Memutar kursinya ke kanan, tapat di samping alat printer. Okis mangambil lambaran kertas yang baru saja dicetak. Tersenyum puas dengan hasil soal ujian tengah semester yang dia hack dari wali kelasnya.
"Kis, lo nggak penasaran sama kakak ipar, lo?" tanya Eris sembari menggeser kursinya ke samping Okis.
Menyedot cappucino yang ada di tangan, gadis cantik itu menyandarkan punggungnya ke kursi. Masih menunggu Okis bersuara tentang pernikahan kakaknya yang kontroversial. Berita pernikahan mereka menghebohkan seluruh media massa sejak pagi tadi.
"Coba lo cari tahu soal dia. Hari ini gue harus balik ke rumah."
Akhirnya Okis mengeluarkan rasa penasarannya. Padahal baru tadi pagi pengumuman itu dibuat, tetapi sampai sekarang Okis masih tak percaya kenapa kakaknya bisa menikah dengan gadis yang menurutnya tak pantas menyandang status nyonya Surya Diningrat.
"Oke. Ken, Marko. Saatnya jiwa stalk kita bekerja."
Ken yang masih memainkan PUBG akhirnya melepas headset dan keluar dari permainan. Cowok cakep anak pejabat yang jarang bicara itu patut diacungi jempol soal keahliannya dalam cryber crime. Pentolan kedua dalam tim Naga Bonar setelah Okis.
Sementara itu Marko sudah menjelajahi twitter dan mencari tahu tentang Rimay. Kecepatannya mengetik menimbulkan suara, matanya fokus menjelajahi dunia maya.
Berjalan meninggalkan kursi, membuka horden apartemen di lantai 50 itu. Okis masih tak habis pikir bagaimana ini semua bisa terjadi. Bukan tidak peduli dengan kakaknya. Tetapi sejak Ravin mengalami penculikan dan kecelakaan hingga trauma berat, Sang Mama trus berada di samping Ravin. Ia sangat membenci Mamanya yang telah meninggalkan dia sejak kecil untuk menikah lagi. Takut tak bisa menahan emosi, Okis putuskan untuk pergi dari rumah sampai sang Mama pergi.
Merasa tak berguna untuk sang kakak, padahal selama ini sang kakak sudah berjuang mati-matian untuk melindunginya dari didikan keras sang Papa. Tetapi di saat kakaknya kesulitan dia tidak bisa melakukan apapun. Dia terus merutuki dirinya sendiri.
"Kis, udah lengkap. Coba lo liat," panggil Eris sembari melambaikan tangan.
Berjalan cepat dan duduk di kursinya lagi. Cowok berusia tujuh belas tahun itu membaca profil Rimay dengan cepat.
"Nggak ada yang spesial, dia cuma mahasiswi Universitas Gunadarma jurusan sastra inggris." Okis membaca sekilas.
Menggeser kursi supaya Okis menyingkir dari komputernya, gadis itu mengetik beberapa kali.
"Dia pendiri komunitas rumah berbagi. Anggotanya ratusan ribu dari berbagai penjuru wilayah. Pengaruhnya juga sangat kuat di masyarakat." Eris menjelaskan apa yang dia temukan.
Kenzi mengambil cappucinonya, berhenti mengetik. Kali ini dia membacakan temuannya. "Fans dia juga sangat banyak, tapi anehnya dia tidak memiliki satupun sosmed. Gue nemuin 32 fanspage. Isinya tentang kebaikan dia dan kegiatan yang tercetus atas idenya."
"Jaman sekarang nggak punya sosmed? Dia manusia purba?" pertanyaan dari Okis membuat Kenzi mengetik lagi, mencoba mencari sesuatu lebih rinci.
"Eh, ternyata Ran salah satu admin fanspage," lanjut Ken. Menemukan sesuatu yang menarik.
"Ran? Kayak pernah denger."
"Jangan bilang lo nggak kenal Ran?" kali ini Ken menatap Okis.
"Siapa sih Ran?"
"Kirana Putri Nandia. Ketua OSIS kita, walaupun lo jarang masuk sekolah seenggaknya tahulah sama ketua OSIS sendiri." Ken nampak kesal. Bagaimana mungkin Okis tidak kenal gadis paling pintar, cerewet dan populer seperti Ran? Temannya itu benar-benar keterlaluan.
"Penting ya gue kenal?" Mengambil cappucinonya lagi, menyedot dengan kuat hingga tinggal es batu.
"Balik lagi ke kakak ipar lo. Dalam akademik nilainya pas-pasan banget, gue retas nilai dia, emang nggak ada yang spesial. Tapi ajudannya sangat cerdas. Namanya Han Ji Ho, julukannya Ajudan Rimay. Ketua komunitas rumah berbagi, dia jadi ketua OSIS di SMP dan SMA. Sekarang pun jadi ketua BEM." Kali ini Marko yang bersuara.
