Sarapan pagi ini terasa canggung. Presdir memakan roti bakar dengan selai nanas, sementara aku terasa sangat berat menelan roti yang sudah aku olesi selai coklat. Dua mahluk tampan di hadapanku ini sama-sama keras kepala, tidak bisa dibayangkan bagaimana kehidupan mereka sebelum aku datang. Sekalipun saling menyayangi sebagai saudara tetapi kelihatan sangat dingin satu sama lain atau mereka memang tidak memiliki ekspresi. "Okis, Mbak boleh nitip buat Ran nggak?" Cowok berseragam SMA di hadapanku mengalihkan pandangannya dari roti. "Ran siapa, Mbak?" tanyanya sembari makan rotinya lagi. "Kirana Putri Nandia, kelas sebelas IPA 1." Okis menggeleng, tanda tak mengerti. Padahal setahuku Ran termasuk anak berprestasi. Aku yakin dia terkenal di sekolah. "Dia ketua OSIS di sekolahmu, m

