. Ini pasti berat buat kamu.” Ravin berubah posisi lagi, dengan tidur menyamping sambil menatap Inara. “Ditinggal Elvan pergi tanpa tahu apa alasannya lalu, malah menikah denganku karena dipaksa.” “Aku gak dipaksa,” balas Inara cepat karena jauh dalam hatinya, pernikahannya dengan Ravin bukan paksaan melainkan pilihannya sendiri tidak ada yang memaksanya meski, Deswita dan Ibunya tengah berharap besar dia bisa saja menolak. “Ini udah pilihanku.” “Kamu gak mau buat keluarga malu aja, kan? Tapi, kamu gak malu saat banyak orang dari temen-temen kamu nanya di mana Elvan berada dan kenapa kamu malah nikah sama aku.” Inara sedikit meringis tentang hal itu, apa yang dikatakan Ravin benar adanya. Jika teringat hal itu, tadi siang dirinya sendiri tidak mampu berkata-kata dan hanya bisa menampilkan senyum tanpa menjawab hal apapun saat semua orang datang menyalaminya dan diam-diam berbisik dengannya bertanya tentang Elvan dan kenapa bukan pria itu yang menjadi suaminya dan kenapa malah orang lain. Hal itu sangat mengganggu jika, bisa dia ingin pingsan saja saat itu tetapi, entah kenapa dia masih baik-baik saja dan berdiri dengan tenang. “Semua orang yang mengenalku dan Elvan tentu saja heran tidak ada yang tidak bertanya-tanya kenapa pengantin prianya berubah. Makanya aku tetap diam, karena alasannya yang lebih membuatku malu. Nikah sama kamu gak membuatku malu sama sekali tapi, perbuatan Elvan yang ninggalin aku gitu aja…rasanya?!” ucapnya sambil mengepalkan tangan kuat karena kesal dan benci. “Jadi, kayak gitu?!” Ravin tersenyum tipis mendengar jawaban Inara Inara melirik Ravin melihat perubahan wajahnya. “Aku gak mau peduli orang mau bicara apa soal pernikahan kita. Cukup kita saja yang tahu, apa yang sebenarnya terjadi.” “Kamu wanita yang kuat dan dewasa, Inara. Aku suka sama pemikiranmu, baguslah! Lega rasanya. Ini cukup buatku merasa pernikahan ini baik buat kita.” Entah kenapa rasanya pipi Inara panas dan merah merona. “Aku gak tahu harus ngomong apa lagi tapi, terimakasih karena Mas Ravin bersedia menikahi aku padahal, Mas ravin bisa menolak dan pergi saja.” “Yah, mungkin aja bisa kayak gitu tapi,… aku bukan orang yang bisa semudah itu lepas tanggung jawab.” “Mas, ngasihani aku, yah?” tanya Inara yang juga terkejut dengan pertanyaannya sendiri. “Iya, sedikit,” jawab Ravin tanpa ragu. Kemudian, tangannya bergerak memegang tangan Inara yang sedang berada di atas perutnya. “tapi, aku gak bakal buat pernikahan ini hanya main-main mulai sekarang aku akan coba membuka hatiku buat kamu. Semoga kamu juga begitu?” Rasanya perasaan Inara tengah jungkir balik bagaimana tidak. Mendapatkan ucapannya sudah membuatnya merinding lalu, dengan genggaman tangannya yang seolah-olah sedang bersumpah, berjanji sepunuh hati di depannya seperti ini, membuat darahnya mulai dari perut sampai kepalanya mendidih panas. Di sisi hatinya lain, sedang berseru keras seharusnya dia tidak perlu percaya lagi dengan janji seperti ini. pria, di sampingnya belum lagi mencintainnya dan belum terlihat sikapnya. Orang yang dulu mengatakan cinta dengan sikapnya saja berani meninggalkannya apalagi, orang ini!. “Ya, sudah!” Tepuk Ravin pada punggung tangan Inara karena, tidak mendengar jawaban apapun. “Ini sudah sangat larut. Istirahatlah, tenangkan pikiranmu lalu tidur agar besok tubuh dan perasaanmu lebih baik,” ucap Ravin setelah menyamankan postur tubuhnya lagi dan lansung memejamkan mata karena kali ini dia benar-benar mengantuk. “Terimakasih,” bisik Inara entah untuk apa dan masihkah didengar Ravin atau tidak. Dia hanya sangat bersyukur karena Ravin berada di sampingnya saat ini. tidak lama Inara masuk ke dalam alam tidurnya. , ** Di pagi hari. Ravin terlebih dulu bangun, melihat Inara masih bergelung dengan selimut dan tidak punya niatan untuk mengganggunya. Dia biarkan wanita yang sudah jadi istrinya itu tertidur lebih lama. Ravin berjalan ke kamar mandi terlebih dulu membasuh wajah lalu langsung ke dapur untuk membuat sarapannya, karena perutnya sudah mulai menggerutu protes. Dia mempersiapkan segelas jus buah dan selembar roti sambil menikmati suasana pagi sebelum akhirnya mulai berjoging di sekitar kompleks apartemennya sekitar tigapuluh menit, lalu kembali dan melakukan gym sederhana di ruangan pribadinya. Selama itu Inara belum juga terbangun, tidak merasa khawatir karenannya. Ravin yang sudah mandi dan segar, mulai memasak untuk makan siang mereka sampai tiba-tiba terdengar bel rumahnya berbunyi, melihat intercom dia tidak percaya jika kedua sahabatnya muncul di apartemenya saat ini. Sudah jelas sekali sebelumnya kedua orang itu tengah berada di luar negeri bahkan, ketika ia memberikan undangan pernikahan Elvan, adiknya. –yang batal dan malah jadinya yang menikah—‘seharusnya mereka kemari karena hal itu’ pikir Ravin. “Kalian datang tiba-tiba, huh? Kalian tidak mendengar kabar tentang gue yang nikah lalu langsung kemari, kan?” tanya Ravin setelah membuka pintu dan melihat setelan baju kedua sahabatnya masih terbilang kusut, sekaligus rapi seolah baru kembali bepergian. “Yah, Ravindra Malik. Kamu tidak salah,” ucap salah satu dari mereka dengan smirk yang mengerikan. ‘Ah, benar saja,’ pikir Ravin. “Dasar makhluk jahat! Berani sekali Lo nikah tapi, gak ngomong sama kita-kita?!” ucap sahabat Ravin yang bertubuh paling kecil di antara mereka, tapi bisa juga paling dingin dan sering blak-blakan sambil mengguncang kerah bajunya, Gary Hasan. “Ravin, gue speechless pas tahu dari si Rio,” jawab yang lain, yaitu Marco Burkan dengan tampangnya yang sangat kecewa. Dia ini seorang pengusaha retail termuda dengan kesuksesannya bisa sampai ke luar negeri. Inilah sahabat-sahabatnya yang sudah sedari high school bersama. Teman karib yang mungkin tidak bisa ditemui lagi mereka masing-masing saking, mereka begitu klop sejak awal bertemu dan bersahabat. Yang hadir saat bahagia saja tapi, saat terpuruknya dalam hidup Ravin ketika ditinggal mantannya mereka ada di sana membantunya untuk bangkit, yang sialnya benar-benar membuatnya ‘bangkit’ dengan membawa wanita penghibur. ‘Sialan, sekali mereka memang. Jika, Ravin mengingat hal itu.’ “Sialan lo, Ravin! Gimana bisa nikah tapi, gak ngundang kita-kita, hah? Dan, malah sok-sok bilang yang nikah itu adik elu.” Marco mendesah sedih sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa. Memukul-mukul dadanya seperti orang asma. “Tau gitu gue,kan datang dan batalin urusan gue di singapur.” Gary masih dengan aksi meremas kerah baju Ravin. Akting mereka sama saja bertampang terluka dan yah, wajar saja jika, mengingat … mereka teman dekat yang sangat melekat padanya ini tidak melihat prosesi pernikahannya sebagai