"Han Ji Ho? Dia orang Korea?" tanya Okis penasaran.
"Ayahnya orang Korea, tapi ibunya orang Indo. Dilihat dari alamat rumah sepertinya dia tetangga kakak ipar lo." Marko mengambil cappucino di samping komputer. Menyedotnya dengan kuat hingga rasa dingin masuk ke tenggorokan.
"Gue nemuin nih, bucinnya Rimay, namanya Viola. Banyak komenan cowok yang nyalahin si Vio ini mengenai pernikahan Rimay sama Kakak lo." Eris mensecrol ke bawah. Layar komputer tak menghalangi matanya dalam memindai dalam kecepatan tinggi.
Okis meletakkan cappucino di depan komputer miliknya. "Apa hubungannya sama si Vio?"
"Di sini mereka nyalahin Vio karena si Vio ini selalu ngehalangin Rimay buat didekatin cowok. Kayaknya sih mereka dendam."
Menggeser kursi di dekat Eris, mengamati satu persatu komentar.
Coba kalau Rimay jadian sama aku, nggak bakal dia nikah sama mahluk jahat.
Sekarang Vio pasti nyesel, dia overprotektif dan berharap Rimay dapet cowok sempurna. Endingnya malah Rimay sama mahluk jahat
Aku juga nggak habis pikir kenapa Rimay bisa nikah sama mahluk jahat?
Yakin aja. Palingan dia diancem. Rimay kan terlalu baik.
Holang kaya mah bebas. Cuma aku kasihan sama Rimay.
"Mahluk jahat yang mereka maksud adalah kakak gue?" terlihat kesal. Okis tak ingin melanjutkan membaca komentar yang ada di i********: fanspage Rimay.
"Yaps. Panggilan kakak lo di masyarakat kan mahluk jahat." Eris mengatakan itu tanpa sadar ucapannya membuat Okis ingin memakannya bulat-bulat.
Hanya memicingkan mata pada Eris yang tak peka sama sekali. Cowok itu berdiri, merapikan seragam SMA nya kemudian berjalan mengambil tas yang berada di sofa.
"Ris, lo harus urus tuh orang-orang yang jelekin kakak gue. Gue cabut duluan."
Hanya dibalas lambaian tangan dari tim Naga Bonar, hacker yang dicari-cari cyber crime polri. Okisena, Kenzi, Marko dan Eris berteman sejak kecil dan memutuskan melakukan kejahatan dunia maya yang meraka anggap menyenangkan. Tak hanya meretas data sekolah untuk mencuri kunci jawaban tetapi mereka juga pernah membobol aplikasi besar seperti f*******: dan w******p.
Nama peretas dengan ID Naga Bonar menjadi hacker yang paling dicari saat ini, tak hanya Cryber crime polri nasional tetapi juga internasional ikut kewalahan. Sejak tiga tahun terakhir hasilnya tetap sama. Tak ada yang tahu siapa sebenarnya orang-orang dibalik nama Naga Bonar.
Taxi melaju ke kawasan Pondok Indah. Perumahan mewah yang dikenal sebagai Beverly Hills Indonesia. Rumah utama keluarga Surya Diningrat yang sekarang hanya dihuni dirinya dan sang kakak.
Berdiri di depan gerbang hitam nan tinggi, melambaikan tangan ke CCTV. Gerbang langsung dibuka otomatis oleh pihak keamanan.
"Tuan muda ... sudah lama anda tidak pulang. Nyonya Yumna sangat khawatir." Sambut Sabihis sebagai kepala pelayan yang paling setia melayani keluarga ini turun temurun.
Berhenti di ruang tengah, melirik ke kolam renang. Ada wanita yang baru saja dia bicarakan dengan teman-temannya sedang mengobrol dengan Sang Kakak.
"Sampai kapan wanita itu tinggal di sini?" tanya Okis sembari menunjuk Rimay.
Diam, awalnya pria tua itu ragu menjawab. Tetapi Rimay sudah bicara panjang lebar padanya. Gadis itu memohon untuk dibantu keluar dari pernikahan yang tidak dia inginkan ini. Tetapi apa mau dikata, Sabihis tak ada hak apapun untuk ikut campur urusan keluarga majikannya.
"Nyonya Rimay di sini sampai batas yang tidak ditentukan."
Bibir Okis memicing ke atas, matanya tajam melirik Sabihis. Itu bukan jawaban yang ingin dia dengar. Lebih tepatnya dia benci jika hal itu benar.
Melempar tas sekolah ke pelayan. Okis berjalan cepat menuju kolam renang. Ingin langsung memaki sang kakak ipar yang umurnya hanya tiga tahun di atasnya, dia ingin wanita itu cepat keluar dari rumah ini.
Bersambung.