Happy reading!
-
-
-
'Kenapa pria b******n itu ada disini?'
Melihat kedatanganku, orang tua tiri ku bermuka masam, walau begitu mata ku lebih memandang keberadaan Reithel disini.
Aku meremas gaunku dengan kencang, ada rasa amarah dan muak bercampur menjadi satu di dalam d**a ku.
"Eloise darimana saja kau?! Kenapa kau tidak ke mansion Castillon?!" Ayah bertanya padaku dengan nada tinggi.
Kedua alisku terangkat dengan terkejut, mataku menatap mereka dengan sorot tidak percaya.
Lucu sekali, itu bukanlah pertanyaan yang harus di lontarkan orang tua pada anaknya yang pulang larut dari biasanya.
'Mereka tampak lebih khawatir pada Reithel di banding diriku.'
Walau aku ingin memarahi mereka balik, aku menahannya dan tetap bersikap sopan, bedanya kali ini aku sama sekali tidak menunjukkan kehangatan yang biasa nya dulu ku tunjukkan pada mereka.
Karena nama mereka sudah tercoreng di hati ku.
"Maafkan aku ibu-ayah, aku pulang lebih telat dari biasanya." Ujar ku sembari menyatukan tanganku dan membungkuk sedikit, tanpa menjawab satupun pertanyaan dari ayah tiri ku.
Tentu saja, aku tidak akan memberitahu kemana aku pergi, mereka akan curiga dan mungkin menghalangiku.
Sebenarnya aku ingin juga mencari tahu alasan mereka mengadopsi ku, karena ketika hukuman mati ku pada waktu itu, mereka tidak meneteskan air mata sedikit pun.
Jadi aku ini apa?
"Kenapa kau tidak ke mansion duke Castillon eloise? bukankah kau pergi tadi untuk kesana?" Kali ini ibu tiri ku yang bertanya dengan nada lebih menekan.
Ini benar-benar lucu, kenapa mereka malah lebih terlihat memikirkan b******n ini daripada aku, ini semakin membuat ku yakin mereka tidak memikirkan ku sama sekali.
"Kau karena kau tidak datang, kau membuat duke Castillon khawatir, jangan seperti itu, kau bukan anak kecil lagi." tegas ayah tiri ku lagi.
'Ia sama sekali tidak khawatir!'
Tangan kanan ku memegang siku kiri ku dan mencengkram dengan erat, aku menarik nafas pelan.
"Aku tidak mau...." Ujar ku, tetapi aku yakin mereka mendengar nya.
"Apa maksud mu Eloise, bukan kah senang bersama duke Castillon, kau ingin menikah dengan duke Castillon kan? Kenapa kau bersikap seperti itu?" Tanya ibu tiri ku terkejut.
"Kenapa kalian tidak menanyakan keadaan ku?" Mereka menatap tanya dari pertanyaan yang ku lontarkan.
"Aku pulang lebih larut dari biasanya, kenapa kalian tampak tidak khawatir? bukankah kalian orang tua ku?" Tanya ku sembari mengepalkan tangan menahan sesak di dadaku.
"Kau ini bicara apa eloise! sudah kubilang jangan seperti anak kecil!" Ayah tiri ku meninggikan suaranya, kemudian pria itu bergerak mengarah pada Reithel dan membungkuk sedikit.
"Maafkan aku duke castillon, Eloise Sepertinya tidak dalam keadaan baik hari ini, besok dia akan melakukan kegiatan seperti biasanya, tuan duke tidak perlu khawatir." Ujar ayah tiri ku dengan lembut pada Reithel sembari tersenyum panik.
Aku mengangkat kedua alisku menatap ayahku dengan terkejut kemudian mengarah pada Reithel, tapi pria itu hanya tetap menatapku dengan dingin dan tidak merespon ayah ku.
Aku tersenyum nanar melihatnya, dengan satu tarikan nafas, aku mengeluarkan kalimat itu.
"Aku tidak ingin menikah dengan duke Castillon." Tekan ku, orang tua ku menoleh dan melihat ku dengan sorot terkejut, dan pria bermanik biru muda itu membulatkan matanya menatapku, manik kami bertemu dan aku membalasnya dengan tatapan amarah.
"Eloise apa yang–"
"Aku bilang ingin putus tunangan dari duke Castillon, aku tidak mau menikahinya." Ujar ku dengan menekan dan memotong kalimat ayah tiri ku lalu menoleh ke arahnya.
Ibu-ayah tiri ku menatapku dengan sorot tidak percaya, sedangkan Reithel wajah nya sudah kembali seperti biasa.
Aku bisa melihat betapa marahnya orang tua angkat ku terutama ayahku.
Plakk
Aku di tampar olehnya, aku terkejut dengan apa yang terjadi, tanganku bergerak menyentuh pipiku, dan menatap ayahku.
"Dasar anak tidak tahu diri! Berani nya kau asal memutuskan begitu saja! Apa hak mu melakukan itu! Kau harusnya sadar kalau kau tidak menikah kau tidak akan berguna! Jika kau mengucap hal ini lagi, kau akan ku usir seperti kakak mu!" Ujar ayah tiri ku.
Kalimat yang membuatku terkejut adalah, dia bilang dia mengusir kakak ku.
'Mereka mengusir kakak ku? jadi kakak ku pergi bukan tanpa alasan? merekalah yang membuatnya—'
"Haha..." Aku tertawa pelan dengan getir.
'Ternyata benar, aku benar-benar bodoh sekali, di masa itu lebih mempercayai orang tua ini, dan membenci kakak ku sendiri.'
Aku tertawa kecil.
'Kalau begitu sudah bisa ku tegaskan saat ini juga.'
Aku akan melakukan hal yang sama dengan kakak ku, sudah tidak bisa lagi aku bertahan disini.
Aku masih ingin hidup dan harus hidup di jalan lain.
Karena itu.
"Kalau begitu, marquis Garthside, mulai detik ini, aku bukan lah anak mu lagi, aku keluar dari keluarga Garthside." Ujar ku dengan senyum.
Pria yang dulu menjadi ayah tiri ku tampak marah sekali.
"Dasar gadis gila! PERGI KAU DARI SINI!" Seru pria itu.
Aku membungkuk hormat pada mereka, "Terima kasih atas semuanya." Ujar ku lalu melangkahkan kaki keluar dari mansion itu.
Eloise si putri bangsawan, sudah berakhir.
⬛⚪⬛
Setelah kepergian Eloise, marquis Garthside segera mendekati Reithel.
"Mohon maafkan aku duke Castillon, gadis itu sudah membangkang seperti kakaknya, tapi kau tidak perlu khawatir, saya akan mencari kan gadis lain untuk kami adopsi sebagai pengganti gadis itu, sehingga posisi kau masih tetap akan kuat dan kontrak kita tetap berjalan lalu—"
"Aku tidak pernah bilang kalau aku putus tunangan dengan eloise." Potong reithel, marquis Garthside terkejut.
"A-apa maksud mu duke Castillon?" Tanya marquis, wajah pria itu tampak pucat.
"Eloise keluar dari mansion ini, dan melepas nama Garthside, maka kontrak kita lah yang sudah batal." Ujar Reithel singkat kemudian hendak berjalan pergi.
"Ah tidak, aku mohon tuan duke, jangan batalkan kontraknya." Marquis Garthside memohon pada Reithel, pria itu sudah di depan pintu mansion, ia menatap keluar mansion.
Tidak ada keberadaan eloise.
Terbesit kembali di bayangan Reithel, wajah Eloise yang tampak marah dan sangat sedih, mata merah itu berkaca-kaca.
Dada Reithel terasa sesak mengingat ekspresi Eloise saat itu.
'Ada sesuatu...yang terjadi...'
"Sebastian!" Reithel memanggil asistennya, tidak lama sebastian datang ke hadapan reithel.
"Yang mulia memanggil?"
"Berikan marquis Garthside 100 juta Rudo sebagai ganti rugi pembatalan kontrak." Titah reithel.
"Tunggu Duke castillon saya–"
Sring
Sebastian mengeluarkan pedangnya dan mengarahkan pedang itu pada leher marquis Garthside.
"Perintah duke tidak dapat di ganggu gugat, kecuali kau ingin pergi ke akhirat." Ujar sebastian dengan tajam.
Marquis Garthside terdiam dan langsung melangkah mundur.
"Aku akan mengirimkan uang nya besok." Ujar Sebastian, sedangkan Reithel langsung berjalan menuju kereta kudanya diikuti Sebastian, lalu keduanya pergi meninggalkan marquis Garthside.
"Bagaimana ini?" Marchioness Garthside bertanya dengan sorot panik.
"Sial! Gadis sialan itu menghancurkan semuanya!" Umpat sang marquis, pria itu masuk kedalam mansion.
"Marchel?" Tanya marchioness Garthside.
"Kita besok pergi ke tempat itu, kita akan mencari gadis lain untuk di adopsi dan di nikahkan ke bangsawan yang lebih tinggi."
⬛⚪⬛
Aku sudah keluar dari mansion Garthside, dan ku pikir aku akan pergi ke kota dulu, tetapi.
Aku memeriksa seluruh kantong di gaun ku, aku hanya memiliki tanda pengenal yang di berikan tuan dominic sebelumnya.
"Tidak ada uang sedikit pun." Aku menghela nafas panjang.
'Dimana aku tidur malam ini?'
Ketika aku sedang termenung dengan apa yang ku pikirkan, tiba-tiba ada yang menyentuh bahu ku dengan lembut, aku menoleh dan melihat Rinni yang membawa sebuah tas koper.
"Rinni! Sedang apa kau disini? Kau harus segera kembali." Ucapku terkejut melihatnya.
"Ya aku akan kembali nona, tapi sebelum itu, ini aku telah menaruh beberapa baju dan roti dalam koper ini, dan ini aku punya 20000 Rudo, maafkan aku tidak bisa memberi nona banyak, tapi nona tidak perlu khawatir, besok aku akan ke kota untuk menyusul nona dan mencari tempat tinggal untuk nona, sementara gunakan ini ya nona." jelasnya sembari tersenyum.
Aku terkejut mendengar ucapan rinni, dan juga merasa senang, tetapi aku tidak ingin melibatkan nya kembali seperti waktu itu.
"Terima kasih Rinni aku akan menerima ini semua, tetapi besok kau tidak perlu menyusul." Ujar ku.
"Ta-tapi nona, aku tidak mau nona–"
"Jangan khawatir Rinni, aku akan baik-baik saja, malam ini mungkin aku tidak akan menginap di kota, aku akan pergi ke akademi Violetfay, aku mengenal seseorang di sana, dia pasti akan membantu ku, jadi kau tidak perlu khawatir." Jelas ku.
"Nona Eloise..." Rinni tampak sangat sedih, Aku hanya tersenyum dan bergerak untuk memeluknya.
"Terima kasih atas semuanya Rinni." Ucapku, Rinni membalas pelukan ku dan mengangguk.
Aku melepas pelukannya dan tersenyum padanya, "aku pergi, sampai jumpa Rinni." Aku melambaikan tanganku dan berjalan pergi.
⬛⚪⬛
Untungnya jarak kota dengan mansion Garthside cukup dekat, sehingga tidak butuh waktu lama untuk ke sana.
Setibanya di kota, aku mencari kereta kuda yang dapat di sewa, dan aku menemukan satu.
Ada seorang remaja yang tampak lebih muda dariku ia sedang duduk di kursi kemudi keretanya, kereta kudanya tidak begitu bagus, tapi yang pasti harga sewa nya murah.
"Permisi..." Sapa ku, remaja pria itu langsung berdiri dari duduk nya dan menatap ku dengan berbinar-binar.
"Apa anda ingin menyewa kereta?" Tanya nya, aku mengangguk.
"Harganya berapa?" Tanya ku sembari berdoa itu sesuai dengan uang yang ku punya.
"Hanya 5000 Rudo nona, bagaimana?" Tanya remaja itu.
'Baguslah lebih murah dari dugaan ku.'
"Baiklah aku terima, tolong antar aku ke akademi Violetfay." Ujar ku, remaja itu terdiam.
"Itu cukup jauh..." Ujar nya.
Memang sih.
"Aku akan membayar dua kali lipat." Tawar ku.
"Benarkah?!" Tanya remaja itu, aku mengangguk.
"Baiklah! Silahkan nona!" Remaja itu membuka kan pintu, aku tersenyum, kemudian masuk kedalam kereta.
Seperti dugaan ku kereta ini tidak besar dan nyaman seperti kereta yang biasa dulu ku pakai, tapi tidak apa-apa, aku harus membiasakan diriku.
Aku bisa mendengar remaja itu duduk di kursi kemudian dan menarik tali kekang kudanya.
"Kita berangkat nona!"
-
-
-
To be continued