sahabatnya. “Maaf Bro, Itu beneran diluar kendali gue… adik gue si Elvan yang harusya nikah itu malah kabur lalu, begitu saja gue jadi yang nikah sama mantan calon adik ipar gue itu,” jujur Ravin. Gary melepas cekalannya dan mendesah sambil menghempaskan diri mengikuti Marco tetapi, tatapan mereka masih pada Ravin. “Kita bener kecewa tapi, juga bahagia buat lo,” ujar Gary akhirnya melepas kemarahannya. “Jadi, di mana istri lo itu sekarang?” Ravin tersenyum riang, semua masalahnya beres dengan cepat. “Ada, dia masih tidur.” “Ah, gila si Beruang kutub ini,” ujar Marco tiba-tiba heboh. Ravin sendiri memutar bola matanya malas. “Lu, habisin dia berapa ronde, heh?! Sampai jam segini aja istri lo belom bangun.” “Bener-bener, deh, lo, Vin. Punya perasaan dikit napa?! Dia ditinggal ade lo dan lo kayak kucing kelaperan ketemu ikan asin langsung gas aja …gak bisa sabar dikit! Eh, tapi, yah, udah jadi istri lo juga, sih?! Hak lo, kan?” Bagini ini yang membuat Ravin malas. Otak teman-temannya emang kadang sangklek tetapi, Ravin juga sebenarnya tidak jauh seperti mereka. Hanya saat ini dia benar-benar malu, karena ini menyangkut kehidupan dan harga dirinya kalau mereka tahu dia masih suci dan polos. “Udah, berisik kalian! Jangan sampe dia ke bangun, yah?!” “Aish, iya-iya tau ..,” gerutu Marco yang mulai mengecilkan suaranya. Lalu, segera berwajah memelas. “Eh, Vin. Kita lapar nih, ikut makan donk?! Gue dari bandara langsung ke sini lo.” “Siapa suruh, heh?” balas Ravin sambil berjalan pergi menuju pantry diikuti kedua temannya tersebut, yang sudah seperti ekornya saja. Dari balik pintu kamar, Inara sedang berjongkok sambil mengerang kesal dari sana dia bisa mendengar obrolan Ravin dan teman-temannya. Dia sungguh malu, sangat malu dan tidak punya keberanian untuk keluar. Sebenarnya, saat Ravin mandi dia sudah bangun hanya tidak bergerak dan masih berpura-pura tidur sampai Ravin keluar kamar. Lalu, berniat keluar kamar setelah mandi tetapi, akhirnya mendengar suara-suara ribut yang bisa dia dengar dari A sampai -z membuatnya malu setengah mati. Bagaimana bisa dia sangat terlambat bangun dan karena itu Ravin digunjingkan kedua temannya. “Inara, lo udah pasti gila! Beraninya, lo tidur selama itu, hah? Malu-maluin …aaakhhh! Terus gimana? Semua udah jadi bubur. Apa harus kulakuin? Apa loncat aja dari sini?” tanyanya frustrasi sambil melihat jendela kamar. Berjalan ke sana. Inara menggesernya dan memasuki balkon hanya untuk melihat seberapa tingginya jika, dia benar-benar loncat dari sana. “Sialan! Tinggi banget, gak mau mati aku! Masih pengen hidup tapi, gimana dengan perasaan malu ini hiks…!” “Inara!” tiba-tiba saja Ravin masuk dan memanggilnya. “Kamu, udah bangun ternyata. Keluar, yuk, ada yang mau kenalan sama kamu.” “Hah?!” Wajah Inara termanggu, setengah kosong tidak percaya Ravin memanggilnya untuk mengenalkan dia dengan temna-temannya. Sungguh, dia sangat malu, tidak berani pergi. “Kenapa cuma ‘hah’, ayo,” ujar Ravin yang sudah berjalan kearahnya lalu menarik tangannya agar mengikutinya. “Mereka sahabat-sahabat aku, bantu aku juga, yah, bujuk mereka biar gak ngamuk karena gak dateng ke pernikahan kita.” “Ah, iya,” jawab Inara setelah Ravin menoleh menunggu seolah jawabannya. Di meja makan tampak mereka sudah menunggu Inara dengan tampang sumringah keduanya. “Itu mereka. kenalin sahabat-sahabat aku …itu yang duduk santai, yang cuman tau makan Marco. Yang sedang masak Gary.” “Selamat siang, saudara ipar!” Marco melambai. “Maaf, kami gak datang kemarin dan baru hari ini datang dan ngucapin selamat buat pernikahan kalian. Oh, ya, aku Marco. Salam kenal!” “Eh, ah, Iya,” jawab Inara gugup. