Pesugihan dan Shalat

1049 Words

Lampu menyala terang, waktu menunjukkan jam dua belas malam. Aku duduk berhadapan dengan Presdir di sofa berwarna putih nan halus ini. Tak berani melihat dia, ekspresi Presdir kembali menakutkan seperti dulu, ketika pertama kali bertemu di kantor penerbit. Tak bisa berhenti meremas tangan, aku sangat gugup. Pertanyaan terus berputar di kepala, bagaimana cara keluar dari situasi ini? Selain dibunuh ada satu hal yang juga sama menakutkannya, yakni ditagih uang Presdir yang sudah kugunakan. "Jadi, apakah kau sudah memikirkan mau mati dengan cara apa?" tanya Presdir. Mataku menatapnya, dia masih memasang ekspresi dingin dengan melipat tangan di d**a. Tampan. Kenapa di ujung kematianku seperti ini masih mengganggap dia sangat tampan. Otak! Kumohon bekerjalah dan jangan tertipu dengan waja

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD