Es Cendol

1039 Words

Rasanya panas, kepala pusing dan mata berat untuk terbuka. Setelah solat subuh aku benar-benar ambruk. Hanya mendengar samar-samar percakapan antara dokter, Pak Sabihis dan presdir. Badan menggigil, tak memperdulikan mereka yang berada di sekitar. "Dek, makan dulu habis itu minum obat." Aroma sup jagung tercium jelas, walau terlihat enak aku tidak nafsu makan. Perlahan aku menggelengkan kepala, tak ingin makan. Lidahku rasanya pahit dan tenggorokanku tidak nyaman. "Ayo makan. Mas sedih kalau Adek sakit seperti ini." Presdir sangat perhatian, jauh dari perkiraan. Apakah dia sudah menganggap aku manusia bukan boneka kesayangan seperti yang dokter Valerie katakan waktu itu? Ntah kenapa sekarang aku menjadi berharap. Oh, ya Allah wajah tampan itu cemberut dan terlihat sedih. Kasihan se

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD