Sejak Sean tak lagi muncul ke rumahnya, George mulai giat belajar. Setiap ada kesempatan pastilah dia akan meminta siapa pun di dekatnya untuk mengajarinya membaca, karena itu, George banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku saat ia masih berusia kurang dari enam tahun.
Orang tuanya sering membelikan George buku-buku baru yang kadang hanya ditujukan bagi orang dewasa. Di saat anak lain di usianya menghabiskan waktu mereka dengan bermain bersama teman-temannya, George menggunakan waktunya itu untuk belajar.
Itulah awal di mana George mulai kecanduan ilmu pengetahuan dan selalu berusaha keras agar mendapat ilmu baru setiap harinya. Buku apa saja akan ia baca, selama itu berisi pengetahuan yang ia inginkan.
Tak ayal, kerja keras George dalam menggali ilmu membuahkan hasil. Di usia yang tergolong sangat muda yaitu delapan tahun, ia sudah banyak mendapatkan penghargaan atas prestasi maupun lomba-lomba yang ia ikuti.
Ketika benua Amerika yang saat itu tengah mengalami musim gugur, terjadilah sebuah peristiwa mengerikan di sekolah anak tunggal keluarga Owens yang kini kelas dua menengah pertama.
Ada salah seorang siswa laki-laki yang mati terbunuh. Tentu saja semua anak ketakutan ketika melihat mayat salah satu teman mereka yang terbaring bersimbah darah di atas ubin sekolah yang berwarna putih.
George tampak sibuk memperhatikan, seraya menerka-nerka apa yang terjadi. Berdasarkan darah korban yang sudah mengering, dan ada juga genangan yang belum kering, itu berarti pembunuhannya terjadi tak lebih dari 24 jam. Mungkin terjadi setelah pulang sekolah, di saat semua orang telah pulang ke rumah.
Di tengah analisis George, datang orang-orang dari pihak kepolisian. Beberapa anak ditunjuk sebagai saksi mata, termasuk George. Di antara beberapa orang dewasa berseragam polisi, fokus George tertuju pada satu orang. Dia menggunakan mantel panjang berkerah tinggi berwarna abu-abu.
Orang itu tampak begitu jeli memperhatikan tempat kejadian perkara. Tangannya tak berhenti memotret bagian-bagian yang ia rasa penting, dan ketika tak memegang kamera maka ia akan menulis. Lalu ia akan melapor kepada komandannya. Untuk seperkian detik, George menganggap orang itu adalah wartawan.
Selama beberapa hari para penyidik itu memeriksa tempat kejadian, guna mencari tahu bukti dan keterangan lain dari para saksi, selama itu pula George memperhatikan orang yang bertugas menyelidiki penyebab kematian teman satu sekolahnya itu.
George yang diambang rasa penasaran yang memuncak, dengan rasa ingin tahunya berjalan menghampiri. Menurut kepala polisi yang memimpin, hari itu adalah hari terakhir mereka melakukan penyelidikan di sana. Setelahnya mereka akan mencaritahu lagi berdasarkan hasil visum korban. Pelaku pembunuhan masih terus diselidiki.
"Permisi." George memanggil polisi yang ia perhatikan itu dengan sopan. Melihat dari potongan wajah dan penampilannya, selisih usia George dan polisi tersebut cukup jauh. Polisi itu lalu menoleh dan menatap George.
"Ya?"
"Apa yang Bapak lakukan dengan catatan-catatan itu?" George tersenyum, memusatkan perhatiannya pada catatan yang dibuat oleh sang polisi. "Pekerjaan Bapak apa?"
Polisi itu tersenyum tipis, "Saya seorang detektif, yang bekerja di kepolisian."
George berdecak kagum. Jadi selama ini, George penasaran dengan laki-laki tersebut karena merasa pekerjaan yang dilakukan olehnya keren sekali. Ia merasa seperti menemukan hal baru yang harus ia gali lebih dalam lagi. "Terima kasih, Pak."
"Sama-sama."

Beberapa minggu menjelang ujian sekolah, George tampak memikirkan sesuatu. Ia terus mengingat apa saja yang dilakukan oleh sang detektif. Ia sudah mencari banyak sumber mengenai hal-hal memecahkan kasus seperti yang dilakukan oleh sang detektif. Dan George menjadi sangat tertarik.
Setelah polisi-polisi tersebut pergi dari sekolahnya, George mengikuti perkembangan dari kasus itu. Setelah beberapa lama akhirnya terkuak juga siapa pembunuhnya yang ternyata adalah satpam sekolah mereka yang menaruh dendam terhadap orang tua anak itu. Dan George semakin kagum saja dengan kinerja detektif kepolisian.
**
Beberapa hari sebelum halloween, entah dengan alasan apa George membawa Kaneki ke sekolah, laba-laba berukuran sedang milik ayahnya yang selalu disimpan dalam kandang khusus.

Kaneki adalah jenis laba-laba pasir mata enam atau sicarius hahni yang habitatnya hanya ada di padang pasir Afrika Selatan. Tak ada seorangpun yang tahu itu adalah hewan impor dari luar negeri yang dimiliki oleh keluarga George.
"Kaneki, tunggu aku sebelum pertunjukan." George pun pergi meninggalkan tasnya beserta Kaneki di dalam.
Pada pelajaran olahraga, semua siswa-siswi berkumpul di lapangan, kecuali seorang anak perempuan yang tidak bisa mengikuti pelajaran karena sebuah alasan.
"AAAAAAAAAAAHHHHH!"
Tiba-tiba di tengah pemberian materi, tepat setelah 20 menit waktu berlalu, terdengar teriakan keras yang berasal dari gedung sekolah, tepatnya dari kelas 2A, kelasnya George.
"Semuanya, cepat kembali ke kelas!"
Semua siswa berlari dengan cepat menuju ke sana. Teriakan nyaring itu telah menarik banyak anak-anak untuk berkumpul di depan pintu kelas. Seorang siswa yang berasal dari kelas 2A, sampai terlebih dahulu di sana. Ia lantas membuka pintu, dan langsung diam terpaku, menyaksikan pemandangan di depannya.
"Ada apa? Ada apa?"
Mereka berdesak-desakan memasuki kelas, selepas memasuki ruangan, tak ayal beberapa dari siswi-siswi menjerit melihatnya. Guru olahraga yang baru tiba di lokasi kejadian langsung panik. "Astaga, mengapa ini bisa terjadi...."
Guru laki-laki itu seketika menghadang siswa-siswinya untuk melihat lebih jauh lagi. "Di mana ketua kelas?! Panggil AMBULANS CEPAT!"
Di tengah kepanikan orang-orang, George yang datang paling akhir bersama salah seorang temannya melihat pemandangan mengerikan di kelas mereka, seorang siswi dari kelasnya tergeletak dengan mulut berbusa dan wajah yang berubah ungu terbujur kaku di lantai. George tak dapat berkata-kata.
"Astaga! Apa yang terjadi?" pertanyaan serupa terlontar begitu saja dari teman George. "Mengerikan sekali!"
George hanya mengangguk.
Terlihat oleh putra tunggal keluarga Owens itu guru olahraganya yang masih sibuk mengoordinasikan ketua kelasnya. "Cepat panggil pihak KEPOLISIAN! Ini semua harus diselidiki!"
Begitu mendengar hal itu, diam-diam George menyeringai kecil di antara keributan yang terjadi di kelasnya. "Kerja bagus, Kaneki. Orang itu akan segera kembali ke sini."