Sebelumnya aku tidak pernah membayangkan menjadi ibu sambung, sifatku yang kekanakan tidak mendukung untuk hal itu. Aku sering seenaknya sendiri hingga membuat orang lain repot. Bisa dibilang mengurus diri sendiri saja belum bisa, mana mungkin mengurus anak yang bukan darah dagingku. Namun, usiaku yang sudah menginjak 25 tahun berkata lain. Sifat keibuanku muncul dengan sendirinya, aku menjadi semakin dewasa tanpa diminta. "Jangan mainan kacoa, kotor." Aku mengambil kecoa yang sedang dipegang Verel, batita itu protes dengan bibirnya yang cemberut. Aku segera membunuh kecoa malang itu supaya tidak dipereteli. Biasanya Verel akan mengambil hewan kecil dan mencincangnya perlahan, jiwa psikopatnya menurun dari Presdir. "Ma, oa ati." "Iya kecoanya mati," jawabku. Menunjukkan kecoa

