George menyikat dinding kayu peternakan yang terkena cipratan darah dengan telaten. Suara berisik sikat lantai yang ia gunakan membuat para hewan terbangun. Beberapa ekor sapi melenguh dengan kerasnya. "DIAM!" gertak George kesal. Berbicara kepada hewan adalah sesuatu yang salah. Hewan-hewan itu justru semakin gaduh, mengeluarkan suara-suara yang mengganggu. Pura-pura seakan tak mendengar, George mengusap keringat yang mengalir turun di belakang telinganya. "Fuh, selesai." George menaruh ember besi yang biasa digunakan untuk menampung hasil perahan s**u sapi di pinggir pintu. Sebelumnya, ia memakai ember tersebut untuk mengambil air di sungai, guna menyiram genangan darah yang mengusik mata. Ia lalu berdiri mengamati setiap sudut kandang dengan mata cokelatnya yang tajam. "Sebaiknya