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan teman-teman Ravin. “Aku Inara.” “Hey, tenang jangan gugup! Kami gak makan orang, kok,” sahut Gary dari pantry sambil mengangkat spatula. “Namaku Gary. Salam kenal.” “Udah-udah perkenalannya jangan sok manis, gitu! Inara gak tertarik sama kalian malah keliatan frustrasi jadinya.” Ledek Ravin sambil mendudukan Inara di kursi meja makan. “Aku masak dulu, tenang aja mereka gak bakal berani ngapa-ngapain.” “Y-yah! Emangnya kita mau ngapain, hah?” Marco tidak terima dengan pernyataan Ravin, sebal dibuatnya. “Cepet-cepet balik dapur, masak! Udah laper, nih?!” “Gue geplak juga, nih!” tiba-tiba saja Ravin mengeluarkan raungan singanya melihat sahabatnya sedang tidak tahu diri. Marco tertawa, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Ravin cuman mendengus lalu, kembali ke pantry dan mulai mengambil alih tempat Gary lagi. “Udah, duduk sana lo istirahat!” “Gak papa, lo siapin yang lain aja.” Inara mulai bergerak tidak nyaman, melihat Ravin benar-benar pergi ke dapur dan memasak. Belum lagi dia tidak bisa melihat Marco yang terus menatapnya. “A-ah, kenapa aku diem aja. Mas, biar aku aja yang masak!?” Inara memilih berdiri pergi daripada harus ditatap Marco. “Hey, ngapain ikutan masak di sana. Udah biarin mereka aja, mereka udah biasa.” “Iya, jangan lupa lo, Marco yang cuci piring,” sahut Gary. “Inara, kamu duduk lagi aja biarin aja kita yang masak. Sebentar lagi udah selesai.” “Iya, udah duduk sana!” lanjut Ravin melihat Inara berjalan ke arahnya. “Ngga, masa Mas sama temen Mas, yang masak?! Biarin aku aja, kalian bisa ngobrol.” Inara langsung meraih pisau dari tangan Ravin sedangkan, Ravin tidak membiarkannya. “Gak usah, aku bisa masak. Ini potong daging, loh. Susah.” “Kata siapa aku gak bisa? Sini, mana pisau-nya?” tantang Inara tidak suka diremehkan padahal sebenarnya bukan begitu maksud Ravin. Gary terkekeh melihat ada wanita disamping sahabatnya, rasanya sudah lama tidak melihatnya bersama dengan wanita lain setelah kegagalannya di masa lalu. Senang rasanya Ravin benar-benar sudah Move-on. “Hm,” deham Gary lalu disambut teriakan riang Marco. “Cie, cie … udah aja,Vin. Kasih aja.” “Diem, Marco! Ini bahaya buat potong dagingnya tau kecuali, potong daging dari tubuh kamu, mau?” “Asem, sadis!” kekehnya bersama Gary. “Ya, udah. Belah berdua aja, sih, Vin.” Usul Gary sambil mengedipkan mata. Melihat kedipan itu, bibir membentuk smirk jahilnya. “Ya, udah sini!” Ravin tiba-tiba menarik pinggang Inara dan berdiri di belakangnya sambil memegang pisau di mana tangan Inara pun berada di sana. “Kita masak bareng aja, Potong dagingnya dari sini ke sini ….” “Wohoooo…!” Marco dan Gary berteriak kegirangan seolah mereka sendirilah yang melakukan skinship tersebut dan Ravin hanya melirik mereka dengan senyuman puas. Di depannya Inara sudah semerah tomat, tidak mampu berkata-kata atau bergerak dengan jantung yang tidak bisa berhenti terus berdetak dengan cepat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD